Oleh: Paskalis Patut, OCarm
Ketua JPIC Ordo Karmel Flores
Ketika guncangan gempa bumi melanda tanah Flores, respons kemanusiaan bergerak cepat layaknya refleks alamiah. Solidaritas bangsa Indonesia sungguh nyata dalam masa-masa sulit ini.
Kita patut berbangga atas rasa persaudaraan sebagai satu bangsa—meski terpisah jarak yang jauh, kita begitu dekat dan sigap mengulurkan tangan saat bencana menerpa.
Dari berbagai pelosok Nusantara, kepedulian hadir dalam wujud dana, pengiriman relawan, obat-obatan, hingga kebutuhan pokok lainnya. Tidak hanya itu, perhatian dunia internasional pun tertuju ke bumi Flores yang sedang retak. Masyarakat global hadir menguatkan kita dengan cara yang luar biasa.
Dalam situasi ini, pikiran publik, pemerintah, dan lembaga donor secara intuitif tertuju pada satu hal: krisis logistik. Dalam sekejap, mi instan, beras, selimut, tenda, dan obat-obatan mengalir deras memenuhi posko-posko pengungsian.
Langkah ini tentu tidak salah. Pada fase penyelamatan darurat, urusan perut dan atap perlindungan sementara adalah prioritas utama yang tak bisa ditawar.
Namun, dampak bencana tidak berhenti saat tanah selesai bergetar. Ketika fase tanggap darurat perlahan bergeser menuju pemulihan, kita kerap terjebak dalam euforia pembagian sembako yang tak kunjung usai.
Kita sibuk menghitung jumlah dus mi instan dan tonase beras, tetapi alfa memetakan hal yang jauh lebih mendasar bagi masa depan: nasib pendidikan anak-anak korban bencana.
Pelajaran dari Lapangan: Dari Munde hingga Beiposo
Refleksi ini lahir bukan sekadar dari wacana di atas kertas. Pengalaman saya bersama tim JPIC Ordo Karmel Flores saat menyalurkan bantuan logistik menelusuri 12 titik terdampak—mulai dari Munde di Nagekeo, Mbata di Manggarai Timur, Nangana’e, Merang, Kajong, Tureng, Wangkal, Ojang Lante dan Copu di Reok Barat Manggarai, Lait Kakor di Ruteng, Jong di Manggarai Barat, hingga Beiposo di Bajawa, Ngada—membuka mata kami pada sebuah realitas yang getir.
Di sepanjang jalur penanganan bencana tersebut, kehancuran yang kami temui bukan hanya dinding-dinding beton yang retak atau rumah-rumah yang rata dengan tanah. Ada ancaman tersembunyi yang jauh lebih memprihatinkan, yakni terancam hentinya denyut pendidikan anak-anak sekolah.
Kisah di Ruis, Reok Barat, menjadi salah satu gambaran nyata. Belasan siswa yang menuntut ilmu di SMPN Reo dan SMA Reo harus melarikan diri meluputkan diri saat asrama mereka ambruk. Mereka kembali ke kampung halaman hanya dengan pakaian yang melekat di badan.
Tragisnya, ketika mereka kembali untuk mengais sisa-sisa barang di reruntuhan asrama, seluruh perlengkapan yang tersisa justru raib dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
JPIC Ordo Karmel Flores memang membantu beberapa siswa namun terbatas untuk beberapa siswa saja. Kami meminta maaf jika tangan kami tidak menjangkau semua siswa yang juga sangat membutuhkan.
Ini adalah potret nyata betapa duka bencana berlipat ganda bagi anak-anak sekolah. Kepada siapa lagi mereka harus meminta bantuan untuk membeli seragam, buku, dan perlengkapan belajar, sementara rumah orang tua mereka sendiri telah ambruk? Bayangkan sebuah keluarga yang kini harus bertahan di bawah tenda darurat.
Seluruh tabungan, ternak, hingga aset produktif mereka habis tersedot demi bertahan hidup dan persiapan membangun kembali tempat tinggal.
Di tengah impitan ekonomi yang begitu mencekik, sangat tidak realistis mengharapkan mereka mampu memikirkan biaya SPP, seragam, buku, atau ongkos transportasi sekolah anak-anak mereka.
Tiga Alasan Mengapa Bantuan Pendidikan Sangat Urgen
Pemerintah maupun lembaga swasta yang mengelola dana donasi bencana tidak boleh menghabiskan seluruh dana yang terkumpul hanya untuk pemenuhan fisik jangka pendek.
Mengalokasikan sebagian donasi secara terarah untuk biaya pendidikan anak-anak terdampak berat adalah kewajiban moral dan strategis, atas dasar beberapa pertimbangan mendasar:
Pertama, memutus rantai kerentanan ekonomi pascabencana. Bencana alam kerap menjadi pintu masuk bagi kemiskinan ekstrem baru. Ketika orang tua kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal, pendidikan anak menjadi hal pertama yang dikorbankan.
Tanpa intervensi dana donasi yang terarah untuk biaya sekolah, angka anak putus sekolah (drop out) di wilayah Flores berpotensi melonjak tajam, menciptakan mata rantai kemiskinan baru di masa depan.
Kedua, sekolah sebagai ruang pemulihan trauma (psychosocial support/trauma healing). Bagi seorang anak, gempa bumi adalah peristiwa traumatik yang merenggut rasa aman.
Mengembalikan anak-anak ke ruang kelas bukan sekadar transfer ilmu, melainkan terapi psikososial paling efektif.
Rutinitas belajar, interaksi bersama teman sebaya, dan pendampingan guru memberikan struktur harian yang sangat dibutuhkan anak untuk menyembuhkan luka batin pascabencana.
Ketiga, mengakhiri paradoks oversupply logistik yang mubazir. Pengalaman pengelolaan bencana di berbagai daerah menunjukkan pola berulang: bantuan sembako menumpuk hingga kedaluwarsa di posko pada bulan-bulan pertama, sementara beberapa bulan kemudian anak-anak korban bencana justru terlunta-lunta karena orang tua tidak lagi memiliki modal finansial untuk membiayai sekolah.
Menuju Tata Kelola Donasi yang Lebih Bijak dan Berkeadilan
Kita perlu mengubah paradigma pendataan pascabencana. Selama ini, pemerintah dan lembaga sosial sangat cepat menghitung jumlah bangunan yang rusak dan kalkulasi kerugian material. Sudah saatnya kita menyeimbangkannya dengan pendataan komprehensif terkait anak-anak usia sekolah yang rumah orang tuanya hancur atau terdampak berat.
Lembaga pengelola donasi publik serta pemerintah daerah perlu berani membuat regulasi pemanfaatan dana bantuan secara profetik: menerapkan skema pembagian bantuan yang adil dan tepat sasaran. Dana bencana tidak boleh tersedot seluruhnya untuk pemenuhan logistik semata, melainkan harus disisihkan sebagian untuk dialokasikan secara langsung sebagai Beasiswa Korban Bencana atau Dana Pendampingan Pendidikan bagi anak-anak yang paling membutuhkan.
Dinding rumah yang roboh bisa dibangun kembali seiring berjalannya waktu dan bergulirnya bantuan material. Namun, masa depan seorang anak yang terputus akibat berhenti sekolah adalah kerugian permanen yang tidak akan pernah bisa kita bayar kembali.
Mengalokasikan donasi secara tepat sasaran untuk memastikan anak-anak Flores tetap dapat melanjutkan sekolah adalah bentuk investasi kemanusiaan yang paling bernilai, bermartabat, dan berdampak jangka panjang.

