Borong, VoxNTT.com – Seminari Menengah Pius XII Kisol (Sanpio) meluncurkan Rencana Strategis (Renstra) 2026–2031 sebagai langkah menghadapi dinamika dunia yang semakin tidak menentu.
Peluncuran dokumen strategis tersebut dipaparkan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di aula seminari dan dihadiri sekitar 150 pemangku kepentingan.
Marianus Mantovanny Tapung, perwakilan tim penyusun dari Unika St. Paulus Ruteng, menjelaskan bahwa Renstra ini tidak sekadar menjadi dokumen administratif, tetapi berfungsi sebagai instrumen navigasi bagi lembaga pendidikan calon imam dalam menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).
Dalam pemaparannya, Mantovanny menilai perubahan global yang cepat menuntut pembaruan dalam model pembinaan di seminari.
“Kita sedang hidup di era di mana perubahan terjadi dalam hitungan detik (Volatility) dan masa depan menjadi sulit dimaknai (Ambiguity). Jika seminari masih menggunakan pola lama yang intuitif-tradisional, kita berisiko melahirkan lulusan yang gagap menghadapi kompleksitas zaman,” tegas Mantovanny kepada media ini Kamis 5 Maret 2026.
Menurutnya, tim penyusun mengusung paradigma “Humanis Adaptif” sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan lembaga dan pribadi para calon imam.
Mantovanny menjelaskan, pergeseran dari pola “Asketisme Konvensional” menuju pendekatan yang lebih manusiawi bertujuan memperkuat kesiapan calon imam sebelum mereka terjun ke pelayanan pastoral yang semakin kompleks.
“Hasil analisis saintifik kami menunjukkan adanya fenomena dualitas capaian. Sanpio sangat unggul dalam aspek intelektual dan spiritual, namun menunjukkan kerentanan kritis pada aspek kesehatan (Sanitas) dan mitigasi risiko fiskal (Sapientia),” jelas Dr. Mantovanny.
Ia memaparkan bahwa data menunjukkan kualitas gizi berada pada angka kritis M=3,09, sementara kesiapan menghadapi risiko fiskal hanya berada pada angka M=2,57. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu segera dibenahi melalui standarisasi nutrisi dan penguatan tata kelola keuangan yang transparan agar lembaga memiliki kemandirian yang kuat.
Lebih lanjut, Mantovanny menegaskan bahwa Seminari Kisol merupakan aset penting bagi Gereja Keuskupan Ruteng sehingga membutuhkan dukungan penuh dari otoritas gerejani.
Ia menyebut penyusunan dokumen Renstra yang mencapai sekitar 300 halaman tersebut sebagai bentuk Discernment Eklesial, yakni tindakan iman Gereja untuk menjaga dan merawat anugerah panggilan.
“Namun, ia memberikan catatan kritis bagi seluruh pihak terkait. Renstra ini hanya akan berhenti menjadi tumpukan dokumen mati dan pajangan di rak buku jika tidak dimaknai secara serius melalui implementasi nyata,” pungkasnya.
Ia berharap siklus transformasi Build, Grow, dan Prove dapat dijalankan secara disiplin sehingga Seminari Kisol mampu melahirkan imam yang cerdas secara digital, matang secara emosional, serta memiliki empati sosial yang kuat di tengah arus disrupsi.
FGD tersebut ditutup dengan komitmen bersama bahwa dokumen Renstra akan segera dipresentasikan di hadapan Kuria Keuskupan Ruteng sebagai langkah akhir menuju pengesahan eklesial dan pelaksanaan program.
Penulis: Isno Baco

