Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Jangan Berteknologi hingga Hilang Kesadaran
Gagasan

Jangan Berteknologi hingga Hilang Kesadaran

By Redaksi17 Mei 20262 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yohanes Mau
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Yohanes Mau

Penikmat masalah sosial. Sedang bertualang di tanah Marapu

Media teknologi yang berseliweran di dunia hari ini hadir untuk membantu manusia menentukan pilihan bukan sebagai penentu pilihan.

Dalam realitas hari ini kita melihat rata- rata warga Indonesia yang bermedia sosial bukan hanya sebagai sarana komunikasi dalam melancarkan segala urusan duniawi namun lebih banyak mengejar target monetisasi.

Padahal tanpa sadar mereka membiarkan diri terjajah habis-habisan oleh teknologi.

Orang berjuang untuk memposting segala sesuatu yang menarik, bahkan yang bersifat privasi sekali pun.

Mengejar target dan menggadekan orisinalitas diri kepada publik tanpa kalkulasi nilai- nilai moral, psikologi, dan humanis demi monetisasi.

Mengapa mesti demikian? Padahal media hadir untuk menolong manusia bukan hadir untuk mengendalikan manusia.

Manusia yang membiarkan diri hanyut dalam tawaran monetisasi adalah manusia yang membiarkan diri hanyut dalam penjara teknologi.

Mengapa saya katakan demikian? Karena segala sesuatu ditentukan oleh kamera dengan tawaran settingan yang ada.

Cara duduk, berdiri, dan aneka gaya lainnya yang terekam dalam kamera. Selanjutnya disajikan, dan publik pun terhipnotis.

Ya, Kita diatur sedemikian rupa untuk seindah, secantik mungkin, dan menarik perhatian  dunia jagad maya.

Padahal yang aslinya tidak seindah yang tersaji dalam foto dan video hasil settingan teknologi hari ini.

Bahkan teknologi dapat mengubah laki- laki bisa jadi perempuan cantik, dan perempuan yang wajahnya kurang cantik pun dipoles, disetting sedemikian rupa sampai cantik melebihi bidadari. Gila kan kerja teknologi hari ini.

Yang ideal berdasarkan orginalitas diatur sedemikian rupa untuk tampil dan nampak lebih elegant dan menarik perhatian publik.

Artinya segala sesuatu bisa ditentukan oleh teknologi, dan manusia pun membiarkan diri ditentukan oleh settingan teknologi hari ini.

Media ada untuk membantu manusia menentukan pilihan bukan sebagai penentu pilihan.

Bukan kita tidak menggunakan teknologi tapi kita menggunakan teknologi dengan kesadaran. Jangan membiarkan teknologi menjajah kita hingga kita hilang kesadaran tetapi kita yang menggunakan teknologi secara sadar untuk menentukan pilihan yang tepat.

Berteknologi itu free will (kehendak bebas) namun bukan membebaskan kita untuk menanggalkan keaslian yang sesungguhnya.

Bagi warga negara yang masih hanyut dalam mengejar monetisasi di media sosial sebaiknya cukupkanlah dirimu.

Yohanes Mau
Previous ArticleProyek Waduk Lambo Terhenti Tiga Bulan, Tokoh Masyarakat Desak Pemda Nagekeo Bertindak
Next Article GAMKI Malaka Resmi Terbentuk, Lorens Haba Pimpin DPC Perdana

Related Posts

Jangan Suapi Kami Jawaban: Gugatan Pemuda atas Pendidikan Tanpa Dialog

24 Juni 2026

Spiritualitas Yohanes Pembaptis: Bertobat Tiap Kali Minum Air, Mandi, Masak, dan Buang Air

24 Juni 2026

Membongkar Mitos ‘Indonesia Barat Sibuk Demo, Indonesia Timur Sibuk Pesta Bola

23 Juni 2026
Terkini

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.