Mbay, VoxNTT.com – Warga Kampung Wolosambi digemparkan dengan suara tangisan misterius yang terdengar dari arah bawah dari lembah Kali Lowo Koke, lokasi yang terdampak paling parah banjir bandang hingga merenggut 8 dari 9 korban jiwa.
Ivon, salah seorang warga Wolosambi, mengaku dia pertama kali mendengar suara tersebut pada Minggu malam, 21 September 2025, sekitar pukul 23.30 Wita saat sedang brsama warga lain bermain kartu di Pos penjagaan. Suara itu lantas mengundang rasa penasaran warga lainnya. Mereka berbondong-bondong keluar rumah dan berdiri di tepi tebing curam di bantaran Kali Lowo Koke.
“Macam suara orang besar dan anak-anak yang menangis. Kami semua dengar suara itu,” ujar Ivon yang juga dibenarkan sejumlah warga lain.
Tangisan yang bercampur rintihan itu terdengar selama hampir lima menit. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti dari mana sumber suara tersebut berasal.
Warga menduga suara itu muncul dari arah Kali Lowo Koke. Meski demikian, mereka merasa janggal sebab dilokasi tersebut saat ini sedang ada aktivitas pembangunan jembatan darurat oleh Kementerian PUPR.

Selain itu, di sekitar Lowo Koke juga masih berdiri dua kamp yang dihuni puluhan anggota TNI dari Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) 834/WM Nagekeo.
Pada malam yang sama, tim gabungan TNI dan Polri juga masih melakukan pencarian terhadap tiga korban yang hingga kini belum ditemukan di sepanjang aliran Kali Lowo Koke.
Terbaru, salah satu titik di bawah Jembatan Watu Dhoge, Kelurahan Mauponggo, menjadi fokus pencarian setelah Karel, anjing pelacak milik Mabes Polri, memberikan sinyal dengan menggonggong ke arah sebuah bongkahan batu besar.
“Karel memang anjing pelacak yang sering ditugaskan dalam operasi SAR. Akurasinya mencapai 80 sampai 97 persen,” ujar seorang anggota Polri.
Namun, proses penggalian di lokasi tersebut tidak berjalan maksimal karena banyaknya warga yang berkerumun menyaksikan dari dekat. Akibatnya, pencarian ditunda dan akan dilanjutkan, Senin, 22 September 2025
Penulis: Patrianus Meo Djawa

