Mbay, VoxNTT.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara resmi mulai diterapkan di Kabupaten Nagekeo, Senin, 25 Agustus 2025.
Kegiatan perdana ini dilaksanakan di Kecamatan Wolowae di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional bekerja sama dengan Yayasan Alphard Graha Titian Harapan.
Pada tahap awal, penyaluran MBG ditargetkan menyasar kepada 18 sekolah di Kecamatan Wolowae, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA/SMK, dengan total 1.079 ompreng makanan.
Launching perdana ini dihadiri dua Wakil Ketua DPRD Nagekeo, yakni Yohanes Siga (Gerindra) dan Lukas YMP Boleng (NasDem).
Ketua Yayasan Alphard Graha Titian Harapan, Antonius Weka, menjelaskan bahwa proses penyediaan MBG dimulai dari dapur umum milik yayasan dengan dukungan 47 petugas yang terbagi dalam sejumlah divisi.
Rinciannya, divisi persiapan (4 orang), divisi pengolahan (10 orang), divisi pemorsian (9 orang), divisi distribusi (4 orang), divisi cuci ompreng (16 orang), serta divisi packing, asisten lapangan, akuntan, ahli gizi, dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia masing-masing satu orang.
“Selain di Wolowae, dapur umum Yayasan Alphard Graha Titian Harapan juga melayani pemberian makan bergizi gratis bagi pelajar di Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende. Bukan hanya pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita juga menjadi target sasaran MBG. Pelayanan diberikan sekali sehari selama lima hari dalam sepekan,” ujar Antonius.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Nagekeo, Lukas YMP Boleng menegaskan, pemerintah daerah juga mendukung penuh pelaksanaan MBG melalui Satgas MBG yang diketuai Asisten II Setda Nagekeo.
Menurutnya, program MBG ke depan juga bisa menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kami mendorong masyarakat agar lebih proaktif menjadi produsen kebutuhan pangan yang akan dibeli oleh Yayasan Alphard Graha Titian Harapan. Dengan begitu, program ini tidak hanya meningkatkan gizi generasi muda, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat pedesaan di sektor pertanian,” ungkap Lukas.
Dalam kesempatan itu, Lukas juga memantau langsung pelaksanaan MBG perdana di salah satu sekolah dasar. Dari hasil pengamatannya, ia menemukan masih ada kendala terkait pola konsumsi anak.
“Dari 15 anak SD yang saya pantau, setengahnya tidak suka memakan sayuran. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar anak-anak kita terbiasa mengonsumsi makanan sehat dan bergizi,” katanya.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

