Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Merasakan ‘Secuil Surga’ di Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya
Feature

Merasakan ‘Secuil Surga’ di Kampung Adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya

By Redaksi7 Agustus 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pengunjung di kampung adat Ratenggaro, desa Maliti Bondo Ate, kecamatan Kodi Bangedo, kabupaten Sumba Barat , berpose dengan latar kampung adat (Foto: Ignas/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Tambolaka, Vox NTT-Semilir angin segar yang bertiup dari lepas pantai Ratenggaro menambah keasrian kampung adat Ratenggaro di desa Maliti Bondo Ate, kecamatan Kodi Bangedo, kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Kampung adat yang indah nan eksotis ini terletak di pesisir pantai dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Saat wartawan VoxNtt.com mengunjungi tempat ini pada Minggu (4/8/2019), beberapa warga begitu antusias menyambut di halaman kampung mereka.

“Pak, selamat datang di kampung kami”, ujar seorang ibu paruh baya sambil berjabatan tangan.

Seorang bapak datang menghampiri dan bersalaman lalu mempersilahkan para wisatawan untuk membaca aturan pada papan yang terpancang di bagian kiri pintu gerbang.

Pada papan itu tertera harga apabila para wisatawan menyewa kuda, sarung dan syal bermotif Sumba untuk berswafoto atau hanya memotret dengan latar belakang kuda, sarung dan rumah adat. Harganya bervariasi, mulai Rp 20000 hingga Rp 50000 per orang.

Pada saat memasuki kawasan perkampungan, VoxNtt.com memilih untuk mengitari perkampungan melalui lorong-lorong yang diapiti oleh rumah adat.

Rumah adat di kampung Ratenggaro memiliki bentuk rumah panggung dengan atap berbentuk menara yang menjulang tinggi mencapai sekitar 15 meter.

Atap rumah terbuat dari bahan dasar jerami dan alang-alang. Selain rumah adat, di sekitar perkampungan terdapat kuburan batu tua. Bentuk kuburan ini menyerupai meja dengan aneka ukuran. Pada dinding kuburan terdapat pahatan dan ukiran.

Hal lain yang turut memberi kesan bagi Ratenggaro sebagai kampung adat yaitu tidak terdengar kebisingan di dalam area perkampungan.

Pada bagian belakang kampung yang hening ini terdapat pantai yang bersih dengair air laut yang bening. Para wisatawan bisa sekaligus menikmati pesona wisata budaya dan wisata pantai yang disempurnakan dengan pasir putih.

Kesunyian kampung Ratenggaro sesekali direnda oleh deburan ombak dari lautan Hindia dan suara anak-anak yang asyik bermain di halaman kampung.

Paket kunjungan ke kampung adat Ratenggaro akan terasa lengkap jika para wisatawan menikmati sensasi menunggang kuda Sandelwood.

Kuda Sandelwood adalah kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di Pulau Sumba. Para wisatawan diperbolehkan untuk berkeliling kampung sambil menunggang kuda.

Banyak wisatawan yang berswafoto di atas kuda sandelwood dengan balutan sarung dan syal motif Sumba. Ada beberapa pilihan untuk latar foto. Pengunjung dapat memilih rumah adat yang berjejer di perkampungan, pasir putih dan lautan atau kuburan batu tua.

Para wisatawan dapat menyewa jasa travel atau membawa kendaraan pribadi apabila ingin berkunjung ke Ratenggaro. Kondisi jalanan cukup baik sampai di Kampung Ratenggaro sehingga bisa dilintasi dengan kendaraan roda dua.

Jarak tempuh sekitar 34 km dengan waktu tempuh 1 jam hingga 1,5 jam dari kota Tambolaka, ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya.

Para pengunjung dapat membeli souvenir khas Sumba di kota Tambolaka. Sejauh ini, souvenir yang ada di Kampung Ratenggaro hanya disewakan kepada pengunjung yang ingin berfoto untuk mengabadikan momen.

Seorang pengunjung dari Manggarai Timur bernama Odes Amin merasa sangat berbahagia bisa bertamasya ke Ratenggaro.

“Pokoknya indah sekali, kak. Di sini saya bisa menikmati pesona wisata yang berbeda dalam satu kawasan. Ada pasir putih beserta laut yang bening,” kata Odes.

“Saya juga terpesona menyaksikan kuburan batu tua dan rumah adat yang menjulang tinggi serta berjejer rapi. Kalau dulu hanya tahu kuburan batu tua zaman megalitikum dalam mata pelajar IPS, sekarang saya menyaksikan sendiri di sini,” sambung Odes.

Odes yang jauh-jauh datang dari Manggarai Timur mengaku merindukan tempat ini. Jika tidak ada aral melintang ia akan kembali dan mengajak teman-temannya mengunjungi pulau Sumba.

“Pokoknya saya suka tempat ini. Indah, asri dan alami. Ratenggaro seperti secuil surga yang bisa disaksikan”, puji Odes.

Penulis: Ignas Sara

Editor: Irvan K

Sumba Barat Daya
Previous ArticleMK Tolak Gugatan Gerindra, Ansy Lema Resmi Duduki Kursi DPR RI
Next Article Breaking News: Gunung Wongge Ende Terbakar

Related Posts

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Kanit TPPO Polda NTT Diduga Dampingi WNA Sosialisasi Penempatan PMI di Sumba

28 Februari 2026

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.