Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol
Pendidikan NTT

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

By Redaksi5 Maret 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Praeses Seminari Kisol, RD. Ferry H. Warman (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT.com – Di bawah naungan pohon-pohon rindang lembah Kisol, sebuah babak baru sejarah Seminari Menengah Pius XII Kisol sedang ditulis melalui penyusunan Rencana Strategis (Renstra) 2026–2031.

Praeses seminari tersebut, Ferry H. Warman, menegaskan bahwa kegiatan Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Renstra bukan sekadar kewajiban manajerial, tetapi menjadi momentum penting bagi lembaga untuk melakukan pembenahan dan disermen institusional secara mendalam.

“Memasuki usia 70 tahun, kita tidak boleh hanya terlena dengan kejayaan masa lalu. Renstra ini adalah cara kita melakukan ‘pemeriksaan batin’ secara organisasional. Ini adalah momen Kairos untuk melihat kembali sejauh mana kita telah setia pada amanat para pendiri, sekaligus berani menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” ungkap RD Ferry di hadapan 150 peserta FGD yang memenuhi Aula Seminari Kisol, Kamis, 5 Maret 2026.

Menurut RD Ferry, setiap gagasan dalam draf Renstra setebal sekitar 300 halaman itu diarahkan untuk mengaktualisasikan visi para pendiri seminari, yakni Wilhelmus van Bekkum, Juraj Wojaczek, dan Leo Perik.

Ia menekankan, Sanpio tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai tempat persemaian panggilan imamat sekaligus pusat pembentukan karakter yang telah memberi kontribusi bagi Gereja dan masyarakat.

“Kita memegang warisan yang suci. Namun, agar warisan ini tetap relevan, kita harus berani melakukan transformasi. Disermen institusional ini membawa kita pada kesadaran bahwa pembinaan calon imam harus menyentuh seluruh aspek kemanusiaan secara utuh,” tegasnya.

RD Ferry menjelaskan, transformasi yang diusung dalam Renstra tersebut berlandaskan integrasi nilai utama seminari yang dirumuskan dalam konsep 5S, yakni Sanctitas (kekudusan), Scientia (pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), Sanitas (kesehatan), dan Solidaritas (kesetiakawanan).

Ia menanggapi temuan tim penyusun dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng yang menunjukkan adanya “dualisme capaian”, di mana seminari dinilai unggul dalam aspek Sanctitas dan Scientia, tetapi masih rentan dalam aspek Sanitas dan Sapientia terutama dalam tata kelola.

“Data menunjukkan kita harus lebih serius memperhatikan gizi dan kesehatan mental siswa (Sanitas), serta profesionalitas dalam pengelolaan aset dan keuangan (Sapientia). Calon imam masa depan haruslah sosok yang tidak hanya cerdas dan suci, tetapi juga tangguh secara fisik dan matang secara psikososial. Inilah yang kita maksud dengan ‘Kuat Jiwa Raga’ dalam visi baru kita,” jelas RD Ferry.

FGD tersebut juga mengonfirmasi sejumlah langkah strategis, antara lain humanisasi infrastruktur, penerapan protokol safeguarding yang ketat untuk perlindungan anak, serta digitalisasi kurikulum.

RD Ferry optimistis bahwa melalui siklus transformasi Build, Grow, dan Prove, seminari akan berkembang menjadi lembaga yang mandiri secara finansial melalui pengelolaan aset produktif.

“Renstra ini adalah janji kita kepada Gereja dan masyarakat. Kita ingin memastikan bahwa ‘rahim’ Sanpio tetap subur untuk melahirkan para pelayan yang resilien, mampu bertahan, dan berkembang di tengah disrupsi milenium ketiga tanpa kehilangan identitas imannya,” pungkas RD Ferry.

Penulis: Isno Baco

Praeses Seminari Kisol RD. Ferry H. Warman Seminari Pius XII Kisol
Previous ArticleSeminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola
Next Article Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026

Sengketa Tanah SMPN 2 Gako Nagekeo Berakhir Damai, Dua Keluarga Serahkan Lahan ke Pemda

26 Februari 2026
Terkini

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.