Mbay, VoxNTT.com – Memasuki hari kelima setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, persoalan di sejumlah lokasi pengungsian mulai berkembang. Selain kebutuhan makanan dan tempat tinggal, penyintas menghadapi persoalan kesehatan, relasi antar-pengungsi, hingga tekanan mental.
Di Desa Aeramo, seorang perempuan lanjut usia meninggalkan salah satu kamp pengungsian dengan membawa pakaian dan sejumlah perbekalan. Ia mencari lokasi pengungsian lain untuk menetap bersama suaminya yang menderita stroke.
Kepada VoxNtt.com, perempuan tersebut mengaku tidak tahan mendengar omelan sesama pengungsi. Menurut dia, kondisi suaminya yang membutuhkan perlakuan berbeda selama berada di pengungsian menjadi salah satu penyebab munculnya persoalan tersebut.
Persoalan serupa terjadi di lokasi pengungsian di kawasan perbukitan Desa Marapokot. Sejumlah penyintas dilaporkan meninggalkan tenda setelah seorang bayi yang sebelumnya mengalami demam dan kejang meninggal dunia.
Di Desa Aeramo, penyintas yang sebelumnya bertahan di salah satu tempat ibadah juga mengaku mengalami perlakuan diskriminatif dari pengelola posko. Mereka menilai bantuan kemanusiaan dari donatur yang diperuntukkan bagi pengungsi justru diperebutkan oleh sejumlah pengelola posko untuk kembali didistribusikan kepada pihak lain.
Penyintas tersebut menduga persoalan itu berkaitan dengan kepentingan Pemilihan Kepala Desa setempat. Ia kemudian mengajukan diri untuk pindah bersama tiga kepala keluarga lainnya ke lokasi pengungsian berbeda dan membentuk kelompok baru.
Masa tanggap darurat bencana diperkirakan berlangsung hingga 28 Agustus 2026.
Reporter VoxNtt.com mengunjungi sejumlah lokasi pengungsian pada hari kelima setelah gempa. Dari pemantauan tersebut, persoalan di lokasi pengungsian tidak lagi sebatas pemenuhan kebutuhan dasar.
Sejumlah penyintas mulai menghadapi persoalan solidaritas dan empati, penyakit, kesehatan anak, serta tekanan mental yang berkepanjangan.
Distribusi bantuan dari para donatur juga menjadi salah satu persoalan. Seorang pengungsi yang membantu memasak untuk penyintas lainnya mengaku kecewa setelah tidak memperoleh bantuan karena terlalu lama berada di dapur untuk menyiapkan makanan.
Persoalan kesehatan juga ditemukan di salah satu kamp pengungsian di Desa Aeramo. Seorang anak berusia 11 tahun mengalami masalah kesehatan dan ditemukan muntah-muntah di kawasan pengungsian. Anak tersebut disebut tidak memperoleh pertolongan medis saat ditemukan.
Pada hari yang sama, Iptu Haruna Ismail, Kepala Satuan Samapta Polres Nagekeo, bersama sejumlah anggota polisi dan Kepala Desa Aeramo mendata jumlah serta identitas penyintas gempa di tenda pengungsian.
Haruna mengimbau para pengungsi di RT 02 agar tetap tenang dan berdoa agar kondisi pascabencana segera pulih.
Ia juga mengatakan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo telah mengirimkan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.
Haruna mengatakan kepolisian memahami situasi sulit yang dihadapi masyarakat setelah bencana. Menurut dia, Polri, Polres Nagekeo, dan unsur lainnya akan terus terlibat dalam penanganan bencana serta membantu masyarakat di lokasi pengungsian.
“Kita semua adalah satu keluarga yang sedang menghadapi musibah yang sama. Yang memiliki kelebihan makanan, air, tenaga atau kemampuan lainnya, mari berbagi dengan saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai dalam situasi bencana seperti ini kita justru saling menjauh,” ujar Haruna dengan nada yang meyakinkan.
Menurut Haruna, kebersamaan dan rasa senasib dapat menjaga semangat para penyintas hingga kondisi kembali pulih dan mereka dapat kembali ke rumah.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

