Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Petani Bawang di TTU Keluhkan Sulitnya Akses Pasar
Ekbis

Petani Bawang di TTU Keluhkan Sulitnya Akses Pasar

By Redaksi1 Desember 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sebagian bawang merah milik petani Desa Tes yang sudah dipacking
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT- Sebanyak 60 petani bawang merah di Desa Tes, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten TTU mengaku sulit mendapatkan akses pasar.

Padahal, selama satu tahun terakhir para petani ini sudah fokus mengembangkan tanaman bawang merah sebagai sandaran ekonomi keluarga mereka.

Ke-60 petani yang tergabung dalam tiga kelompok tani itu sudah mampu memeroduksi bawang merah sebanyak 20 ton pada September 2017 lalu. Ketiga kelompok tersebut yakni, Muda Cerah, Hidup Baru, dan Ek’oni Famili.

Namun, bawang merah milik petani di desa yang berbatasan langsung dengan Distrik Oekusi itu hingga kini belum terjual, lantaran kesulitan akses pasar.

“Ini bawang merah sudah kami panen sejak beberapa bulan lalu namun sampai saat ini belum terjual, kami takutnya beratnya bisa menyusut dan kami bisa merugi karena pengeluaran semua pakai biaya kami sendiri,” ujar Ketua Kelompok Tani Muda Cerah, Leonardus Kaet saat ditemui VoxNtt.com di Sekretariat INTAN TTU di Kefamenanu, Jumat (01/12/2017).

Alumnus Fakultas Pertanian Unimor tersebut menjelaskan, pihaknya mematok harga jual bawang merah yang mereka hasilkan sebesar Rp 25 ribu/kilogram.

Menurut Kaet, harga tersebut sudah dihitung dengan besaran biaya produksi yang dikeluarkan oleh para petani.

“Biaya produksi cukup tinggi, selain itu bawang merah yang kami hasilkan ini juga semuanya organik, jadi dari sisi kesehatan tidak masalah makanya kami pasang harga seperti itu per kilogramnya,” tukas dia.

Kaet menambahkan, selama ini dalam mengembangkan bawang merah tersebut pihaknya sudah cukup banyak dimotivasi oleh kepala Desa Tes, Martinus Tebes.

Karena itu, dia berharap Pemkab TTU bisa membantu para petani untuk mencari pasar agar bawang merah tersebut laku terjual.

“Ini tahun ke-2 kami kembangkan usaha ini, tahun lalu bahkan kami panen simbolis dengan bapak bupati, ini bentuk kami mendukung program Pemerintah TTU, jadi kami berharap dinas terkait bisa membantu kami mencari jalan biar bawang merah yang sudah kami tanam bisa terjual dengan harga yang tidak merugikan kami,” pungkas Taek.

 
Penulis: Eman Tabean
Editor: Adrianus Aba

TTU
Previous ArticleYang Luput di Kisruh Sidang DPRD Manggarai
Next Article Begini Cara Mengatasi Pasar Gelap di Perbatasan RI-RDTL

Related Posts

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.