Ruteng, VoxNTT.com – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) ternyata lebih tinggi dari dua Kabupaten tetangga, Manggarai Timur dan Manggarai Barat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, Gabriel Amir kepada wartawan, Rabu 24 September 2025 di Ruteng menyebut, total HIV di wilayah itu sejak tahun 2011 terhitung sebanyak 342 kasus.
Menurutnya, angka 342 ini sudah melebihi Manggarai Timur yang hanya memiliki 83 kasus dan Manggarai Barat yang hanya memiliki 84 kasus.
“Kita melebihi Manggarai Timur dan Manggarai Barat kalau dari segi jumlah kasus, datanya terhitung dari tahun 2011,” ujar Amir
Ia menambahkan, pada tahun 2025 ini pihaknya juga menemukan HIV baru sebanyak 36 kasus. Angka 36 itu tercatat per Juli 2025.
Penemuan kasus tersebut, katanya lagi, dilakukan melalui kegiatan screening pada populasi khusus dan populasi kunci.
Populasi khusus yang dimaksud seperti ibu hamil dan warga binaan lembaga Pemasyarakatan, sedangkan populasi kunci antara lain WTS, waria, kaum seksual sejenis, dan pengguna jarum suntik.
Amir kemudian merinci, temuan kasus sejak 2021 hingga Juli 2025.
Pada tahun 2011-2012 ditemukan 3 orang, pada 2013 ditemukan 2 orang, tahun 2014 ditemukan 4 orang, tahun 2015 ditemukan 3 orang, tahun 2016 ditemukan 11 orang dan tahun 2017 ditemukan 19 orang.
Lanjut pada tahun 2018 ditemukan 48 orang, tahun 2019 ditemukan 38 orang, tahun 2020 ditemukan 43 orang, tahun 2021 ditemukan 20 orang, tahun 2022 ditemukan 25 orang, tahun 2023 ditemukan 39 orang, tahun 2024 ditemukan 51 orang dan Juli 2025 ditemukan 36 orang terinfeksi HIV.
Dari data-data itu, sambung Amir, yang mengikuti pengobatan rutin sebanyak 194 orang dan yang meninggal dunia sebanyak 46 orang.
Kemudian orang penderita yang hilang untuk ditindaklanjuti sebanyak 102 orang.
Sementara itu data penderita terbanyak HIV di Manggarai datang dari kalangan ibu rumah tangga sebenyak 32,75 persen, disusul eks perantauan sebanyak 11,40 persen, wiraswasta 8,77 persen, pekerja swasta 8,48 persen, petani 7,60 persen, PNS 5,60 persen.
Tak hanya itu, kalangan pegawai honorer 5,26 persen, mahasiswa 5,26 persen, belum bekerja 4,39 persen, guru swasta 2,63 persen, swasta salon 2,34 persen, wanita pekerja seks 1,75 persen, sopir 1,75 persen, pelajar 1,17 persen, dan ojek 0,88 persen.
Penulis: Berto Davids

