Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana
Kemerdekaan adalah salah satu khasanah kata atau istilah yang hampir selalu hadir dan digunakan dalam tata pergaulan kita di tengan masyarakat setiap hari. Meski demikian, ketika kita disuguhkan dengan sebuah pertanyaan informatif, Apa itu kemerdekaan? Maka jawaban yang diberikan niscaya beragam.
Keberagaman jawaban atas pertanyaan itu terjadi kata atau istilah kemerdekaan memang dapat diartikan berbeda sesuai kekhususan konteks yang melatari kehadiran dan penggunaannya.
Tulisan ini menyingkap sekilas pandangan Kang Dedi Mulyadi yang akrab disapa dengan singkatan KDM sebagai Gubernur Provinsi Jawa Barat tentang makna kemerdekaan yang disampaikan melalui pidato politiknya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-80.
Meskipun kelompok sasaran sebagai pihak penerima pesan komunikasi melalui pidato politiknya itu adalah masyarakat Jawa Barat, pandangan KDM tentang makna kemerdekaan bertalian erat dengan tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia secara keseluruhan akan tatanan kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera, sesuai yang tertera dan termaktub dalam UUD 1945.
Sebagaimana disinyalir melaui teks pidato politik KDM, kemerdekaan bukan sekedar khasanah konsep yang bertujuan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari kungkungan penjajahan yang sudah berlangsung selama sekian abad.
Sesuai konteks yang melatari kehadiran dan penggunaannya, menurut KDM, kemerdekaan dimaknai sebagai jalan menuju kemajuan, jalan menuju kedaulatan, dan jalan menuju keadilan.
Kristalisasi makna kemerdekaan itu semakin dipertegas lagi dengan pandangan lanjutannya yang menyatakan hanya manusia merdeka yang bisa menikmat hidup bahagia.
Pemaknaan kata atau istilah kemerdekaan yang dikemukakan KDM dalam pidato politiknya itu bukan sekedar pemanis bahasa berupa penggunaan perangkat retorika melalui diksi atau pilihan kata agar pidato politik yang dikumandangkannya dengan alunan suara bernada lantang itu mengandung keindahan bentuk dalam struktur mukaan yang mengundang kenikmatan inderawi ketika disimak.
Pemaknaan KDM tentang kemerdekaan sebagai jalan menuju kemajuan, jalan menuju kedaulatan, dan jalan menuju keadilan dilatari pada realitas faktual yang meronai situasi dan kondisi kehidupan sebagaian besar warga masyarakat Jawa Barat yang masih terkungkung dalam berbagai kerangkeng ketertinggalan.
Selain masih terkungkung dalam kerangkeng ketertinggalan mengenyam kemajuan, mereka juga masih terkungkung dalam kerangkeng ketertinggalan menikmati kedaulatan dan kerangkeng ketertinggalan merasakan keadilan.
Karena itu, dengan merujuk pada realitas faktual berkenaan dengan beberapa kerangkeng ketertinggalan itu sebagai basis argumentasi, tidak heran jika KDM berani melakukan gebrakan kebijakan publik yang fenomenal dan rada kontroversial dalam tataran tertentu jika tidak dicermati secara saksama arah yang menjadi tujuan dan muara yang ingin dicapai.
Terlepas dari adanya silang pandangan dan sengketa pendapat sebagian kalangan, gebrakan kebijakan publik yang digagas KDM dilatari pada rasa cinta dan kasih terhadap sesama manusia.
Karena itu, tidak heran jika KDM sering mengocek pundi-pundinya sendiri untuk menunjang kelancaran proses dan mekanisme pelaksanaan programnya.
Semua itu dilakukan KDM secara sadar dan penuh rasa tanggung jawab demi meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat banyak dan rakyat kebanyakan di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat yang dinakodainya.
Lagi-lagi, semua itu merupakan manifestasi dalam tataran operasional akan makna kemerdekaan sebagai jalan menuju kemajuan, jalan menuju kedaulatan, dan jalan menuju keadilan yang dikumandangkan KDM dalam pidato politiknya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-80.
Semoga kita bisa belajar dari gaya kepemimpinan KDM jika kita ditunjuk dan dipercayakan menjadi pemimpin publik dengan selalu berupaya melalui berbagai bentuk dan cara mengedepankan kepentingan rakyat banyak dan rakyat kebanyakan dari pada kepentingan sendiri dan keluarga.
Meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita bisa mencobanya mulai dari hal-hal kecil karena kecil itu indah, sebagaimana kata pepatah Inggris, Small is beautiful.

