Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Sengketa Tanah SMPN 2 Gako Nagekeo Berakhir Damai, Dua Keluarga Serahkan Lahan ke Pemda
Pendidikan NTT

Sengketa Tanah SMPN 2 Gako Nagekeo Berakhir Damai, Dua Keluarga Serahkan Lahan ke Pemda

By Redaksi26 Februari 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dua rumpun keluarga yakni Suku Tegu Udawolo dan keluarga Almarhum Matheus Jhon Bei menandatangani surat pelepasan hak atas tanah di SMPN Gako kepada Pemda Nagekeo disaksikan unsur Forkompimcam Boawae di Aula Sekda Nagekeo, Selasa, 24 Februari 2026 (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Sengkarut panjang persoalan tanah SMP Negeri 2 Gako di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, berakhir dengan kesepakatan damai.

Dua rumpun keluarga besar, yakni Suku Tegu Udawolo sebagai pemilik ulayat dan keluarga almarhum Matheus Jhon Bei, sepakat menyerahkan sepenuhnya lahan yang sempat disengketakan kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo untuk kepentingan pendidikan.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Nagekeo pada Selasa, 24 Februari 2026. Pertemuan dipimpin Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Nagekeo, Oskar Amekae Sina yang dinilai berperan menjembatani polemik kedua pihak.

Keputusan penyerahan hak atas tanah itu dilandasi kebesaran hati kedua rumpun keluarga yang mengutamakan kepentingan pendidikan serta merawat cita-cita peningkatan kualitas pendidikan sebagaimana pernah dicanangkan mantan Bupati Ngada, almarhum Matheus Jhon Bei.

Dalam forum mediasi tersebut, kedua pihak menandatangani surat pelepasan hak atas tanah. Namun, meski sepakat menghibahkan lahan kepada pemerintah daerah, kedua keluarga menetapkan satu syarat utama, yakni seluruh bangunan dan properti milik perorangan yang berada di kawasan tersebut harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum proses sertifikasi tanah sekolah dilaksanakan.

Penegasan itu sekaligus memperjelas bahwa dua bangunan rumah, yakni milik keluarga Kristoforus serta rumah dan kubur milik almarhum Petrus Lengi, berada dalam kawasan tanah milik pemerintah daerah dan telah dikuasai tanpa hak dalam waktu cukup lama.

Kepada kedua rumpun keluarga, Oskar memastikan tuntutan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Untuk tanah Pak Kristoforus, kami mendapat informasi bahwa akan diurus oleh Pak Hermanus, sementara rumah dan kubur almarhum Pak Petrus Lengi tetap akan menjadi perhatian Pemerintah,” ujar Oskar.

Persoalan tanah ini telah bergulir cukup lama. Keluarga Fransiskus Ceme dari Suku Tegu Udawolo sebelumnya melayangkan protes kepada pemerintah atas keberadaan bangunan rumah dan kubur yang dinilai tidak berkaitan dengan fungsi pendidikan.

Proses penyelesaian sempat dilakukan di Kantor Desa Rigi dan berlanjut di Kantor Camat Boawae pada 25 Mei 2025. Dalam berita acara penyelesaian saat itu ditegaskan bahwa tanah SMPN 2 Boawae merupakan milik Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

Kesepakatan tersebut dibuat antara keluarga almarhum Fransiskus Ceme dan ahli waris almarhum Matheus Jhon Bei, yang pada masa hibah menjabat sebagai Bupati Ngada.

Batas tanah juga ditegaskan meliputi sebelah utara Jalan Negara, selatan tanah milik Kanisius Mite, barat Jalan Ende–Bajawa dan Jalan Gako–Mauponggo, serta timur persawahan milik masyarakat.

Para pihak menandatangani surat pernyataan bermeterai yang menyatakan tanah tersebut sebagai aset pemerintah daerah. Adapun bangunan nonsekolah yang telanjur berdiri akan dibahas lebih lanjut oleh pemerintah daerah.

Berita acara itu ditandatangani lima ahli waris almarhum Matheus Jhon Bei, tiga perwakilan keluarga Fransiskus Ceme, dua keluarga almarhum Petrus Lengi, serta disaksikan tokoh masyarakat, LPA Kecamatan Boawae, Kapolsek Boawae, Danramil 1625-03 Boawae, dan Kepala Desa Rigi.

Guna mendapatkan kepastian hukum, Suku Tegu Udawolo terus mendesak pemerintah daerah segera melakukan sertifikasi dan pencatatan aset atas tanah sekolah tersebut.

“Kami tidak ada niat ambil kembali tanah itu. Kami hanya minta segera disertifikasi sesuai luas yang kami serahkan. Kalau pemerintah butuh dokumen pendukung, kami siap siapkan,” kata Hermanus.

Di tengah proses penyelesaian yang belum sepenuhnya tuntas, muncul persoalan baru. Yoseph F. Iwu Wea disebut kembali membangun dapur MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di atas lahan yang kini telah disepakati sebagai milik Pemerintah Kabupaten Nagekeo.

Beredar informasi bahwa pembangunan dapur tersebut didasari surat keterangan tanah yang dikeluarkan Pemerintah Desa Rigi. Jika surat tersebut bermasalah, Yoseph F. Iwu Wea berpotensi mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi terkait rencana pengosongan bangunan dan kubur di atas lahan yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah tersebut.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Kabupaten Nagekeo Kecamatan Boawae Nagekeo SMPN 2 Gako
Previous ArticlePMKRI Kupang Soroti SP3 Kasus TPPO di NTT, Desak Kapolri Evaluasi Kapolda
Next Article Ketua Fraksi Demokrat DPRD Manggarai Minta Diskominfo Perkuat Publikasi Program Pembangunan

Related Posts

Bejo MY Sampaikan Hak Jawab, Bantah Lakukan Penganiayaan terhadap Nelayan

1 Agustus 2026

Diduga Aniaya Nelayan, Oknum Wartawan dan Seorang Waria di Nagekeo Dipolisikan

30 Juli 2026

Peringati Hari Anak Nasional, Yayasan TKK Fransiskus Assisi Karot Perkuat Tata Kelola dan Mutu Pendidikan

28 Juli 2026
Terkini

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026

Organisasi Sipil Berperan Penting Dukung Investasi Hijau

3 Agustus 2026

Kejari Manggarai Pastikan Kasus Eks Kadis DP3AKB Diproses Sesuai Prosedur

3 Agustus 2026

Spesialis Tendang Bebas Jeims Moa Antar Desa Pinggang FC Raih Podium Dua di Turnamen U15 Kecamatan Cibal

2 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.