Labuan Bajo, VoxNTT.com – Aparat kepolisian bersama warga membangun jembatan darurat di Sungai Wae Songkang, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, guna menjamin keselamatan anak-anak sekolah yang setiap hari harus menyeberangi sungai tersebut. Pembangunan jembatan darurat itu dimulai pada Senin, 2 Februari 2026.
Kapolsek Kuwus, Iptu Polisi Inspektur Satu Arsilinus Lentar mengatakan, pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral aparat terhadap keselamatan dan masa depan anak-anak.
“Kami tidak mau menunggu tragedi. Anak-anak ini setiap hari berhadapan dengan sungai deras hanya demi bisa sekolah,” kata Arsilinus kepada VoxNtt.com, Selasa malam, 3 Januari 2026.
Selama ini, sebanyak 21 pelajar yang terdiri dari 11 siswa sekolah dasar dan 10 siswa sekolah menengah pertama harus menyeberangi Sungai Wae Songkang dengan lebar sekitar 15 hingga 20 meter untuk menuju SDK Wetik dan SMP Negeri 1 Kuwus Barat. Kondisi itu semakin berbahaya saat musim hujan karena debit air sungai meningkat tajam.
“Ini bukan soal jarak tempuh, tapi soal nyawa. Sungai bisa naik kapan saja tanpa bisa diprediksi,” ujar Arsilinus.
Pembangunan jembatan darurat tersebut berawal dari keluhan warga dan para guru yang khawatir terhadap keselamatan peserta didik.
Menindaklanjuti keluhan itu, Polsek Kuwus memfasilitasi musyawarah antara warga Kampung Lesem dan Desa Golo Riwu. Dalam pertemuan tersebut, warga sepakat membangun jembatan secara swadaya.
“Ketika masyarakat sudah resah, negara tidak boleh diam. Polisi harus berdiri di tengah dan memastikan keselamatan warga,” kata Arsilinus.
Proses pembangunan jembatan dimulai pada 2 Februari 2026 dan rampung sehari kemudian.
Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat setempat, personel Polsek Kuwus, serta dukungan Batalyon Brimob Labuan Bajo yang dipimpin IPTU Hermanus Patibean, serta unsur TNI di bawah pimpinan Pelaksana Tugas Dandramil Serma Mustamin bersama empat anggota Babinsa.
“Semua bekerja tanpa banyak bicara, karena yang dipertaruhkan adalah keselamatan anak-anak,” ujar Arsilinus.
Meski jembatan darurat telah selesai dan diserahkan kepada masyarakat, pihak sekolah tetap mengimbau siswa asal Kampung Lesem untuk sementara menginap di Desa Golo Riwu saat hujan deras guna menghindari risiko banjir mendadak.
“Jembatan ini membantu, tetapi kehati-hatian tetap yang utama,” tutup Arsilinus.
Kontributor: Leo Jehatu

