Mbay, VoxNTT.com – Agustina Bupu Deku (31), warga RT 02, Desa Sawu, kini sudah bisa tersenyum. Saat berada di Posko Bantuan Kemanusiaan PDI Perjuangan untuk menerima paket bantuan sembako, ia sempat mengucapkan rasa syukur atas keselamatan keluarganya, terutama kedua anaknya yang berhasil selamat dari amukan banjir bandang yang melanda Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, pada Senin sore, 8 September 2025.
Kisah itu dituturkan Agustina kepada Fian Feo, Kepala Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, pada Selasa, 16 September 2025, saat para kader dan relawan terjun langsung melaksanakan misi kemanusiaan di lokasi bencana.
Peristiwa banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada Senin sore itu berawal ketika Agustina pergi menghadiri pertemuan kelompok tani di rumah salah satu warga.

Ia meninggalkan kedua anaknya, yakni Prilin Sada (9) dan Samuel Lena Toyo (5), di rumah. Sementara sang suami, Yohanes Kuku Luba (39), juga sedang berada di rumah tetangga.
Sekitar pukul 19.49 Wita, saat suasana gelap karena pemadaman listrik PLN, Agustina mendapat kabar bahwa banjir bandang telah menyapu rumah-rumah di bantaran Kali Lowo Koke.
Ia panik karena mengetahui jika kedua anaknya masih berada di dalam rumah sederhana mereka ketika banjir besar itu datang.
Rumah panggung milik Agustina terbuat dari kayu dengan dinding bambu, berdiri di atas sembilan tiang. Namun, upaya evakuasi mustahil dilakukan karena air semakin meninggi, arus yang deras di tengah malam yang gelap gulita.

Kepanikan kian memuncak ketika banjir mulai menghanyutkan satu per satu rumah warga, disertai pepohonan besar dan bebatuan yang ikut terbawa arus. Dalam situasi itu, hampir mustahil rasanya jika rumah panggung Agustina bisa bertahan dan luput dari banjir yang mengamuk.
Namun, dalam situasi pasrah keajaiban justru terjadi. Material pepohonan besar yang terbawa arus justru tersangkut di deretan pohon kelapa di bagian selatan hulu sungai. Tumpukan kayu dan lumpur lama-kelamaan membentuk semacam dinding alami yang mengubah aliran banjir. Air yang awalnya mengarah lurus kemudian berbelok, melewati bagian depan dan belakang rumah Agustina.
Akibatnya, hanya dapur rumah yang benar-benar hanyut tersapu banjir. Sementara bangunan utama tetap berdiri, meski sempat bergeser beberapa puluh sentimeter dari posisi semula.
Setelah air mulai surut, Amatus Raga, seorang pensiunan TNI, memberanikan diri mendekati rumah tersebut dan berhasil mengevakuasi kedua anak Agustina ke lokasi yang aman.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

