Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Surat Rindu {Antologi Puisi Gab Seran}
Seni dan Budaya

Surat Rindu {Antologi Puisi Gab Seran}

By Redaksi7 Mei 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gab Seran
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Gab Seran

Berjuang atau mati dikutuk

Saya ingin kau tahu,

Bahwa bahtera yang saya nahkodai bisa saja kandas dan karam di sela-sela bibirmu; yang pernah kita sebut selat hantu

Jikalau belum kelar umur kita diakhir senja

Saya akan kembali; dengan bahtera yang sama walau umur tak lagi subur

Sebab dikau; saya lebih suka pada berjuang bukan berbalik menyerah dan mati dikututuk

Malang,

25 April 2017

Surat Rindu

Pada bagian awal suratmu kau tulis dengan tebal tempat-tempat yang akan kita sambangi di musim panas nanti

Judulnya sengaja kau miringkan dengan tinta merah, walau isi suratmu Cuma beberapa huruf yang cukup untuk membangkitkan rindu tertahan

“adakah kau ingat bahwa musim panas akan tiba dalam hitungan detak detik yang kian datang. Mungkinkah kau rindu ketika senja di akhir juli di tepi bibir Pantai Lasiana, tepat di bahu kananmu kurebahkan kepalaku, rasanya nyaman senja itu setenang, sesunyi tanpa bibir mengucap sebait puisi yang mestinya kita dendangkan. Namun, entahlah, kini hanya harapanlah yang tersisa untuk menantikan sekali lagi rebahan di bahu kananmu.

Kembalilah kasihku, disini rindu masih kupeluk untukmu…”

Demikian kau akhiri surat rindumu dengan satu kecupan pada jarak membentang_

Malang,

2017 April 28

Rinduku di Bawah Atap Gereja

Matahari minggu pagi adalah rindu

Rindu burung-burung gereja bernyanyi ria

Walau ada teman yang tak sempat pulang ke bawah atap gereja

Rindu tak pernah mati di hati

Sebab yang mati adalah hati yang tak pernah menangis di atas kertas putih

Hanya saja doaku sebelum senja; selalu memikul harapan yang sama sebelum dekap gelap malam

“Bundaku, biarkanlah rindu ini pulang kembali ke atap rumahMu”_

 

Malang,

2017 April 30

*Gab Seran adalah Mahasiswa IKIP BUDI UTOMO MALANG asal Betun, Kab. Malaka.
No.hp +6282266249247
Facebook: Kaka Geb

Previous ArticleHPI Mabar Respon Persoalan Travel Agen Liar di Labuan Bajo
Next Article Seminari Tinggi Ritapiret Dukung Polri Berantas Radikalisme

Related Posts

Gubernur NTT: Tenun Ikat Bukan Sekadar Kain, Melainkan Identitas Daerah

14 Desember 2025

Bundaran Patung Kristus Raja Kumba Disulap Menjadi Lebih Semarak dan Berkilau di Malam Hari

12 Desember 2025

Sanggar Budaya Manggarai Gelar Pentas Sae, Danding, dan Caci di Kota Kupang

6 Desember 2025
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.