Borong, VoxNTT.com – Di bawah naungan pohon-pohon rindang lembah Kisol, sebuah babak baru sejarah Seminari Menengah Pius XII Kisol sedang ditulis melalui penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2026–2031.
Praeses seminari tersebut, Ferry H. Warman, menegaskan bahwa kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Renstra bukan sekadar kewajiban manajerial, tetapi menjadi momentum penting bagi lembaga untuk melakukan pembenahan dan disermen institusional secara mendalam.
“Memasuki usia 70 tahun, kita tidak boleh hanya terlena dengan kejayaan masa lalu. Renstra ini adalah cara kita melakukan ‘pemeriksaan batin’ secara organisasional. Ini adalah momen Kairos untuk melihat kembali sejauh mana kita telah setia pada amanat para pendiri, sekaligus berani menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” ungkap RD Ferry di hadapan 150 peserta FGD yang memenuhi Aula Seminari Kisol, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurut RD Ferry, setiap gagasan dalam draf Renstra setebal sekitar 300 halaman itu diarahkan untuk mengaktualisasikan visi para pendiri seminari, yakni Wilhelmus van Bekkum, Juraj Wojaczek, dan Leo Perik.
Ia menekankan, Sanpio tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai tempat persemaian panggilan imamat sekaligus pusat pembentukan karakter yang telah memberi kontribusi bagi Gereja dan masyarakat.
“Kita memegang warisan yang suci. Namun, agar warisan ini tetap relevan, kita harus berani melakukan transformasi. Disermen institusional ini membawa kita pada kesadaran bahwa pembinaan calon imam harus menyentuh seluruh aspek kemanusiaan secara utuh,” tegasnya.
RD Ferry menjelaskan, transformasi yang diusung dalam Renstra tersebut berlandaskan integrasi nilai utama seminari yang dirumuskan dalam konsep 5S, yakni Sanctitas (kekudusan), Scientia (pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), Sanitas (kesehatan), dan Solidaritas (kesetiakawanan).
Ia menanggapi temuan tim penyusun dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng yang menunjukkan adanya “dualisme capaian”, di mana seminari dinilai unggul dalam aspek Sanctitas dan Scientia, tetapi masih rentan dalam aspek Sanitas dan Sapientia terutama dalam tata kelola.
“Data menunjukkan kita harus lebih serius memperhatikan gizi dan kesehatan mental siswa (Sanitas), serta profesionalitas dalam pengelolaan aset dan keuangan (Sapientia). Calon imam masa depan haruslah sosok yang tidak hanya cerdas dan suci, tetapi juga tangguh secara fisik dan matang secara psikososial. Inilah yang kita maksud dengan ‘Kuat Jiwa Raga’ dalam visi baru kita,” jelas RD Ferry.
FGD tersebut juga mengonfirmasi sejumlah langkah strategis, antara lain humanisasi infrastruktur, penerapan protokol safeguarding yang ketat untuk perlindungan anak, serta digitalisasi kurikulum.
RD Ferry optimistis bahwa melalui siklus transformasi Build, Grow, dan Prove, seminari akan berkembang menjadi lembaga yang mandiri secara finansial melalui pengelolaan aset produktif.
“Renstra ini adalah janji kita kepada Gereja dan masyarakat. Kita ingin memastikan bahwa ‘rahim’ Sanpio tetap subur untuk melahirkan para pelayan yang resilien, mampu bertahan, dan berkembang di tengah disrupsi milenium ketiga tanpa kehilangan identitas imannya,” pungkas RD Ferry.
Penulis: Isno Baco

