Ruteng, VoxNTT.com – Marselinus Beke pelajar kelas satu Sekolah Dasar Inpres (SDI) Golo Lambo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, NTT, patut menjadi contoh.
Bagaimana tidak, Arsen- sapaan karibnya, meskipun memakai sepatu robek dan pakaian seragam yang sudah lusuh, ia tetap semangat ke sekolah.
Kisah tentang Arsen pun viral di media sosial Facebook, berkat unggahan salah satu pegiat media sosial Manggarai, Tini Pasrin.
Dalam laman Facebook-nya, pada 9 Februari, Tini mengunggah foto dan video Arsen memakai sepatu rusak yang sudah tidak layak pakai saat ke sekolah. Tampak sepatunya sudah bolong baik bagian atas maupun bawah.
“Video di bawah ini menampilkan Marselinus Beke siswa kelas 1 SD Inpres Golo Lambo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai. Bayangkan, anak kelas 1 SD sepatunya sudah serusak ini. Tidak layak pakai. Bajunya pun kelihatan kusut. Bisa dijamin, apa yang dia kenakan ke sekolah bukan barang baru. Tetapi dia tetap ke sekolah dengan senyum sumringahnya,” tulis Tini dalam unggahannya.
Tini Pasrin disebut orang pertama yang mengunggah kondisi Arsen. Ia mengaku dapat informasi tentang Arsen dari Kepala SDI Golo Lambo, pada Senin, 9 Februari 2026.
Awalnya, ia bersama Kepala SDI Golo Lambo mendiskusikan banyak hal, salah satunya bocah SD di Ngada yang meninggal dengan cara yang tak wajar.
“Pa Kepsek bilang bahwa kondisi itu juga ada di depan mata kita. Ia menunjukkan video kondisi adik Arsen, anak kelas 1 SD sepatunya sudah serusak ini. Dia juga sudah belikan sepatu baru untuk adik Arsen,” kisah Tini saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Rabu, 18 Februari 2026.
Ia melanjutkan, Kepala SDI Lambo menyarankan agar kondisi Arsen untuk diunggah di sosial media.
Namun, Tini memintanya untuk meminta izin kepada orangtua Arsen. Sebab, hal seperti itu cukup sensitif, karena menyangkut privasi orang.
“Kita berpikir bagaimana perasaan orangtua kalau kita up itu tanpa izin mereka. Setelah diberitahu, orangtuanya adik Arsen menyetujui untuk di–up di medsos, karena memang itu seperti itu keadaan mereka,” ungkap dia.
“Kebetulan juga kami dulu pernah membuka donasi di akun medsos pribadi, dan itu kemudian secara organik mengundang perhatian. Kami juga berharap adik Arsen mendapat hal yang sama,” sambung dia.
Kepala SDI Golo Lambo, Thomas Aquino Jemahan menuturkan, Arsen memang lahir di keluarga yang ekonomi serba terbatas. Namun, ia tetap rajin ke sekolah dan termasuk siswa yang terbilang cukup pintar.
“Berdasarkan pengamatan dia cukup pintar.
Dia kelas satu sudah lancar membaca dan menulis,” ungkap Tomy saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis pagi.
Tomy menyebutkan, lahir di tengah keterbatasan ekonomi tidak membuat Arsen patah arang. Ia tetap semangat ke sekolah.
Kondisi Arsen yang mengenakan sepatu bolong bermula pada dua pekan lalu, Tomi masuk ke ruangan kelas 1 SDI Golo Lambo untuk mengecek kebersihan anak-anak sebelum menerima Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Secara tidak sengaja Arsen angkat sedikit kakinya. Saya melihat kondisi sepatunya sudah bolong. Robek. Setelah itu saya ajak dia ke kantor. Saya tanya-tanya, dia jawab apa adanya. Itu hari Kamis dua minggu lalu,” katanya.
Tomy kemudian mengajak Arsen ke kantor. Saat itu, ia tidak menjanjikan apa-apa. Tomy hanya meminta Arsen agar datang ke sekolah wajib mandi pagi dan tetap semangat.
Keesokan harinya, Arsen datang dengan menggunakan sepatu yang sama. Ia kemudian memanggilnya ke kantor dan memberikan hadiah sepatu baru.
“Arsen senang sekali. Mukanya ceria. Kini Arsen berubah. Dari sebelumnya agak nakal kini bisa diatur,” tutur Tomy.
Ia menjelaskan, SDI Golo Lambo menerapkan aturan berpakaian lengkap setiap hari. Anak-anak wajib menggunakan sepatu terkecuali saat hujan.
Tomy mengaku, sebelum kondisi Arsen menggunakan sepatu robek dan pakaian seragam lusuh, pihaknya sudah beberapa kali membantunya belikan sepatu dan seragam dengan rogo saku pribadi.
Ibunda Sakit
Tini menyebut, ibunda Arsen saat ini dalam kondisi sakit, sehingga tidak bisa kerja normal.
