Mbay, VoxNTT.com – Pengungsi mandiri dari sejumlah desa di pesisir utara Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, terlantar setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Dua belas jam setelah gempa, sejumlah warga masih bertahan di rumah-rumah warga di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, karena keterbatasan logistik.
Muhammad Toya, tokoh masyarakat Dusun 4, Desa Nangadhero, bersama sejumlah kerabat dan tetangganya bertahan di rumah salah satu warga di RT 2, Desa Aeramo. Mereka mendirikan tenda darurat dengan peralatan tidur seadanya.
“Kami hanya butuh air untuk minum. Terima kasih kepada keluarga yang bersedia tampung kami semua,” ujar Muhammed kepada VoxNtt.com.
Kondisi serupa dialami Musriyati, pengungsi mandiri yang ikut bersama rombongan Toya. Musriyati mengalami cedera pada kaki setelah terjatuh dari rumahnya saat gempa terjadi. Salome, ibunya, hanya bisa mengusap minyak goreng pada bagian yang sakit dengan harapan rasa nyeri anaknya berkurang.
Gempa bumi mengguncang Kabupaten Nagekeo pada pukul 06.01 Wita. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis gempa tersebut berkekuatan 7,7 magnitudo dan berpotensi tsunami.
Namun, warga kesulitan memantau perkembangan informasi bencana secara real time. Jaringan telekomunikasi terganggu setelah terjadi pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
Julaeha, salah satu pengungsi mandiri yang bergabung dengan rombongan tersebut, mengatakan mereka sempat diarahkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo untuk kembali ke rumah.
Namun, gempa susulan yang masih terjadi membuat Julaeha mengurungkan niat pulang. Ia memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian bersama warga lainnya.
Sementara itu, Usman Dudu, Kepala Dusun 4 Desa Nangadhero, meminta aparat keamanan berjaga di kawasan permukiman warga. Permintaan itu disampaikan untuk menjaga harta benda masyarakat yang ditinggalkan saat mengungsi.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

