Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»PMKRI dan Proyek Kebhinekaan
Gagasan

PMKRI dan Proyek Kebhinekaan

By Redaksi26 Juli 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Wilibaldus Kuntam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Wilibaldus Kuntam

Mantan  Ketua PMKRI Cabang Ruteng, Tenaga Ahli Komisi III DPR RI

Kegiatan Kongres  XXXIV dan MPA XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menyita perhatian publik belakangan ini. Hal ini terbaca di ruang publik media massa dan media sosial.

Tentu saja kegiatan nasional ini tidak bebas dari konteks Indonesia saat ini. Salah satunya adalah kebhinekaan. Berbeda-beda tapi tetapi satu. Satu dalam perbedaan dan beda dalam persatuan.

Sejatinya, kebhinekaan harus dirawat siapapun. Nyatanya tak begitu. Kebhinekaan begitu mahal harganya. Kebhinekaan harus dibayar dengan perjuangan melelahkan, bahkan pertumparan darah dan korban nyawa.

Pasca reformasi, tantangan kebhinekaan begitu banyak. Bolehlah kita ambil contoh fundamentalisme agama. Paham ini punya daya rusak yang besar bagi demokrasi. Semakin kuat gerakan fundamentalisme agama maka semakin rendah mutu demokrasi. Ini sudah terjadi di negara lain. Hemat saya, Indonesia sudah alami hal yang sama. Beberapa riset lembaga nirlaba di dunia membenarkan ini. Maju mundur demokrasi Indonesia selalu berhubungan  dengan kualitas penganut agamanya.

Kembali soal fundamentalisme agama yang saya singgung tadi. Mengapa fundamentalisme agama ditolak? Sebabnya sederhana. Paham ini menolak kebenaran agama yang lain. Padahal setiap agama punya kebenaran masing-masing. Ini bisa dibilang cacat bawaannya. Apa hubungannya dengan demokrasi? Demokrasi adalah paham yang meniscyakan keberagaman. Tanpa keberagaman bukanlah demokrasi dalam arti sesungguhnya. Fundamentalisme agama pun ditolak karena abaikan fakta sejarah. Indonesia memang beragam sedari lahirnya. Kalau bukan beragam bukanlah Indonesia. Soekarno pernah bilang bahwa segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara berkebudayaan yakni dengan tiadanya egoisme agama (Yudi Latif, 2008).

Bangsa ini tentu berbangga punya pendiri bangsa yang nasionalis sejati. Mereka mendesain Indonesia  bukan negara agama. Juga bukan negara sekuler.

Perpaduan keduanya. Itulah pancasila. Meski begitu, kebhinekaan bukanlah proyek sosial yang sudah selesai. Tapi karena setiap “proyek” butuh kesengajaan dan komitmen bersama, maka organisasi apapun mesti terlibat. Di titik ini keberadaan PMKRI semakin relevan.

Identitas Kekatolikan

PMKRI punya semboyan “religio omnio scientiarum anima”. Terjemahannya agama adalah jiwa dari ilmu pengetahuan. Semboyan ini mempertegas identitas PMKRI sebagai organisasi Katolik. Dengan begitu, seluruh visi, misi, orientasi dan perjuangan organisasi mesti berbasis nilai dan ajaran Katolik.

Namun, setiap anggota PMKRI mesti seratus persen Katolik. Itu tak cukup. Anggota PMKRI juga seratus persen Indonesia. Setiap anggota organisasi menjadi Katolik tanpa mengabaikan keindonesiaan dan menjadi Indonesia tanpa meninggalkan Kekatolikan.

Kongres XXXIV dan MPA XXXIII kali ini dibuat di kota Ruteng. Sebuah kota yang kategori termiskin seperti kabupaten lainnya di NTT. Ruteng merupakan kabupaten dengan mayoritas penduduknya beragama Katolik.

Yang saya amati, kota ini hampir tak ada masalah intoleransi. Ini terjadi hampir seluruh kabupaten di NTT. Provinsi ini boleh defisit harta tapi surplus toleransi. Tentu tak salah kalau daerah ini dijuluki kota toleransi di Indonesia. Tapi tak perlu terburu-buru menepuk dada dengan capaian ini. Sebabnya sederhana.

Politik devide et impera warisan Belanda sudah mengakar di Indonesia. Begitu banyak orang yang tak nyaman melihat Indonesia beragam. Mereka tak kuasa menahan benci melihat Indonesia berbeda tapi tetap satu.

Tapi ini semua bisa terjadi jika dan hanya jika PMKRI sendiri tetap satu dalam perbedaan dan beda dalam persatuan. Perbedaan gagasan dan  pilihan selama Kongres dan MPA adalah tanda PMKRI masih hidup. Tanpa itu, organisasi ini segersang pasang pasir dan sedamai kuburan.

PMKRI PMKRI Ruteng Wilibaldus Kuntam
Previous ArticleSTEAMS Membangun Murid Berpikir Bijaksana
Next Article Cak Imin Lantik Sewargading Jadi Ketua DPC PKB Manggarai Barat Periode 2026-2031

Related Posts

Kekerasan Seksual Anak di Sumba Timur: Rumah Tak Lagi Aman

2 September 2026

SBD Peduli Flores: Merawat Persaudaraan di Tengah Duka

1 September 2026

Membangun Ekosistem Sepak Bola Indonesia: Dari Pembinaan Usia Dini menuju Prestasi Dunia

1 September 2026
Terkini

Pegadaian Bantu Renovasi SD Negeri 1 Reo yang Rusak akibat Gempa

5 September 2026

Kasus Kematian Bumil Korban Gempa di Matim, Aktivis Desak Copot Dirut RSUD Borong

4 September 2026

RSUD Borong Klaim Ibu Hamil Minta Maaf ke Nakes, Suami: Itu Omong Kosong

3 September 2026

Edi Hardum Minta Bupati di Flores Tak Monopoli Penyaluran Bantuan Gempa

3 September 2026

Brimob Operasikan Watergen, Hasilkan 950 Liter Air Bersih per Hari untuk Pengungsi Gempa di Reok

3 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.