Oleh: Rm. Inosensius Sutam
(Pekan III, Masa Biasa Tahun A; Minggu, 25 Januari 2026, Yes 8:23b-9:3; Mzm 27:1.413-14; Ul: 1a; 1Kor 1:10-13,17; Mat 4:12-23)
1
Begitu kita lahir. Keluar dari rahim ibu. Sepertinya, sebuah fase gelap terlewati. Masuk ke dunia terang. Itulah cahaya hidup. Namun kegelapan membayanginya. Bagaimana terang dan gelap hidup kita menurut Firman Tuhan pada hari ini?
2
Dalam bacaan pertama, Yesaya menyatakan “bangsa yang berjalan dalam kegelapan”. Bangsa ini bisa pertama-tama mengacu kepada Israel. Tetapi bisa juga keluarga nesar umat manusia. Gelap itu adalah sisi kerapuhan manusia. Bisa dosa. Bisa bencana alam. Wabah penyakit. Bisa ancaman perang dan penindasan bangsa lain. Berbagai konflik dalam diri, dengan sesama, dengan alam.
3
Dalam bacaan kedua St. Paulus dalam surat kepada jemaat di Korintus menunjukkan sisi gelap kehidupan manusia dalam perpecahan dan konflik. Konflik di antara umat di Korintus adalah sisi gelap kehidupan bersama. Benih konflik selalu mulai dengan perasaan untuk menjadi yang terpusat, teratas, terbesar, dan ter-ter lainnya. Yang lain hanya bayangan dan dayang dari yang anggap dirinya besar.
4
Dalam bacaan Injil, kegelapan hidup manusia datang dari ancaman para penguasa dan elit sosio-politik yang tidak mau dikritik. Yohanes, Sang Pengeritik kehidupan sosial ditangkap. Yesus menyingkir.
5
Di tengah kegelapan hidup manusia. Muncul terang dan cahaya hidup. Itu datang dari Tuhan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya mengatakan bahwa bangsa yang berjalan dalam kegelapan akan melihat terang besar. Mereka akan bersorak-sorai dan bersukacita. Tuhan, Sang Terang, datang sebagai pembebas.
6
Dalam bacaan kedua, terang dan cahaya hidup kita adalah salib Kristus. Kesediaan untuk menjadi kecil dan sederhana dalam jalan salib. Kesediaan untuk berkorban dan berkurban adalah sungguh menjadi terang dan cahaya hidup. Dengan itu sisi gelap dalam wujud konflik akan sirna.
7
Dalam Injil, Yesus adalah Terang Sejati. Ia mewartakan pertobatan. Ia menyembuhkan orang sakit. Ia memanggil para muridNya. Yesus adalah Kerajaan Allah itu sendiri. Dunia dan alam semesta berputar dan bergerak dalam terang Kerajaan Allah.
8
Bagaimana kita mengartikan terang dan gelap dalam hidup kita sehari-hari seturut Sabda Tuhan hari ini?
Pertama-tama, terang dan gelap adalah sisi baik dan buruk diri dan hidup kita sendiri. Perlu berkaca diri. Cermin yang terbaik dalam hidup kita adalah orang-orang terdekat kita. Karena merekalah yang dengan berbagai cara telah membesarkan kita. Kita perlu menjadi cermin juga bagi sesame kita terutama orang terdekat kita. Wajahku adalah wajah sesama. Wajah sesama adalah wajahku dalam bentuk lain (Emanuel Levinas).
9
Kedua, Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus mengajak kita untuk selalu berpikir dalam berspektif yang lebih besar, lebih jauh, lebih panjang, lebih luas, dan lebih dalam. Jangan baper. Jangan emosional. Kendalikan diri. Dalam berpikir besar, nyalakan pelita kecil untul dirimu dan syukur jika cahayanya memancar ke yang lain. Lakukan hal kecil untuk dirimu sendiri: bangun cepat, ambil air minum sendiri, putar kopi sendiri, masak sendiri, dll. Kerajaan Allah berarti latih melayani diri dalam hal kecil, dan kemudian melayani sesama dalam hal besar. Jika semuanya hanya dilakukan oleh ibu dan saudari kita, maka kita menjadi bayangan kegelapan bagi mereka.
10
Ketiga, mari bertobat… Tobat jalan balik dari dosa. Alasan utama kita bertobat ialah karena ada banyak potensi dan kebaikan kita yang terhambat untuk menjadi besar karena dosa. Karena itu secara positif tobat adalah jalan untuk membesarkan benih-benih kebaikan kecil dalam diri kita. Mereka ibarat pelita dan lilin kecil.

