Ruteng, VoxNTT.com – Tembok belakang Rumah Sakit (RS) Pratama Reo di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, roboh setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Kondisi itu terlihat saat pemantauan pada Rabu, 18 Maret 2026, dan disebut telah terjadi sekitar tiga pekan terakhir.
Kerusakan tampak parah. Patahan tembok berserakan di tanah di area belakang rumah sakit yang berlokasi di Kelurahan Wangkung tersebut.
Warga Kecamatan Reok, Fransiskus Alsandi Jaya, mengaku prihatin melihat kondisi itu. Ia menilai robohnya tembok tersebut tidak sebanding dengan besarnya anggaran pembangunan rumah sakit.
“Anggaran 41 miliar tetapi temboknya cepat roboh, saya juga kurang paham bagaimana sih perencanaan awalnya. Coba ditelusuri lagi karena ini menyangkut fasilitas kesehatan untuk masyarakat banyak,” ujar Fransiskus.
Ia mempertanyakan kualitas konstruksi, terlebih jika kerusakan hanya dipicu oleh curah hujan tinggi.
“Sangat tidak masuk akal kalau roboh sementara dana pembangunannya besar. Coba tanya PPK tentang penerapan konstruksinya, kita butuh penjelasan,” tandasnya.
Pembangunan RS Pratama Reo diketahui menelan anggaran Rp41.591.345.000. Nilai itu tercantum dalam Surat Kontrak Nomor 10/PPK.BGRS-Dinkes/VI/2022 tertanggal 29 Juni 2022 dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) Nomor 11/PPK.BGRS-Dinkes/VI/2022 tertanggal 1 Juli 2022.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) RS Pratama Reo, Aristo Harmin, mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait robohnya tembok tersebut.
Ia menjelaskan, sejak awal tembok itu tidak dirancang sebagai struktur penahan tanah atau air.
“Perencanaan awalnya memang seperti itu, tembok belakang dibuat pakai bata ringan dan hanya berfungsi sebagai pembatas ruang, bukan sebagai penahan air,” jelas Aristo.
Menurut dia, material bata ringan dipilih untuk mempercepat pengerjaan serta mengurangi beban struktur bangunan.
Meski demikian, Aristo menyatakan tetap memberi perhatian terhadap kerusakan tersebut. Namun, ia menegaskan tanggung jawab perbaikan tidak lagi berada pada kontraktor maupun PPK karena masa pemeliharaan telah berakhir dan proyek telah melewati tahap Final Hand Over (FHO).
“Kami sedang berupaya agar sebisanya diperbaiki. Memang sekarang bukan tanggung jawab kami lagi tetapi kami berusaha agar anggaran perbaikannya ada di APBD perubahan,” tutur Aristo.
Penulis: Berto Davids

