Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana
Imperialisme linguistik, khususnya imperialisme linguistik bahasa Inggris, adalah salah satu fenomena sosial yang menunjukkan kehadiran suatu bentuk kolonialisme baru yang merasuki berbagai rusuk kehidupan masyarakat dunia, tidak terkecuali masyarakat Indonesia.
Seperti tersurat dari judulnya, tulisan ini mengulas sekilas tentang imperialisme linguistik bahasa Inggris dan implikasinya dalam ranah keluarga masyarakat Indonesia dengan referensi khusus pada ranah keluarga masyarakat Manggarai.
Imperialisme Linguistik
Imperialisme linguistik adalah fenomena sosial yang bergayut dengan dominasi satu bahasa atas bahasa lain.
Bahasa lain yang menjadi bahasa sasaran imperalisme linguistik adalah bahasa lokal atau bahasa daerah yang dalam konteks analisis linguistik komparatif dipetakan sebagai bahasa minoritas.
Meluasnya fenomena sosial imperialisme linguistik sering dikaitkan dengan proses sejarah kolonialisme dan globalisasi yang mempromosikan bahasa dominan sebagai lingua franca.
Sebagai dampak lebih lanjut, status dan penggunaan bahasa-bahasa lokal yang termasuk dalam kelompok bahasa minoritas, cepat atau lambat, mengalami peminggiran yang pada akhirnya bermuara pada kepunahan.
Bertalian dengan semakin mendunianya fenomena sosial imperialisme linguistik, Robert Philipson (1992) dalam sebuah monografnya, ‘Linguistic Imperialism’, mengupas fenomena sosial imperialisme linguistik bahasa Inggris sebagai salah satu contoh paling mengemuka yang mewarnai berbagai ranah kehidupan masyarakat di seluruh penjuru dunia.
Tambahan dominasi bahasa Inggris tidak hanya menyentuh bidang ekonomi, politik, dan ideologi, tetapi juga merengkuh bidang kebudayaan sebagai pemarkah identitas yang mewadahi pandangan dunia suatu masyarakat yang manifestasinya tercemin dalam bahasa yang mereka gunakan sebagai jendela dunia dan jendela pikiran.
Fenomena sosial imperialisme linguistik bahasa Inggris disinyalir sebagai salah satu residu dari proses sejarah kolonialisme pada masa silam yang bergayut secara berkelanjutan dengan kehadiran globalisasi sebagai dampak kepesatan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Penobatan bahasa Inggris sebagai lingua franca global, meskipun proses dan mekanisme penobatannya tidak bersifat formal, mendongkrak dominasi bahasa Inggris atas bahasa-bahasa lain, khususnya bahasa-bahasa lokal atau bahasa-bahasa minoritas, yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
Dominasi bahasa Inggris terus menjamur dari waktu ke waktu menggerogoti berbagai ranah kehidupan masyarakat di dunia, tidak terkecuali dalam ranah keluarga. Karena itu, sebagian kalangan berpendapat bahwa imperialisme linguistik bahasa Inggris dapat diidentifikasi sebagai suatu bentuk kolonialisme baru yang merasuki secara halus berbagai ranah kehidupan masyarakat dunia.
Implikasi dalam Ranah Keluarga Masyarakat Indonesia
Sebagaimana halnya dengan masyarakat di belahan lain dunia, masyarakat Indonesia tidak imun dari sentuhan dan rengkuhan imperialisme linguistik bahasa Inggris dalam berbagai ranah kehidupannya.
Manifestasi imperialisme linguistik bahasa Inggris yang menyentuh dan merengkuh ranah kehidupan masyarakat di Indonesia dapat disaksikan dalam penamaan atau pemberian nama entitas tersentu sebagai pemarkah identitas diri.
Ketika Soeharto masih berkuasa, memang sempat dikeluarkan larangan pemberian nama perusahaan di Indonesia dengan menggunakan bahasa asing, termasuk bahasa Inggris. Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu dan perubahan dunia, larangan itu pupus di tengah jalan dan penggunaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, dalam penamaan perusahaan semakin menggurita lagi sekarang ini.
Terlepas dari beberapa ranah yang lain, fenomena sosial imperialisme linguistik bahasa Inggris dalam tautan dengan penggunaannya sebagai pemarkah identitas diri dapat disaksikan secara khusus dalam ranah keluarga, sebagaimana tercermin dalam penamaan atau pemberian nama hewan peliharaan. Jenis hewan peliharaan yang banyak disentuh pengaruh fenomena sosial imperialism bahasa Inggris adalah anjing.
Menelusuri jejak sejarah masa lalu, nama anjing sebagai salah satu jenis hewan peliharaan dalam ranah keluarga menggunakan bahasa lokal atau bahasa daerah.
Latar penamaan itu mengikuti kebiasaan yang sudah berlaku secara mentradisi sejak dari leluhur setiap masyarakat dengan menggunakan sumber daya ekolinguistik di sekitar sebagai sumber rujukan penamaan.
