Ruteng, VoxNTT.com – Sepuluh orang dalam satu keluarga di Desa Golo Mendo, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, berhasil menyelamatkan diri sebelum rumah mereka roboh akibat gempa pada 15 Agustus 2026.
Gempa terjadi sekitar pukul 05.45 WITA. Sebagian anggota keluarga masih tertidur ketika guncangan terjadi.
Yasinta Mareskati Dasan, 12 tahun, siswi kelas VII SMP Fransiskus Xaverius Ruteng, menjadi anggota keluarga pertama yang menyadari gempa. Saat itu, Yasinta sedang berada di dapur bersama adiknya sambil minum kopi.
Melihat rumah mulai bergoyang, Yasinta berteriak membangunkan ibunya, Elfrida Sandria Sanung, dan anggota keluarga lainnya.
“Waktu itu kami masih tidur. Tiba-tiba terjadi guncangan gempa. Anak saya berteriak, ‘Mama… Mama, bangun!’ Akhirnya kami semua lari ke belakang,” ungkap Elfrida Sandria Sanung, salah satu korban, ke awak media pada Jumat, 28 Agustus 2026 sore.
Elfrida mengatakan keluarganya memilih berlari ke bagian belakang rumah. Keputusan tersebut, menurut dia, membuat seluruh anggota keluarga selamat.
“Kami memilih lari ke belakang. Memang kalau kami larinya ke depan, mungkin semuanya tidak akan selamat,” katanya.
Saat tiba di belakang dapur, keluarga tersebut melihat rumah tetangga ikut roboh. Mereka kemudian berlari ke tempat yang dianggap lebih aman.
Tak lama kemudian, rumah yang mereka tempati ikut runtuh bersama tembok gunung di bagian depan dan belakang.
“Pas sampai di belakang dapur, kami lihat rumah sebelah juga rubuh. Akhirnya kami lari ke atas. Saat itu juga kami lihat rumah kami runtuh sekalian, dengan tembok gunung depan dan belakang. Semuanya hancur,” tuturnya.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, keluarga Elfrida mengalami trauma dan belum berani kembali tidur di rumah yang rusak.
“Sekitar jam 05.45 terjadi gempa yang sangat dahsyat. Bisa dibilang, seumur hidup saya, ini gempa yang paling besar yang pernah saya rasakan,” ujarnya.
Untuk sementara, keluarga tersebut menggunakan dapur yang baru dibangun beberapa hari sebelumnya sebagai tempat berlindung. Mereka juga mengungsi ke posko milik tetangga.
“Kami semua trauma. Sampai saat ini masih ada gempa susulan, jadi traumanya masih ada,” katanya.
“Karena trauma, kadang kita tidur di belakang, kadang juga tidur di posko tetangga,” lanjutnya.
Rumah keluarga Elfrida telah didata oleh pemerintah desa bersama dinas terkait. Mereka juga telah menerima bantuan makanan dari pemerintah.
“Sudah ada bantuan makanan dari pemerintah, walaupun sedikit, kami bersyukur sekali,” katanya.
Meski demikian, keluarga tersebut masih membutuhkan sejumlah kebutuhan dasar, terutama terpal untuk tempat berlindung sementara. Mereka khawatir berada di sekitar rumah yang telah rusak dan rumah tetangga yang juga terancam roboh.
“Saat ini kami sangat membutuhkan terpal karena di dapur kami masih takut. Apalagi di belakang ada rumah tetangga yang belum rubuh. Kami takut ada gempa susulan nanti akan rubuh kena kami,” ungkapnya.
Selain terpal, keluarga tersebut membutuhkan makanan dan pakaian. Sebagian pakaian masih tertimbun di dalam rumah yang roboh.
“Yang kami butuhkan sekarang makanan, pakaian juga. Karena pakaian juga masih ada di bawah sini tertimbun. Belum ambil semua,” ujarnya.
Gempa tersebut tidak hanya meruntuhkan rumah keluarga Elfrida, tetapi juga memaksa sepuluh orang di dalamnya meninggalkan tempat tinggal dan bertahan di lokasi pengungsian sementara.
Mereka kini masih menghadapi trauma, ancaman gempa susulan, dan kehilangan tempat tinggal.
Kontributor: Leo Jehatu

