Mbay, VoxNTT.com – Memasuki hari ke-9 pascabanjir bandang yang melanda Kecamatan Mauponggo, sejumlah korban terdampak mulai terserang penyakit.
Kelangkaan air bersih yang dibutuhkan untuk menjamin sanitasi warga diduga menjadi penyebab munculnya wabah. Akibatnya, satu keluarga asal Desa Sawu harus dilarikan ke Puskesmas Mauponggo untuk mendapat perawatan intensif.
Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu berinisial MGK (44) bersama dua anaknya, FN (12) dan EA (9).
Petugas medis Puskesmas Mauponggo menyebutkan, ketiga pasien masuk ruang perawatan pada pukul 09.00 WITA dengan gejala mual, sakit perut, muntah, dan diare. Hasil pemeriksaan awal memastikan mereka terserang diare.
“Masuk tadi jam sembilan, gejalanya diare,” ujar seorang tenaga medis, Rabu, 17 September 2025.
Saat ini para pasien masih dirawat di ruang wanita Puskesmas Mauponggo dalam kondisi lemas. Mereka telah mendapat tindakan medis berupa pemasangan infus dan obat-obatan untuk mengatasi diare.
Sementara itu, hingga hari ke-9 pascabanjir bandang di Kabupaten Nagekeo, masih terdapat tiga korban jiwa yang belum ditemukan.
Tim SAR gabungan telah menghentikan operasi pencarian setelah tujuh hari melakukan upaya maksimal. Meski demikian, pencarian tetap diupayakan dengan bantuan anjing pelacak milik Polda NTT.
Di sisi lain, sejumlah dinas teknis terus melakukan analisis kerugian dampak bencana sesuai bidang masing-masing, seperti Dinas PUPR, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Perumahan dan Tata Kota, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, serta BLUD SPAM.
Khusus Dinas PUPR, saat ini sedang melanjutkan pembangunan jembatan darurat Teo Dhae 1 dan Teo Dhae 2 melalui pemasangan bronjong dan perakitan bailey.
Sementara itu, BPBD Nagekeo bersama pihak ketiga terus melakukan pembersihan material longsor di sejumlah ruas jalan, di antaranya ruas Sawu–Mulakoli, Maukeli–Boloroga, Boloroga–Wolo Co’o, Aewoe–Wayupea, serta Mauponggo–Pu’u Wada.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

