Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Kisah Mama Adel: Ibunda Bocah 15 Tahun yang Butuh Sentuhan Pemda Matim (2)
Feature

Kisah Mama Adel: Ibunda Bocah 15 Tahun yang Butuh Sentuhan Pemda Matim (2)

By Redaksi10 Juni 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Mama Adel tengah memangku Delon putranya (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- Gerimis pun sudah pulas. Senyum sumringah selalu tampak dari wajah Mama Adel. Kisah, Jumat, 31 Mei 2019 masih belum habis.

Sedikit pun Delon tak melempar senyum. Ia masih menutup matanya. Mama Adel pun melanjutkan kisah. Tentang perjuangan, mimpi dan harapan. Ia berusaha melawan lupa tentang massanya. Walau masih membekas. Ia yakin pasti lekas sirna.

Selama merawat Delon, tepat tahun 2012 Mama Adel mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah (Pemda) Manggarai Timur (Matim).

“Saya tahun 2012 dapat Rp 400.000 setiap 3 bulan dari Pemda. Tetapi hanya tahun itu saja selanjutnya sudah tidak lagi,” kenangnya.

Ia pun luput dari kunjungan. Mungkin saja pemda lupa. Atau apa alasannya. Namun, yang pasti Mama Adel hanya mampu mengucapkan terimkasi.

Dua tahun berselang, Mama Adel kembali mendapatkan berkah. Kali ini Delon putranya itu diberi kursi roda oleh pemerintah provinsi NTT. Namun, bantuan itu kini sudah rusak. Tidak lagi terpakai. Mama Adel tak punya uang untuk memperbaikinya. Apalagi membelinya yang baru.

“Bantuan itu kami dapat ketika kami sudah tinggal di Borong, tetapi sudah rusak total,” ucapnya.

Borong beda dengan Rana Kolong. Rana Kolong tempat Mama Adel dilahirkan. Borong tempatnya mengais rezeki. Mendulang rupiah. Menafkai hidup.

Konon, wanita kelahiran 1974 itu harus pulang-pergi Borong-Mesi untuk mengunjungi Delon dan keluarganya di kampung halaman. Kala itu Delon tengah dirawat oleh keluarga di kampung Mesi, Desa Rana Kolong, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

“Saya harus pulang pergi waktu itu, untuk lihat dia apalagi saya usaha ayam di Borong. Jadi saya harus pulang terus,” kisahnya.

Mama Adel harus berjuang. Walau ia harus berutang. Setelah beberapa tahun lamanya ia pun memutuskan untuk pindah ke Borong. Hingga kini ia dan Delon sudah 6 tahun lamanya tinggal di Pasar Borong, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong.

Kebutuhan Sang Buah Hati

Tak ada cara lain bagi janda 48 tahun itu. Ia harus enghalau rintangan dan bui sosial yang terus merasuki pikiran dan hatinya.  Baginya, kebutuhan sang buah hati adalah hal utama.

“Saya berjuang untuk kebutuhan hidup kami, kalau Delon satu hari 3 kali ganti pampers, di hanya makan bubur dan minum susu. Itulah kebutuhan yang paling mendasar selama ini,” ucapnya.

Delon dan Mama Adel dapat kunjungan dari Pankarius Purnama dan VoxNtt.com. (Foto: Sandy Hayon)

Mama Adel sadar akan begitu banyak keterbatasan dalam hidupnya. Ia memiliki mimpi agar usahanya terus berkembang.

Namun, di balik usahanya itu ia butuh sentuhan tangan dari mereka yang memiliki kelebihan dalam hidup. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang dengan caranya telah “menjamah” ia dan sang buah hati.

“Semoga yang telah membantu kami diberi kesehatan dan terima kasih. Semoga Tuhan memberkati perjalanan hidupnya,” imbuhnya.

Baca sebelumnya di sini: Kisah Mama Adel: Ibunda Bocah 15 Tahun yang Butuh Sentuhan Pemda Matim (1)

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

Manggarai Timur
Previous ArticlePemkab TTU Resmi Berhentikan 20 ASN Eks Napi Korupsi
Next Article Genjot TTS Menuju Kabupaten Layak Anak, Ini yang Dilakukan

Related Posts

Hampir Sebulan Jebol, Crosway Wae Musur Hilir Belum Ditangani Pemkab Manggarai Timur

12 Juni 2026

Kasus Dugaan Korupsi Eks Kadis DP3AKB Manggarai Timur Didorong Masuk Ranah Hukum

23 Mei 2026

Warga Rana Mese Titip Harapan Jembatan Permanen di Wae Musur kepada DPRD Matim

22 Mei 2026
Terkini

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.