Kondisi ekonomi mereka pun kian parah. Dampaknya, anak sulung mereka yang perempuan juga putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Kakak perempuanya Arsen hanya sampai SMP, padahal dikenal anak yang pintar. Begitu juga dengan Arsen. Dia anak yang dikenal pintar, jadi sangat disayangkan tidak lanjut sekolah karena keterbatasan ekonomi,” beber Tini.
Tomy juga membenarkan bahwa ibunda Arsen, Florentina Diu (45) menderita sakit asma sejak lama. Sehingga tidak kerja untuk mencari penghasilan tambahan.
“Yang kerja hanya suaminya, bapak Martinus Meru (61). Kerjanya hanya rawat sawah yang hasil 2-3 karung setahun,” kata Tomy.
Dapat Bantuan
Tini berkata, berkat unggahannya satu pekan terakhir, Arsen mendapatkan perhatian dari banyak para donatur.
Sejak dibukanya donasi untuk mereka, ada banyak orang baik yang mengirimkan barang berupa sepatu tas dan juga uang.
“Kami buka satu pekan saja. Donasi yang terkumpul sebanyak Rp2,6 juta. Sudah cukup menurut kami untuk adik Arsen dan kakaknya yang duduk di kelas empat SD. Itu semua sudah tersalurkan ke mereka. Banyak juga pihak yang menghubungi tetapi kami bilang sudah tutup,” katanya.
Tomy juga menyebut, sejak viral, banyak donatur atau orang-orang baik yang memberikan bantuan berupa tas dan sepatu untuk Arsen.
Selain itu juga ada donasi berupa uang, berkat penggalangan dana yang diinisiasi oleh Tini Pasrin.
“Total uang donasi kemarin Rp2.600.000. Kemudian, sepatu dua pasang, tas satu buah. Semua sudah diserahkan ke keluarga adik Arsen,” ungkap Tomy, yang adalah mantan aktivis PMKRI Cabang Ruteng itu.
Ia menambahkan, masih ada juga bantuan berupa barang yang masih dalam perjalanan yakni dari Semarang, Surabaya, dan Kupang.
Kemudian juga ada bantuan dari Danramil 1612 Satarmese berupa tas, sepatu, dan peralatan tulis.
Selain itu, ada juga orang baik yang memberikan sedikit rezeki untuk Arsen.
Di balik bantuan tersebut, Tini kemudian menyampaikan terima kasih kepada semua orang-orang baik yang telah peduli dengan Arsen dan keluarganya.
Bertolak dari kondisi Arsen, ia menyarankan agar sebaiknya sekolah-sekolah mendata siswa-siswi yang alami keterbatasan yang sama.
“Karena sejak peristiwa pilu di Ngada, banyak komunitas, individu, serta influencer yang mau memberikan bantuan, asalkan berbasis data,” imbuh dia.
Terima PIP
Tini menyebut, berdasarkan informasi dari Kepala SDI Golo Lambo, Arsen mendapat bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp225 ribu setahun. Orangtuanya pun mendapat bantuan sosial pemerintah yakni program keluarga harapan (PKH).
“Tetapi memang karena kondisi kemiskinan kronis bantuan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka karena orangtua sakit tidak bisa kerja cari penghasilan lain,” katanya.
Sementara Tomy berkata, tak hanya Arsen, kakaknya yang sudah duduk di kelas 4 SD juga masuk dalam daftar siswa penerima PIP.
“Pencairan PIP di SDI Golo Lambo sistem kolektif. Ini karena permintaan orangtua. Karena menurut orangtua kalau mereka yang ambil di bank uangnya tidak dipakai untuk keperluan anak, hanya habis di transportasi. Jadi sekolah yang cair tanpa pungutan,” tegas dia.
Ia juga menjelaskan terkait pertanyaan publik “mengapa belanja pakaian dan alat tulis tidak menggunakan dana operasional sekolah (BOS).”
Dalam Permendikbud No 76 yang mengatur dana BOS untuk pembelian perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu alat tulis, termasuk transportasi dari rumah ke sekolah bagi siswa kurang mampu hanya berlaku hingga tahun 2013.
“Dari tahun 2014 item itu tidak bisa digunakan lagi karena sudah ada dana PIP. Sejak diluncurkan PIP tahun 2014 pembelian perlengkapan sekolah bagi siswa kurang mampu itu sudah tidak berlaku. Ini saya jelaskan supaya clear. Karena ada yang tanya kenapa tidak pakai dana BOS,” ungkap Tomy.
Prosedur PIP, lanjut dia, pihak sekolah menginput berdasarkan data siswa saat pendaftaran. Kemudian sinkron data desil di Kemensos.
“Yang bisa dapat bantuan itu kan dari desil 1-5. Biasanya yang pendapatan orangtua di bawah 500 ribu sebulan jadi prioritas,” katanya.
Tomy kemudian membeberkan keluarga Arsen sudah menjadi penerima bantuan sosial (Bansos) yakni Sembako dan Program Keluarga Harapan (PKH). Uang bantuan tersebut hanya dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan makan minum setiap hari.
“Mereka terima sembako dan PKH tiap tiga bulan,” katanya.
Keluarga juga hanya bersandar pada bantuan tersebut, sebab penghasilan petani tidak menentu
Kontributor: Nansi Taris

