Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Peti Persembahan vs Peti Mati
Gagasan

Peti Persembahan vs Peti Mati

By Redaksi6 Juni 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Inosensius Sutam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Sabtu, 6 Juni  2026, MB IX Tahun A;  2 Tim 4:1-8; Mzm 71: 8-9. 14-15ab.16-17.22; Mrk 12:38-44)

Alam telah menjadi peti persembahan dari Tuhan yang berisi barang-barang yang akan menjadi uang. Alam telah menutupi tubuh kita dengan berbagai keindahan, jangan telanjangkan dia, jangan memberikan peti mati untuknya. Pakailah baju keindahan untuknya, yaitu hati cinta dan tulus.

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

1

Menjadi Pewarta dengan Mempersembahkan Diri

Yang kita cari adalah harga diri. Harga itu diambil dari harga hidup sosial  dan religius dengan mencari panggung dan sentra kehidupan. Menjadikan diri sebagai pusat kehidupan sambil mengambil dan merampas hak sesama dan alam. Inilah peti mati sosial religius menjadi antagonis dari peti persembahan religius yang murni.

2

Wartakan Sabda Allah dengan Darah sebagai Persembahan

Paulus dalam bacaan pertama menyampaikan pesan dan wasiat. (a) Jaminan wasiat adalah Kerajaan Allah dalam diri Yesus Kristus  yang menjadi hakim yang adil atas orang hidup dan mati; (b) Isi wasiat adalah wartakan Sabda Allah: lakukan pekerjaan pewartaan Injil dan tunaikan tugas pelayananmu.

3

(c) syarat-syarat jadi pewarta: (i) siap-sedia selalu baik atau tidak baik waktunya; (ii) berani menyatakan yang salah dan menegur, serta menasihati dengan sabar berdasarkan ajaran yang benar; (iii) kuasai diri dan sabar dalam penderitaan.

4

(d) Paulus membentangkan pengalaman akhirnya: (i) mencurahkan darah sebagai persembahan seperti Kristus; (ii) hidup adalah sebuah pertandingan dengan garis akhirnya adalah kesetiaan memelihara iman dan harapan akan kedatangan Tuhan yang akan memberikan mahkota kebenaran, dan bukan emas dan perak.

5

(e) Tokoh-tokoh dan hal-hal yang mengancam: (i) orang tidak menerima ajaran sehat, membuat guru-guru palsu, dan memuaskan keinginan telinganya. (ii) mereka memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng palsu.

6

Waspada terhadap Kemunafikan, Berilah dengan Kelimphan Hati

Dalam bacaan Injil, Yesus menyampaikan dua pesan utama: (a) waspada terhadap kemunafikan yang ditunjukkan oleh ahli-ahli taurat: (i) membungkus kebusukan hati: dengan doa panjang dan pakaian panjang dan memamerkannya dalam ruang public untuk menerima hormat; (ii) merampas ruang dan rasa hormat public dengan identitas sosial palsu: menduduki tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan; (iii) merampas harta dari yang kecil (para janda). Inilah peti mati sosial dan religius.

7

(b) pesan kedua Yesus berilah hati tulus dan melimpah: (i) memberi banyak dari kelimpahan adalah membeli pujian dari orang lain untuk dirinya. Mereka menjadikan agama sebagai tangga sosial untuk mencari rasa segan dan hormat, dan utang budi. Ini juga peti mati religius. (ii) Janda miskin memberi sedikit dari seluruh kelimpahan hati: persembahan diri untuk Tuhan. Ini peti persembahan yang sejati.

8

Tuhan jadi Pusat Pewartaan, Bukan Diri

Pesan bacaan hari ini untuk kita:
Pertama, jadilah pewarta Sabda Allah dan pelayan sesama  dengan (i) kata-kata dalam pengajaran, dengan keberanian dalam menegur dan menasihati. Tetapi yang paling penting dengan (ii) dengan penguasaan diri dan contoh hidup yang baik; (iii) untuk melawan kepalsuan dan kebusukan dunia ini.

9

Kedua, menjadi pewarta berarti mempersembahkan diri dengan cucuran darah seperti Paulus dan pengosongan diri dari milik seperti janda tadi. Yang diwartakan adalah Sabda Tuhan dan KerajaanNya bukan diri. Tuhan yang menjadi sentral dan diberi hormat bukan diri kita. Jauhkan diri dari identitas sosial yang palsu.

10

Ketiga, dimensi ekologis bacaan hari adalah persembahan, darah, garis akhir, mahkota, pasar, rumah ibadat, tempat, dan peti. Darah, tubuh, rumah ibadat, tempat duduk, baju, dan persembahan kita berasal dari alam. Alam telah menjadi peti persembahan dari Tuhan yang berisi barang-barang yang akan menjadi uang. Alam telah menutupi tubuh kita dengan berbagai keindahan, jangan telanjangkan dia, jangan memberikan peti mati untuknya. Pakailah baju keindahan untuknya, yaitu hati cinta dan tulus.

Ino Sutam Inosensius Sutam
Previous ArticleJejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam
Next Article Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

Related Posts

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

2 Juni 2026

Pancasila Sebagai Identitas Nasional: Menjaga Jiwa Indonesia di Tengah Arus Zaman

1 Juni 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.