Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Merayakan Transisi, Meneguhkan Intelektualitas
Gagasan

Merayakan Transisi, Meneguhkan Intelektualitas

By Redaksi4 Agustus 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
STIPAR Ende) menggelar Ekaristi Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) tahun akademik 2025–2026.
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
Dosen Stipar Ende

Di tengah semilir angin kota Ende dan semangat kemerdekaan yang mulai terasa di udara, Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende (Stipar Ende) menggelar Ekaristi Pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) tahun akademik 2025–2026.

Dua program studi, Pendidikan Keagamaan Katolik dan Konseling Pastoral, menjadi ruang awal bagi para mahasiswa baru untuk memulai perjalanan intelektual dan spiritual mereka.

Ekaristi yang berlangsung khidmat dipimpin oleh Ketua Stipar Ende, Dr. Fransiskus Z. M. Deidhae, M.A, didampingi Wakil Ketua I Dr. Josef Aurelius Woi Bule, Ketua Prodi PKK Yohanes Don Bosco Bodho, Lic., dan Ketua Prodi KP Yohanes Fransiskus Siku Jata, Lic. Hadir pula para dosen dan tenaga kependidikan, menyambut generasi baru yang diharapkan menjadi pewarta harapan di tengah masyarakat yang kompleks.

Dalam homilinya, Dr. Fransiskus menyentuh sisi terdalam psikologi mahasiswa baru. “Ada yang berjuang hanya untuk diri sendiri, tidak mampu berbagi, itulah yang membuat mereka cepat jatuh. Maka marilah kita menjadi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mampu membagikan pengetahuan dan semangat kepada sesama,” ujarnya.

Ia mengajak para mahasiswa untuk move on dari kehidupan lama, dan berani melangkah ke kehidupan baru yang lebih bermakna.

Gagasan Dr. Fransiskus dalam homilinya, yang mengajak mahasiswa baru untuk move on dari kehidupan lama dan berani melangkah ke kehidupan baru yang lebih bermakna, sejalan dengan gagasan yang dikembangkan dalam psikologi perkembangan dan pendidikan.

Pemikir terkenal seperti Lev Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menekankan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif melalui teorinya tentang Zone of Proximal Development (ZPD). Vygotsky menyatakan bahwa “What a child can do in cooperation today, he can do alone tomorrow,” yang berarti bahwa kemampuan seseorang berkembang melalui kolaborasi dan dukungan sosial.

Dalam konteks mahasiswa baru, mereka tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan untuk berbagi pengetahuan dan semangat dengan sesama agar dapat tumbuh secara utuh.

Senada dengan itu, Albert Bandura, tokoh psikologi sosial dan pembelajaran, melalui teorinya tentang Social Learning, menegaskan bahwa “Most human behavior is learned observationally through modeling.”

Mahasiswa yang aktif berbagi dan menjadi teladan bagi rekan-rekannya turut menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan bermakna.

Maka, ajakan Dr. Fransiskus bukan sekadar nasihat moral, melainkan seruan yang berakar pada pemikiran ilmiah tentang pentingnya relasi sosial, pembentukan karakter, dan transisi psikologis yang sehat dalam dunia pendidikan tinggi.

Senada dengan itu, John Dewey, filsuf pendidikan terkemuka, menyatakan bahwa “Education is not preparation for life; education is life itself.” Bagi Dewey, pendidikan yang bermakna adalah yang mendorong mahasiswa untuk aktif berpikir, bertanya, dan terlibat dalam kehidupan sosial secara reflektif.

Dalam konteks ini, mahasiswa bukan hanya penerima pengetahuan, tetapi agen perubahan yang dibentuk melalui proses intelektual yang mendalam dan berkelanjutan.

Maka, pengembangan intelektualitas bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan fondasi bagi lahirnya generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dengan keberanian berpikir dan ketajaman nurani.

Dengan semangat Ekaristi yang menghidupkan dan refleksi mendalam dari para pemimpin STIPAR Ende, PK2MB bukan sekadar seremoni pembuka, melainkan sebuah pernyataan iman dan harapan: bahwa pendidikan pastoral adalah ziarah menuju pembaruan diri dan pemulihan dunia.

Di ruang ini, mahasiswa tidak hanya dibentuk untuk memahami, tetapi untuk menyinari; tidak sekadar belajar, tetapi menjadi pelita bagi zaman yang haus akan arah dan makna. Dari Stipar Ende, terang itu dinyalakan—untuk dunia yang menanti cahaya.***

Anselmus Dore Woho Atasoge
Previous ArticleDinkes Manggarai Timur Catat Penurunan Kasus HIV, Risiko Penyebaran Masih Tinggi
Next Article Heri Baben Gabung NasDem: Alasan Pindah Partai untuk Masa Depan Lebih Luas

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.