Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Meretas Tabir Gelap Kehidupan dalam Terang Tuhan
Gagasan

Meretas Tabir Gelap Kehidupan dalam Terang Tuhan

By Redaksi25 Januari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Akademisi di NTT Romo Dr. Innosensius Sutam saat menjadi narasumber dalam kegiatan Partisipasi Bermakna Rancangan Undang-undang tentang BPIP di Say Se'i Labuan Bajo, Minggu, 2 November 2025 (Foto: Sello Jome/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

(Pekan III, Masa Biasa Tahun A; Minggu, 25 Januari 2026, Yes 8:23b-9:3; Mzm 27:1.413-14; Ul: 1a; 1Kor 1:10-13,17; Mat 4:12-23)

1

Begitu kita lahir. Keluar dari rahim ibu. Sepertinya, sebuah fase gelap terlewati. Masuk ke dunia terang. Itulah cahaya hidup. Namun kegelapan  membayanginya. Bagaimana terang dan gelap hidup kita menurut Firman Tuhan pada hari ini?

2

Dalam bacaan pertama, Yesaya menyatakan “bangsa yang berjalan dalam kegelapan”. Bangsa ini bisa pertama-tama mengacu kepada Israel. Tetapi bisa juga keluarga nesar umat manusia. Gelap itu adalah sisi kerapuhan manusia. Bisa dosa. Bisa bencana alam. Wabah penyakit. Bisa ancaman perang dan penindasan bangsa lain. Berbagai konflik dalam diri, dengan sesama, dengan alam.

3

Dalam bacaan kedua St. Paulus dalam surat kepada jemaat di Korintus menunjukkan sisi  gelap kehidupan manusia dalam perpecahan dan konflik. Konflik di antara umat di Korintus adalah sisi gelap kehidupan bersama. Benih konflik selalu mulai dengan perasaan untuk menjadi yang terpusat, teratas, terbesar, dan ter-ter lainnya. Yang lain hanya bayangan dan dayang dari yang anggap dirinya besar.

4

Dalam bacaan Injil, kegelapan hidup manusia datang dari ancaman para penguasa dan elit sosio-politik yang tidak mau dikritik. Yohanes, Sang Pengeritik kehidupan sosial ditangkap. Yesus menyingkir.

5

Di tengah kegelapan hidup manusia. Muncul terang dan cahaya hidup. Itu datang dari Tuhan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengatakan bahwa bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang besar. Mereka akan bersorak-sorai dan bersukacita. Tuhan, Sang Terang, datang sebagai pembebas.

6

Dalam bacaan kedua, terang dan cahaya hidup kita adalah salib Kristus. Kesediaan untuk menjadi kecil dan sederhana dalam jalan salib. Kesediaan untuk berkorban dan berkurban adalah sungguh menjadi terang dan cahaya hidup. Dengan itu sisi gelap dalam wujud konflik akan sirna.

7

Dalam Injil, Yesus adalah Terang Sejati. Ia mewartakan pertobatan. Ia menyembuhkan orang sakit. Ia memanggil para muridNya. Yesus adalah Kerajaan Allah itu sendiri. Dunia dan alam semesta berputar dan bergerak dalam terang Kerajaan Allah.

8

Bagaimana kita mengartikan terang dan gelap dalam hidup kita sehari-hari seturut Sabda Tuhan hari ini?

Pertama-tama, terang dan gelap adalah sisi baik dan buruk diri dan hidup kita sendiri. Perlu berkaca diri. Cermin yang terbaik dalam hidup kita adalah orang-orang terdekat kita. Karena merekalah yang dengan berbagai cara telah membesarkan kita. Kita perlu menjadi cermin juga bagi sesame kita terutama orang terdekat kita. Wajahku adalah wajah sesama. Wajah sesama adalah wajahku dalam bentuk lain (Emanuel Levinas).

9

Kedua, Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus mengajak kita untuk selalu berpikir dalam berspektif yang lebih besar, lebih jauh, lebih panjang, lebih luas, dan lebih dalam. Jangan baper. Jangan emosional. Kendalikan diri. Dalam berpikir besar, nyalakan pelita kecil untul dirimu dan syukur jika cahayanya memancar ke yang lain. Lakukan hal kecil untuk dirimu sendiri: bangun cepat, ambil air minum sendiri, putar kopi sendiri, masak sendiri, dll. Kerajaan Allah berarti latih melayani diri dalam hal kecil, dan kemudian melayani sesama dalam hal besar. Jika semuanya hanya dilakukan oleh ibu dan saudari kita, maka kita menjadi bayangan kegelapan bagi mereka.

10

Ketiga, mari bertobat… Tobat jalan balik dari dosa. Alasan utama kita bertobat ialah karena ada banyak potensi dan kebaikan kita yang terhambat untuk menjadi besar karena dosa. Karena itu secara positif tobat adalah jalan untuk membesarkan benih-benih kebaikan kecil dalam diri kita. Mereka ibarat pelita dan lilin kecil.

Ino Sutam Inosensius Sutam
Previous ArticleBPJN NTT Bersihkan Longsor di Jalur Ruteng–Reo–Kedindi
Next Article Pilkada Tak Langsung Mencederai Prinsip Republikanise

Related Posts

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026
Terkini

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.