Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Warga Matim Kecam Kepemimpinan Yoga
HEADLINE

Warga Matim Kecam Kepemimpinan Yoga

By Redaksi26 April 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Yoseph Tote dan Agas Andreas (Yoga), bupati dan wakil bupati Matim
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Kepemimpinan Yoseph Tote dan Agas Andreas (Yoga) di Manggarai Timur (Matim) tinggal setahun lagi akan berakhir.

Beberapa warga Matim pun mengecam kepimpinan Yoga selama dua periode itu. Pasalnya, bupati dan wakil bupati ini masih menyisakan sejumlah tunggakan dalam pembangunan di Matim selama kurang lebih 10 tahun kepemimpinannya.

Epifanus Manto, aktivis muda asal Kecamatan Rana Mese mengaku kesal dan tidak puas dengan kepemimpinan Yoga selama 10 tahun.

Itu terutama karena pembangunan infrastruktur masih jauh dari harapan. Apalagi pemerataan salah satu kebutuhan dasar masyarakat ini tidak maksimal.

Dia menilai banyak jalan rusak di berbagai tempat di Matim. Bahkan, ada beberapa kampung yang masih terisolir.

Selain itu, Epifanus menilai kesejahteraan masyarakat dan sumber daya manusia masyarakat masih jauh dari ekspetasi publik.

Buruknya infrastruktur di Matim tentu berbanding terbalik dengan slogan paket Yoga yakni “Cengka Ciko” (membuka daerah terisolir).

Idealnya, spirit pembangunan ini yakni akses transportasi mesti sampai ke kampung-kampung karena didukung oleh infrastruktur yang memadai.

“Itu semua hanyalah wacana atas retorika belaka. Di mana masyarakat di pelosok daerah masih ingin menangis dan menagih janji,” katanya kepada VoxNtt.com, Selasa, (25/4/2017).

Paulus Jamu, warga Asal Poco Ranaka mengatakan kepemimpinan Yoga seolah seperti penjajah terhadap rakyat kecil. Hal itu karena selama hampir 10 tahun kepemimpinannya belum memuaskan rakyat, terutama di bidang infrastruktur.

“Tagih pajak merata di semua warga desa Matim, tetapi realisasi pembangunan tidak merata. Masih banyak daerah yang terisolasi karena belum disentuh pembangunan. Masih banyak juga masyarakat belum menikmati penerangan listrik dan belum menikmati air bersih,” kata Paul.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan Bupati Matim Yoseph Tote belum berhasil dikonfirmasi VoxNtt.com.

Kendati demikian, data yang dihimpun Yoseph Tote mengklaim pelaksanaan jargon Cengka Ciko sudah berhasil membuka keterisolasian dan keterbelakangan di daerah yang sedang dipimpinnya.

Hal tersebut dikatakan Tote dalam pidato radionya menjelang perayaan HUT RI ke-71, Selasa, 16 Agustus 2016 malam lalu.

Sebagaimana termuat dalam pidato tertulisnya itu, Tote menegaskan di bawah kepemimpinannya jalan dan jembatan telah dibangun di berbagai tempat di Matim.

Menurutnya, dengan telah dibangunkannya jalan dan jembatan oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) Matim mobilitas masyarakat serta arus barang dan jasa jauh lebih lancar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tote juga membeberkan data peningkatan jalan raya. Tahun 2008 di awal-awal kepemimpinan Yoga, misalnya, total jarak keseluruhan jalan di Matim hanya 130,60 Km. Namun, dia membandingkan, hingga kini total jarak keseluruhan jalan di daerah itu sebanyak 1.323,08 Km.

Sementara dari segi jumlah, kata dia, jalan dan jembatan di Matim juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Di awal perencanaan tahun 2008 silam totalnya hanya 190 buah. Namun jumlah jalan dan jembatan merangkat naik hingga tahun 2015 tercatat mencapai 219 buah. (Nansianus Taris/VoN)

Manggarai Timur
Previous ArticleDisebut Bejat dan Bodoh, Warga Loha Macang Pacar Mengamuk di Inspektorat Mabar
Next Article HTI dan Agresi Ideologis

Related Posts

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Jalan Terbelah akibat Tanah Bergerak di Rana Poja Manggarai Timur, Warga Minta Pemerintah Atasi

2 Maret 2026

Viral Warga Meninggal saat Rujukan, Dinas PUPR Matim Akui Akses Jalan Rusak ke Puskesmas Belum Tertangani

27 Februari 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.