Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Dari Motang Rua NKRI Harga Mati
HEADLINE

Dari Motang Rua NKRI Harga Mati

By Redaksi20 Mei 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Rineldis Maria Anur saat membacakan puisi saat aksi aksi damai merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia di lapangan Motang Rua-Ruteng, Sabtu (20/5/2017) sore (Foto: Adrianus Aba)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 Wita. Suasana sontak menjadi sunyi merinding di tengah keramaian. Yel-yel perjuangan yang sebelumnya berglora sejak pukul 16.00 Wita, perlahan membisu.

Dengan suara serak dan sedikit tinggi, lalu perlahan rendah. Panjang-pendek dan keras-lembutnya suara, ia sungguh jiwai.

Mimik dan gerakan tubuhnya menunjukkan ia sedang berjuang untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perlahan ia turun mengikuti anak tangga dari podium setinggi satu meter itu. Dari lapangan Motang Rua, Ruteng, Kabupaten Manggarai-NTT ia serukan “Kembalikan Indonesia Padaku, NKRI Harga Mati”.

Adalah Rineldis Maria Anur, deklamator yang sempat membuat ribuan orang merinding karena penampilan panggungnya yang memukau.

Rini, begitu nama panggilnya adalah mahasiswi tingkat III, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, STKIP St Paulus Ruteng.

Rini membaca sajak perjuangan keutuhan NKRI di tengah aksi damai merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia di lapangan Motang Rua-Ruteng, Sabtu (20/5/2017) sore.

“Indonesia oh Indonesia, Kau hadir bukan terlahir dari rahimku. Tapi kau lahir dari perjuangan yang tak sedikit korban dari para pejuangmu,” ujar Rini dalam deklamasinya di atas panggung sisi selatan lapangan Motang Rua-Ruteng itu.

Lewat puisinya, wanita asal Kisol-Manggarai Timur itu mengajak para kaum muda dan seluruh bangsa Indonesia untuk menjaga NKRI.

Dia menyadarkan semua orang bahwa keutuhan Indonesia sedang diganggu. Karena itu, bangsa Indonesia mesti berpikir NKRI harga mati.

“Namun, tau kah kau (Indonesia) kali ini, aku ditampar…tertampar oleh banggaku padamu, karena masih ada sebagian orang tak ingin kau tetap kuat dan tangguh melewati hari-hari penuh badai, kebodohan, kepalsuan, dan bahkan penuh kecurangan,” demikian cuplikan puisi Rini.

Kepada VoxNtt.com usai penampilannya, Rini mengaku puisi tersebut ia susun sendiri. Puisi itu merupakan penggabungan dari beberapa kata para penyair terkenal.

Untuk diketahui, aksi damai merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia itu diinisiasi pihak Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Ruteng.

Puluhan elemen dengan jumlah massanya yang bervariasi turut dilibatkan dan memenuhi lapangan Motang Rua Ruteng.

Salah satu acara dalam aksi tersebut adalah pembacaan pernyataan merawatkan Kesatuan, Kebhinekaan, dan Keadilan Indonesia dari anak-anak bangsa di Manggarai Raya.

Pada momen hari kebangkitan nasional, 20 Mei 2017, mereka menyatakan siap membela NKRI yang dibangun dalam persatuan, kebhinekaan, dan keadilan sosial.

Selanjutnya, anak-anak bangsa di Manggarai menyatakan, siap mendukung pemerintahan Joko Widodo dalam membangun Indonesia menjadi rumah bersama yang damai bagi semua suku,agama, dan ras.

“Mendukung pemerintah untuk membubarkan ormas-ormas yang anti Pancasila dan NKRI”

Mereka juga menegaskan akan menolak manipulasi agama demi nafsu kekuasaan politik dan keserakahan ekonomi.

Selain itu, dalam pernyataannya pula anak-anak bangsa di Manggarai mendesak pemerintah, lembaga yudikatif, dan legislatif untuk menegakkan hukum yang benar, jujur, dan adil bagi seluruh warga Indonesia.

“Hal ini harus berlaku juga bagi Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok”. (Adrianus Aba/VoN)

Manggarai
Previous ArticleTubuhmu-Antologi Puisi Febhy Rene
Next Article Niat Gagalkan Pungli, Dokter Pelabuhan Labuan Bajo Nyaris Kena Jotos Atasannya

Related Posts

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

Advokat Publik Nilai Laporan Bupati Manggarai terhadap Edi Hardum Tidak Sesuai Mekanisme UU Pers

3 Juni 2026

Isno Baco Ajak Warga Desa Pinggang Berpolitik “Riang Gembira” pada Pilkades 2026

2 Juni 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.