Akan tetapi, pada masa sekarang, nama anjing sebagai hewan peliharaan sudah banyak diganti dengan menggunakan kosakata bahasa Inggris.
Basis argumentasi sebagai latar pikir yang mendasari penggunaan kosakata bahasa Inggris adalah agar terasa lebih keren ketika disimak dan pemiliknya tidak dikatakan ketinggalan jaman karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional.
Sesuai kebiasaan yang berlaku secara mentradisi sejak leluhur masyarakat Manggarai di Flores, misalnya, anjing yang mereka pelihara diberi nama sesuai warna bulunya.
Anjing berbulu hitam diberi nama Mane dalam bahasa Manggarai yang merujuk pada kepekatan suasana senja atau malam yang gelap.
Anjing berbulu putih disemat dengan nama Kampas dalam bahasa Manggarai karena dipandang berpadanan dengan putihnya warna kapas. Anjing berbulu coklat diberi nama Mbako dalam bahasa Manggarai karena bertalian dengan warna coklat tembakau setelah dijemur selama beberapa hari.
Penamaan semacam berkaitan erat dengan situasi ekolinguistik sekitar yang menunjukkan adanya hubungan antara bahasa dan lingkungan.
Sesuai realitas faktual yang ditemukan dalam ranah kehidupan keluarga masyarakat Manggarai pada masa sekarang, penggunaan kosakata bernuansa lokal bahasa Manggarai dalam penamaan atau pemberian nama anjing mengalami peminggiran karena sudah didominasi dengan penggunaan kosakata bahasa Inggris.
Semisal, anjing berbulu hitam yang sebelumnya diberi nama Mane diganti dengan ‘Blacky’, anjing berbulu putih yang sebelumnya diberi nama Kampas berubah menjadi ‘White’, dan anjing berbulu coklat yang sebelumnya diberi nama Mbako kini diganti dengan ‘Brown’.
Suatu fenomena menarik yang ditemukan dalam konteks kehidupan masyarakat Manggarai, perubahan nama anjing dari bahasa Manggarai ke dalam bahasa Inggris tidak hanya terjadi pada masyarakat yang berdomisili di wilayah perkotaan, tetapi juga pada masyarakat di wilayah pedesaan yang masih jauh dari sentuhan kemajuan.
Menengarai soal perubahan dalam hal penamaan anjing dari bahasa Manggarai ke dalam bahasa Inggris, seorang sejawat penulis sempat berkomentar, bukan cuma orang Manggarai yang ‘go global’ sekarang ini, tetapi hewan peliharaan mereka khususnya anjing juga sudah diarak ‘go global’.
Komentar itu tentu bukan sekadar ironi, tetapi merupakan suatu kenyataan yang menunjukkan fenomena sosial imperialisme sudah menggerogoti ranah kehidupan keluarga masyarakat Manggarai.
Fenomena perubahan penamaan anjing yang terjadi dalam ranah kehidupan masyarakat Manggarai adalah salah satu evidensi linguistik yang menggambarkan orang Manggarai cenderung mengalami ‘demanggaraisasi’ (orang Manggarai tidak merasa diri sebagai orang Manggarai meski masih hidup dalam rahim budaya Manggarai) ditilik dari perspektif linguistik terapan yang salah satu pokok bahasan adalah imperialisme linguistik yang mengedepankan imperalisme linguistik bahasa Inggris sebagai contoh utama.
Meskipun masyarakat Manggarai, sebagaimana halnya dengan masyarakat yang lain, berada di persimpangan jalan dalam menyikapi pengaruh imperialisme linguistik bahasa Inggris, salah satu ancangan alternatif dalam kerangka remanggaraisasi (pengembalian citra diri orang Manggarai sebagai orang Manggarai) melalui lensa bahasa, pepatah bahasa Inggris Love me, love my little dog ‘Cintailah saya, cintailah anjing kecilku’ dapat dijadikan sebagai sebuah titian kiprah dalam menyikapi fenomena imperialisme linguistik bahasa Inggris yang menggerogoti ranah keluarga masyarakat Manggarai.
Sesuai konteks yang melatari penggunaan, pepatah tersebut dapat dimaknai sebagai suatu ajakan bagi orang Manggarai untuk mencintai Mangggarai dengan segala kelebihan dan kekurangannya, termasuk mencintai bahasa Manggarai sebagai lambang identitas diri sebagai orang Manggarai.
Mengapa penting? Karena tidak ada bahasa yang dipandang superior dari bahasa yang lain dan, demikian pula sebaliknya, tidak ada bahasa yang dipandang inferior dari bahasa yang lain. Semua bahasa, termasuk bahasa Manggarai, memiliki harkat dan martabat yang sama.
Pungkas kata, kalau bukan orang Manggarai, siapa lagi yang diharapkan melakukan upaya remanggaraisasi sebagai manifestasi rasa cinta pada Manggarai dengan berbagai produk dan praktek budaya warisan leluhurnya, termasuk bahasa Manggarai sebagai jendela pikiran orang Manggarai dalam memandang dan memahami dunia. Semoga.

