Ruteng, VoxNTT.com – Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (Padma) Indonesia, Gabriel Goa, menyerukan kolaborasi lintas sektor untuk menyelamatkan anak-anak Nusa Tenggara Timur (NTT) dari ancaman serius jaringan perdagangan orang yang terus terjadi di wilayah tersebut.
“Mari bersama kita selamatkan anak-anak NTT dari jaringan Perdagangan Orang NTT,” tegas Gabriel Goa, Mingg, 2 November 2025.
Gabriel menyoroti bahwa meski Presiden Joko Widodo dan Komnas HAM telah secara terbuka menyatakan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kondisi Darurat Human Trafficking, namun hingga kini belum tampak adanya sense of emergency dan aksi nyata negara dalam menangani masalah tersebut secara serius.
“Sejak Presiden Jokowi dan Komnas HAM menyatakan ke publik bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur Darurat Human Trafficking, hingga kini belum ada sense of emergency dan aksi nyata negara serius bicarakan agenda solusi atasi darurat Human Trafficking NTT,” ujarnya.
Menurutnya, solusi konkret harus segera diambil melalui kolaborasi pentahelix, yaitu sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, masyarakat sipil, dan komunitas. Gabriel merinci tiga langkah strategis yang perlu segera dilakukan:
Pertama, meluncurkan Program GEMA HATI MIA (Gerakan Masyarakat Anti Human Trafficking dan Migrasi Aman).
Kedua, memperkuat Advokasi Kebijakan Publik (AKP), termasuk revisi UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), pembentukan SK Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan TPPO, serta penyusunan Perda dan Perdes yang fokus pada pencegahan dan penanganan perdagangan orang.
Ketiga, penyiapan kompetensi calon pekerja migran melalui Balai Latihan Kerja (BLK) profesional dan pendidikan vokasi, serta pengurusan administrasi legal melalui Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA).
Gabriel menegaskan pentingnya dukungan semua pihak, mulai dari Presiden, Kementerian Hukum dan HAM, BP2MI, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Sosial, LPSK, Polri, TNI, DPR RI, DPD RI, hingga pemerintah daerah di NTT.
Ia juga menyoroti peran Bank NTT agar dapat menjadi Bank Remitansi bagi pekerja migran asal NTT, baik yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri.
“Bank NTT harus diperjuangkan menjadi Bank Remitansi dari pekerja migran asal NTT yang bekerja di Indonesia dan di mancanegara, menjadi nasabah Bank NTT sekaligus bersama Bank NTT bebaskan NTT dari kemiskinan dan human trafficking karena NTT darurat human trafficking dan provinsi kategori 3T,” ujar Gabriel.
Gabriel juga mengajak semua elemen bangsa untuk bersatu dalam upaya kemanusiaan ini.
“Mohon dukungan dan doa untuk selamatkan anak-anak NTT. Stop bajual orang NTT!” tegasnya. [VoN]

