Borong, VoxNTT.com – Memasuki usia tujuh dekade, Seminari Menengah Pius XII Kisol (Sanpio) melakukan lompatan sejarah dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Rencana Strategis (Renstra) periode 2026–2031. Kegiatan tersebut berlangsung di aula seminari di Kisol pada Jumat, 27 Februari 2026.
FGD ini melibatkan tim penyusun Renstra dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.
Mewakili tim penyusun, Marianus Mantovanny Tapung mengatakan forum tersebut menjadi momentum penting untuk merancang masa depan lembaga pendidikan calon imam yang mandiri, profesional, dan relevan dengan tantangan zaman.
Mantovanny mengatakan kualitas capaian Sanpio selama ini tercatat sangat unggul dalam aspek spiritualitas dan intelektual (Sanctitas dan Scientia). Namun, menurut dia, masih terdapat kerentanan pada beberapa aspek lain.
“Namun menunjukkan kerentanan pada aspek kesehatan, gizi, serta tata kelola keuangan (Sanitas dan Sapientia),” kata Manto Tapung sapaan akrabnya kepada VoxNtt.com, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan data menunjukkan adanya titik kritis pada kualitas gizi dengan nilai rata-rata 3,09 dan mitigasi risiko fiskal dengan nilai rata-rata 2,57.
Menanggapi temuan tersebut, kata Manto Tapung, para peserta FGD melakukan pendalaman kelompok terhadap draf dokumen Renstra setebal sekitar 300 halaman yang memuat visi, misi, serta sasaran strategis lembaga.
Forum tersebut juga secara resmi mengonfirmasi gagasan transformasi dari paradigma “Asketisme Konvensional” menuju “Humanis Adaptif”. Paradigma baru ini mengusung visi besar “Sanpio Mandiri Lembaga, Kuat Jiwa Raga, Resilien Panggilan”.
Sejumlah kebijakan strategis yang diperkuat dalam FGD itu antara lain humanisasi infrastruktur, standarisasi gizi seimbang, peningkatan akses air bersih, serta penyediaan layanan kesehatan mental profesional.
Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng, Pater Sebas, dalam arahannya menegaskan, proses tersebut merupakan wujud Discernment Eklesial atau tindakan iman Gereja.
“Perencanaan strategis ini bukan sekadar tugas manajerial, melainkan tanggung jawab rohani untuk memelihara anugerah panggilan di tengah tanda-tanda zaman,” kata Pater Sebas.
Ia menjelaskan setelah melalui fase validasi publik dalam FGD tersebut, dokumen Renstra akan dipresentasikan di hadapan Kuria Keuskupan Ruteng sebagai bagian dari proses pengesahan eklesial.
Melalui siklus transformasi Build, Grow, dan Prove, Sanpio optimistis dapat melahirkan calon imam yang tidak hanya cerdas dan suci.
“Tetapi juga tangguh secara fisik dan matang secara psikososial demi pelayanan kemanusiaan yang lebih luas,” pungkasnya.
Penulis: Isno Baco

