Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»GMNI Sorot Soal Gaji Buruh dan Guru di Ngada
MAHASISWA

GMNI Sorot Soal Gaji Buruh dan Guru di Ngada

By Redaksi2 Mei 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Anggota GMNI Cabang Ngada sedang berorasi di depan Kantor DPRD (Foto: Dok. GMNI Cabang Ngada)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Bajawa, Vox NTT- Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ngada menggelar aksi unjuk rasa untuk memperingati Hari Buruh Sedunia di Bajawa, Selasa (01/05/2018) kemarin.

Koordinator aksi, Onisius Wuda mengaku pihaknya melakukan demonstrasi sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib buruh di Indonesia umumnya dan di Ngada khususnya.

Sementara dua kader GMNI Cabang Ngada, masing-masing, Mariano Unde dan Maksimilianus Banggar dalam orasinya menegaskan, hasil advokasi mereka ditemukan masih banyak para buruh yang diberi upah jauh di bawah standar upah minimum regional (UMR). Padahal hingga kini dikabarkan UMR di Kabupaten Ngada mencapai Rp 1.250.000 tiap bulannya.

Para buruh ini terutama yang bekerja di seluruh toko yang ada di Kota Bajawa. Sebab itu, GMNI mendesak pemerintah agar segera mengecek gaji buruh tersebut dan diberi upah sesuai UMR.

Tak hanya soal upah buruh, GMNI Cabang Ngada juga menyoroti rendahnya upah guru swasta di Kabupaten yang sedang dipimpin Bupati Marianus Sae itu.

Ketua DPC GMNI Cabang Ngada Benediktus Tengka dalam orasinya di depan Kantor DPRD mengatakan, masih banyak guru honorer yang diberi upah tidak sesuai standar upah minimum provinsi (UMP) NTT. Padahal, UMP NTT tahun 2018 sudah mencapai Rp 1.660.000 per-bulannya.

Karena itu, Benny meminta pemerintah agar tidak hanya memperkerjakan guru dan tenaga kesehatan honorer, tetapi harus memperhatikan upah mereka.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

Ngada
Previous ArticleOknum Anggota DPRD Ende Aniaya Petugas Boarding Bandara di Bali
Next Article Hardiknas di Matim, Penonton Terpukau dengan Atraksi Marching Band Anak PAUD

Related Posts

Hujan Lebat Picu Jalan Nasional Ruteng–Reo Retak dan Nyaris Putus

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026
Terkini

Hujan Lebat Picu Jalan Nasional Ruteng–Reo Retak dan Nyaris Putus

8 Maret 2026

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.