Mbay, VoxNTT.com – Gejolak penolakan sosial terhadap warga perantau asal Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali terjadi di Bali. Situasi ini dipicu oleh ulah segelintir oknum pendatang asal NTT yang dinilai meresahkan warga lokal.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Umum Ikatan Keluarga Nagekeo (IKANA) Bali, Simon Woge mengimbau para orang tua di Kabupaten Nagekeo agar mempertimbangkan secara matang sebelum mengizinkan anak-anak mereka melanjutkan studi ke Bali.
Imbauan ini disampaikan dalam forum Musyawarah Umum Anggota Tertinggi (MUAT) IKANA Bali yang digelar di Aula Keuskupan Denpasar, Minggu, 25 Januari 2026. Acara tersebut turut dihadiri Ketua Umum IKB Flobamora NTT di Bali, Herman Umbu Bili, para dewan pembina, serta sesepuh IKANA Bali.
Simon menegaskan, imbauan tersebut didasarkan pada hasil pemantauan dan pendalaman terhadap dinamika sosial yang berkembang di Bali dalam beberapa waktu terakhir.
“Akibat ulah segelintir oknum dari salah satu etnis asal NTT, kini terjadi generalisasi yang masif. Warga lokal Bali merasa tidak aman sehingga masyarakat NTT secara keseluruhan terkena stigma negatif,” ujar Simon.
Dampaknya, banyak mahasiswa asal NTT mengalami kesulitan mencari kontrakan atau kamar kos. Bahkan, tidak sedikit pemilik kos yang melakukan seleksi ketat dengan memeriksa identitas calon penghuni.
“Jika ber-KTP NTT, sering kali langsung ditolak. Kalaupun diterima, biaya kos menjadi sangat mahal, berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta per bulan,” ungkapnya.
Tingginya biaya hunian ini, lanjut Simon, tentu sangat memberatkan para orang tua mahasiswa.
Atas dasar itu, IKANA Bali merekomendasikan agar lulusan SMA dan SMK di Nagekeo yang hendak melanjutkan pendidikan tinggi lebih memilih perguruan tinggi di luar Bali, khususnya di wilayah NTT dan Pulau Flores, mulai tahun ajaran baru 2026.
“Kalau keluarga merasa mampu, silakan kuliah di Bali. Namun kami tidak bisa menjamin mahasiswa baru bisa memperoleh kos dengan harga wajar. Yang tersedia kebanyakan mahal, dan penerimaan pemilik rumah pun sangat selektif,” jelasnya.
Selain bagi calon mahasiswa, IKANA Bali juga mengingatkan warga Nagekeo yang hendak bekerja di Bali agar memiliki standar pendidikan, keterampilan, dan etika perilaku yang baik. Minimal berijazah SMA atau sederajat serta memiliki keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

