Mbay, VoxNTT.com – Pemerintah Kabupaten Nagekeo belum terlihat memberikan penanganan langsung kepada warga yang panik setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi. Hampir empat jam setelah gempa, warga masih bertahan di perbukitan dan lokasi yang lebih tinggi karena khawatir terhadap gempa susulan dan potensi tsunami.
Kepanikan warga terjadi setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan potensi tsunami. Gempa pertama tercatat terjadi pada pukul 06.01 Wita. Tiga menit kemudian, BMKG merilis informasi mengenai potensi tsunami.
Warga merespons peringatan tersebut secara mandiri dengan meninggalkan rumah dan bergerak menuju perbukitan. Pergerakan warga dalam jumlah besar menyebabkan kepadatan dan kekacauan lalu lintas di sejumlah lokasi.
Situasi semakin sulit setelah aliran listrik terputus. Kondisi itu berdampak pada terganggunya jaringan telekomunikasi sehingga warga kesulitan memperoleh informasi mengenai kondisi terkini maupun potensi gempa susulan.
Di tengah kepanikan tersebut, belum terlihat perwakilan pemerintah daerah berada di tengah masyarakat untuk memberikan arahan ataupun informasi mengenai penanganan bencana.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo, Remigius Djago, belum dapat dihubungi.
Berdasarkan pantauan langsung VoxNtt.com, belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat gempa di Kabupaten Nagekeo. Namun, sejumlah warga dilaporkan mengalami luka ringan setelah tertimpa material bangunan yang runtuh.
Hingga kini, warga masih bertahan di dataran tinggi. Mereka berada dalam ketidakpastian mengenai kemungkinan gempa susulan dan bahaya tsunami.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

