Borong, VoxNTT.com – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuka pelayanan KB serentak mulai tanggal 9–15 Februari 2026.
Pelayanan KB ini akan terfokus pada wanita usia subur yang ingin membatasi kehamilan atau kelahiran.
Kepala Dinas P2KBP3A Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas mengatakan, kegiatan pelayanan KB untuk wanita usia subur ini bertujuan agar kesadaran masyarakat tentang pentingnya perencanaan keluarga dapat meningkat.
Ia berharap, pelayanan KB akan dapat memperluas akses pelayanan KB yang aman, nyaman, dan berkualitas serta mendorong pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan secara terencana dan menekan angka kehamilan yang tidak diinginkan.
Selama periode pelaksanaan kegiatan, kata dia, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan KB di fasilitas kesehatan, di antaranya penyuluhan, konsultasi, hingga pemasangan alat kontrasepsi modern.
“Tenaga kesehatan akan memberikan pendampingan langsung agar setiap pasangan dapat memilih metode KB sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan,” jelas Ani Agas, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk peran kader, tokoh masyarakat dan organisasi perempuan dalam menyebarkan informasi. Selain itu dapat mengajak masyarakat untuk aktif menggunakan layanan KB.
Ani menjelaskan, alasan kegiatan ini difokuskan pada wanita usia subur yang ingin membatasi kehamilan karena berdasarkan data tahun 2025 terdapat 4.802 pasangan yang mengalami drop out KB, sementara, angka yang unmet need KB tercatat sebanyak 4.105 pasangan.
Menurutnya, data ini menunjukkan perlunya penguatan program Keluarga Berencana (KB), khususnya pada kelompok pasca-salin dan pasangan yang membatasi kehamilan tetapi belum terlayani.
Dengan kegiatan ini, lanjut Ani, pemerintah dapat mengurangi kehamilan tidak direncanakan oleh pasangan yang tidak menggunakan KB meski ingin menunda kehamilan.
Kegiatan ini juga dapat meningkatkan angka aborsi tidak aman, komplikasi kehamilan, dan risiko kematian ibu dan anak.
Ani berkata, pencegahan angka kematian ibu dan anak sering terjadi pada kehamilan yang tidak direncanakan dan juga sering terjadi pada kondisi ibu yang belum siap secara fisik maupun mental.
Sehingga dengan menurunkan angka itu, ibu dapat merencanakan kehamilan pada waktu yang aman sehingga risiko kematian berkurang.
Pencegahan Angka Kematian Bayi (AKB) dari kehamilan yang tidak direncanakan lebih berisiko lahir prematur, berat badan rendah, atau kurang mendapat perhatian optimal.
“Ketika kita fokus pada upaya mengurangi unmet need KB, maka akan sangat membantu memastikan bayi lahir dari kehamilan yang sehat dan terencana,” jelasnya.
Dengan mengatasi unmet need, keluarga dapat mengatur jarak kelahiran sehingga anak mendapat perhatian penuh, gizi cukup, dan tumbuh optimal.
Efisiensi program kesehatan menurunkan unmet need berarti meningkatkan cakupan KB secara keseluruhan.
Hal ini berdampak langsung pada pencapaian target kesehatan nasional: menurunkan AKI, AKB, dan prevalensi stunting.
Penulis: Berto Davids

