Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis
Gagasan

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

By Redaksi12 Juli 20264 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Inosensius Sutam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

(Minggu, MB XV, 12 Juli  2026, Tahun A; Yes 55:10-11; Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13.14.;Rm 8:18-23; Mat 13:1-9)

Alam adalah benih Sabda Allah yang telah menghidupkan manusia. Alam telah memberikan salju dan hujan yang menghasilkan air. Namun manusia menebang pohon yang menampung air dan membuang sampah pada sungai. Alam memberi batu agar ia mempunyai pijakan kehendak kuat. Namun manusia justru hatinya membatu terhadap alam.  Mari mengubah hati selembut salju terhadap alam

1

Keterbukaan Hati pada Sang Penabur Kehidupan

Hidup adalah kata-kata, sabda, firman. Seluruh diri seseorang diwakili, digerakkan, dan dikenal lewat  kata-kata dan bahasa ucapan kita. Itu ditunjukkan oleh bacaan hari ini. Sabda Allah itu hendaknya menjadi pedoman dan akar dari kata-kata dan hidup kita. Sehingga ia membebaskan tubuh kita yang hina ini.

2

Kuasa Sabda yang Menciptakan dan Melaksanakan

Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya memberikan perbandingan  alamiah mengenai hujan dan salju yang turun dari langit. (a) Keduanya tidak kembali ke atas sebelum mengairi bumi, menyuburkannya, dan menumbuhkan benih-benih untuk keberlangsungan hidup manusia. (b) Demikian pula dengan Sabda Allah. Sabda yang keluar dari mulut-Nya memiliki [i] daya laksana yang mewujudkan dan [ii] daya cipta.

3

(c) Sabda itu tidak akan kembali kepada Allah dengan sia-sia, melainkan pasti akan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya. (d) Hal ini menegaskan keteguhan janji Allah; (e) kegagalan berbuah tidak pernah terletak pada kualitas benih Sabda, melainkan pada bagaimana bumi (batin manusia) menyerap curahan rahmat tersebut.

4

Sakit Bersalin dan Pembebasan dalam Kemuliaan

Dalam bacaan kedua, Santu Paulus menekankan bahwa (a) karena dosa manusia dan seluruh alam tunduk kepada kesia-siaan; (b) akibatnya manusia dan semesta mengeluh dan menderita sakit. (c) Karena itu manusia dan seluruh alam semesta mengharapkan pembebasan dari perbudakan dan kebinasaan. (d) Jika manusia dan alam bertahan dalam penderitaan, maka mereka akan mengalami kemuliaan.

5

(d) Paulus menekankan kesatuan relasional antara manusia dan alam. Artinya akibat dosa manusia, selain manusia sendiri alam juga menderita. (e)   pemulihan dosa manusia berarti pemulihan keutuhan alam ciptaan (integrity of creation). (f) Penderitaan ekologis sekarang adalah tanggung jawab etis untuk memulihkan ekologi-kosmis, agar semua mengalami kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

6

Tanggung Jawab Merawat Kondisi “Lahan” Hati  untuk Menerima Benih [Sabda]

Dalam Injil Yesus menyampaikan perumpamaan tentang penabur, yang menggambarkan empat tipe respons manusia terhadap Sabda Kerajaan Surga. (a) Di pinggir jalan: menggambarkan hati yang beku dan acuh tak acuh, sehingga si jahat dengan mudah merampas Sabda tersebut. (b) Di tanah berbatu: menunjukkan antusiasme emosional sesaat, namun tanpa akar yang dalam sehingga layu saat badai tantangan datang.

7

(c) Di tengah semak duri: mencerminkan batin yang tercekik oleh kekhawatiran duniawi dan tipu daya kekayaan materi. (d) Di tanah yang baik: mereka yang mendengar, mengerti, memelihara, dan melaksanakannya sehingga berbuah berlipat ganda. Yesus mengingatkan kita bahwa status sebagai “tanah yang baik” membutuhkan proses pengolahan tanah hati yang berkelanjutan dengan disiplin batin yang kuat.

8

Alam adalah benih Sabda Allah

Pesan bacaan hari ini untuk kita
Pertama, benih hidup sabda Allah selalu diberikan kepada kita dan menyapa hidup  seperti hujan, salju, dan penabur yang menyebarkannya. Sabda itu berdaya kuat untuk menciptakan dan melaksanakan. Kita pastikan lahan dan ladang hati, badan, jiwa, dan roh kita siap menerimanya.

9

Kedua, hidup sia-sia yang menghambat pertumbuhan Sabda Allah adalah menempatkan Sabda Allah bukan pada pusat hidup: meminggirkannya (pinggir jalan), tanah berbatu, dan semak duri. Marginalisasi Firman Allah membawa kita pada pinggir jurang.

10

Ketiga, dimensi ekologis bacaan hari ini sangat kental: hujan, salju, langit, bumi, tumbuhan, roti, makhluk, benih, jalan, tanah berbatu, semak duri. Alam adalah benih Sabda Allah yang telah menghidupkan manusia. Alam telah memberikan salju dan hujan yang menghasilkan air. Namun manusia menebang pohon yang menampung air dan membuang sampah pada sungai. Alam memberi batu agar ia mempunyai pijakan kehendak kuat. Namun manusia justru hatinya membatu terhadap alam.  Mari mengubah hati selembut salju terhadap alam.

Ino Sutam Inosensius Sutam
Previous ArticleWilayah Kepulauan MBD dan Kepulauan Alor Berpotensi Jadi Provinsi Sendiri

Related Posts

Apa yang Tersisa dari Manusia Ketika Artificial Intelligence Meniru Segalanya?

11 Juli 2026

Menakar Prioritas NTT: Antara Berburu Pajak Plat Luar dan Menelantarkan Terminal Tipe B

10 Juli 2026

Hidup dalam Roh vs dalam Daging

5 Juli 2026
Terkini

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026

Wilayah Kepulauan MBD dan Kepulauan Alor Berpotensi Jadi Provinsi Sendiri

12 Juli 2026

Apa yang Tersisa dari Manusia Ketika Artificial Intelligence Meniru Segalanya?

11 Juli 2026

IFTK Ledalero Gelar Konser Amal di Kupang, Target Himpun Dana hingga Rp600 Juta untuk Renovasi Biara

10 Juli 2026

Menakar Prioritas NTT: Antara Berburu Pajak Plat Luar dan Menelantarkan Terminal Tipe B

10 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.