Ruteng, VoxNTT.com – Program revitalisasi 92 rumah adat di Kabupaten Manggarai menunjukkan kemajuan yang signifikan. Hingga pertengahan Oktober 2025, sebagian besar proyek telah memasuki tahap akhir pengerjaan.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Toni Ande kepada wartawan pada Rabu, 22 Oktober 2025.
“Hingga pertengahan Oktober 2025, sebanyak 9 rumah adat telah rampung 100 persen, yang tersebar di Kecamatan Lelak, Ruteng, dan Satar Mese,” kata Toni.
Toni menjelaskan, sebagian rumah adat lainnya masih dalam proses pengerjaan dengan progres rata-rata mencapai 40 persen. Beberapa rumah gendang bahkan telah menembus 75 persen. Pemerintah menargetkan seluruh proyek revitalisasi selesai pada Desember 2025.
Ia menyebut, perbedaan progres di tiap lokasi dipengaruhi oleh aktivitas sosial dan adat masyarakat setempat yang kadang menunda proses pembangunan.
“Perbedaan ini kadang disebabkan oleh berbagai kegiatan adat masyarakat, seperti acara kenduri, kematian, dan ritual adat lainnya yang menyebabkan tertundanya pekerjaan,” jelas Toni.
Sebagai contoh, kata Toni, salah satu rumah gendang di Kecamatan Rahong Utara sempat mengalami keterlambatan karena dalam periode pelaksanaan proyek tersebut, tercatat enam warga meninggal dunia.
Dari sisi ketersediaan material, Toni memastikan tidak ada kendala berarti. Hambatan utama justru datang dari padatnya kegiatan adat di beberapa kampung yang membuat pengerjaan sempat tertunda.
Meski begitu, pihaknya terus mendorong kelompok masyarakat (pokmas) pelaksana agar mempercepat pekerjaan sesuai tenggat waktu yang sudah ditetapkan.
“Waktu tinggal beberapa bulan, jadi saya minta semua pokmas mempercepat pekerjaan. Target kita tetap, harus selesai akhir tahun,” tegasnya.
Toni menambahkan, saat pencairan anggaran tahap kedua dilakukan, progres fisik diharapkan sudah mencapai minimal 70 hingga 80 persen. Ia optimistis pembangunan bisa selesai tepat waktu, bahkan sebelum Desember 2025.
“Laporan masuk ke kami rutin setiap dua minggu. Dari pantauan kami, pembangunan bisa rampung akhir November, atau paling lambat Desember,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat terhadap program revitalisasi ini, menurut Toni, sangat tinggi. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus melakukan pemantauan rutin ke lapangan. Di sejumlah lokasi, tim monitoring bahkan sudah turun hingga tiga kali untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai target.
Namun, mengingat waktu yang semakin sempit, Toni kembali mengingatkan seluruh pokmas dan masyarakat untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan.
“Kita berharap semua pokmas dan masyarakat umum sadar bahwa waktu tinggal satu bulan lagi. Kita harus push pekerjaan ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dan kolaborasi antara masyarakat dengan pokmas agar seluruh pembangunan rumah gendang dapat selesai tepat waktu dan memberi manfaat bagi pelestarian budaya Manggarai.
Kontributor: Isno Baco

