Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Pendidikan NTT»Padang Savana Diusul Jadi Lokasi Pembangunan Sekolah Rakyat di Manggarai Timur
Pendidikan NTT

Padang Savana Diusul Jadi Lokasi Pembangunan Sekolah Rakyat di Manggarai Timur

By Redaksi10 Mei 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur, Matias Mingga saat diwawancarai VoxNtt.com di ruangan kerjanya (Foto: Berto Davids/VoNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT.com – Padang Savana yang terletak di Nanga Rawa, Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba menjadi salah satu lahan yang diusul Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) untuk pembangunan “Sekolah Rakyat” pada tahun 2025/2026.

Pembangunan sekolah rakyat ini diperuntukan bagi anak-anak di Manggarai Timur yang berasal dari keluarga miskin atau kurang mampu sesuai dengan tujuan utama terobosan baru Presiden Prabowo.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur, Matias Mingga diwawancarai VoxNtt.com, Jumat, 9 Mei 2025, mengatakan lokasi Padang Savana Nanga Rawa tersebut dalam waktu dekat akan disurvei oleh Kementrian Sosial (Kemensos) untuk menindaklanjuti proposal yang diusul.

Menurut Matias, padang savana sudah sangat layak untuk ditetapkan menjadi lokasi sekolah rakyat karena lahannya memenuhi kriteria, baik dari sisi luas maupun legalitas kepemilikan.

Ia menyebut, sebanyak 10 hektare lahan di padang savana yang diusul untuk pembangunan sekolah rakyat dan saat ini pihaknya sedang menunggu tim dari Kemensos untuk melakukan survei.

“Ada kurang lebih 10 ha yang kami sudah ajukan ke pusat, semuanya berstatus lahan bersertifikat, tinggal menunggu persetujuan,” jelas Matias.

Sebelumnya, kata dia, ada satu lahan juga yang sempat diusul ke pemerintah pusat, yakni di Marukure, Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, namun karena luas lahannya tidak mencapai standar yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni sebanyak 5 hektare, maka lahan tersebut dibatalkan.

“Luas lahan di Marukure hanya 4,9 ha, masih belum memenuhi kriteria yang ditetapkan secara nasional, yakni 5 ha, sehingga yang diharapkan hanya padang savana,” ujar Matias.

Secara pribadi ia pun sangat setuju jika Padang Savana Nanga Rawa diusul dan ditetapkan menjadi lokasi pembangunan sekolah rakyat, selain karena luas lahannya mencukupi juga bertujuan membuka daerah isolasi dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Misalnya, perekonomian para nelayan di sekitar pantai Nanga Rawa pasti akan merasakan dampak baik dengan berdirinya sekolah rakyat ini, hasil tangkapan mereka bisa dijual untuk pemenuhan boarding school.

Nantinya, kata Matias, sekolah rakyat ini akan mencakup pendidikan dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Ketiganya akan dilengkapi dengan sistem boarding school guna mendukung efektivitas pembelajaran bagi siswa-siswi, sehingga ke depan daerah isolasi makin terbuka dan peningkatan ekonomi masyarakat sangat bagus.

Matias menambakan bahwa sekolah rakyat ini nantinya dibangun dengan tipe yang sudah ditetapkan dalam desk nasional, yakni tipe kecil 5,7 dan tipe besar 7,6 lengkap dengan fasilitas lapangan bola serta lapangan futsal.

Untuk pembangunannya akan dilakukan sendiri oleh Pemerintah Pusat melalui Kementrian PUPR, daerah hanya menerima produknya saja.

“Semuanya sudah ditetapkan melalui desk nasional, jadi sumber dananya APBN dan proses tender sampai dengan pekerjaannya urusan pemerintah pusat, kita di daerah hanya menerima prodak jadi,” terang Matias.

Secara nasional, Kementerian Sosial menargetkan pembangunan 100 unit Sekolah Rakyat di setiap provinsi di Indonesia. Sedangkan untuk kabupaten/ kota se-Indonesia ditargetkan minimal satu Sekolah Rakyat.

Matias menyebut, sebanyak 53 sekolah direncanakan mulai dibangun pada Juli 2025, akan tetapi Manggarai Timur masih dalam proses.

Apabila prosesnya cepat maka pihaknya akan menunggu jadwal pembangunan.

Ke depan, Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur juga terus berkordinasi dengan Dinas PPO terkait pengadaan tenaga pendidik dan data siswa-siswi yang akan bersekolah.

Dinas Sosial akan memastikan peserta didik benar-benar berasal dari keluarga kurang mampu, sesuai dengan yang ada dalam pendataan secara nasional.

Penulis: Berto Davids

Dinas Sosial Matim Manggarai Timur Matim Padang Savana Sekolah Rakyat di Manggarai Timur
Previous ArticleSurya Paloh Buka Rakerwil NasDem NTT: Serukan Kader Bangun Moralitas Bangsa
Next Article Kejati NTT Tahan Tiga Pejabat PT Jamkrida dalam Kasus Korupsi, Kasus MTN Bank NTT Masih Berlanjut

Related Posts

Seminari Kisol Luncurkan Renstra 2026–2031 untuk Hadapi Tantangan Era VUCA

5 Maret 2026

Renstra 2026–2031 Jadi Momentum Pembenahan Seminari Pius XII Kisol

5 Maret 2026

Seminari Pius XII Kisol Susun Renstra 2026–2031, Fokus pada Penguatan Kesehatan, Gizi, dan Tata Kelola

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.