Oleh: Yohanes Mau
Penikmat masalah sosial. Sedang bertualang di tanah Marapu
Media teknologi yang berseliweran di dunia hari ini hadir untuk membantu manusia menentukan pilihan bukan sebagai penentu pilihan.
Dalam realitas hari ini kita melihat rata- rata warga Indonesia yang bermedia sosial bukan hanya sebagai sarana komunikasi dalam melancarkan segala urusan duniawi namun lebih banyak mengejar target monetisasi.
Padahal tanpa sadar mereka membiarkan diri terjajah habis-habisan oleh teknologi.
Orang berjuang untuk memposting segala sesuatu yang menarik, bahkan yang bersifat privasi sekali pun.
Mengejar target dan menggadekan orisinalitas diri kepada publik tanpa kalkulasi nilai- nilai moral, psikologi, dan humanis demi monetisasi.
Mengapa mesti demikian? Padahal media hadir untuk menolong manusia bukan hadir untuk mengendalikan manusia.
Manusia yang membiarkan diri hanyut dalam tawaran monetisasi adalah manusia yang membiarkan diri hanyut dalam penjara teknologi.
Mengapa saya katakan demikian? Karena segala sesuatu ditentukan oleh kamera dengan tawaran settingan yang ada.
Cara duduk, berdiri, dan aneka gaya lainnya yang terekam dalam kamera. Selanjutnya disajikan, dan publik pun terhipnotis.
Ya, Kita diatur sedemikian rupa untuk seindah, secantik mungkin, dan menarik perhatian dunia jagad maya.
Padahal yang aslinya tidak seindah yang tersaji dalam foto dan video hasil settingan teknologi hari ini.
Bahkan teknologi dapat mengubah laki- laki bisa jadi perempuan cantik, dan perempuan yang wajahnya kurang cantik pun dipoles, disetting sedemikian rupa sampai cantik melebihi bidadari. Gila kan kerja teknologi hari ini.
Yang ideal berdasarkan orginalitas diatur sedemikian rupa untuk tampil dan nampak lebih elegant dan menarik perhatian publik.
Artinya segala sesuatu bisa ditentukan oleh teknologi, dan manusia pun membiarkan diri ditentukan oleh settingan teknologi hari ini.
Media ada untuk membantu manusia menentukan pilihan bukan sebagai penentu pilihan.
Bukan kita tidak menggunakan teknologi tapi kita menggunakan teknologi dengan kesadaran. Jangan membiarkan teknologi menjajah kita hingga kita hilang kesadaran tetapi kita yang menggunakan teknologi secara sadar untuk menentukan pilihan yang tepat.
Berteknologi itu free will (kehendak bebas) namun bukan membebaskan kita untuk menanggalkan keaslian yang sesungguhnya.
Bagi warga negara yang masih hanyut dalam mengejar monetisasi di media sosial sebaiknya cukupkanlah dirimu.

