Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Penyandang Disabilitas di Manggarai Ikuti Pelatihan pembuatan Pakan Fermentasi
Regional NTT

Penyandang Disabilitas di Manggarai Ikuti Pelatihan pembuatan Pakan Fermentasi

By Redaksi3 Juni 20233 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sejumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti pelatihan, pembuatan pakan babi fermentasi pada Jumat (2/3/2023).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Sejumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengikuti pelatihan, pembuatan pakan babi fermentasi pada Jumat (2/3/2023). Mereka merupakan warga disabilitas dampingan Yayasan Ayo Indonesia.

Bertempat di Rumah Baca Aksara, Langgo – Ruteng, Manggarai, kegiatan berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Proses pelatihan dimulai dari menyiapkan bahan – bahan berupa hijauan dan dedak. Kemudian dilanjutkan dengan mencacah, menimbang sampai memfermentasi bahan dalam tong.

Selama proses pelatihan, para peserta terlihat antusias. Sama sekali tidak terlihat keterbatasan fisik membatasi mereka dalam berproses.

Saat mencacah dan memproses seluruh bahan, mereka beraktifitas sebagaimana layaknya orang pada umumnya.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Adrianus Kari, penyandang tuna netra, asal Kecamatan Cibal Barat – Manggarai. Tangannya begitu lincah mengiris bahan pakan. Bahkan hasilnya sama seperti irisan orang pada umumnya.

Rupanya, sebelum mengikuti pelatihan pembuatan fermentasi pakan para penyandang disabilitas ini telah aktif beternak babi.

Karena itu dengan adanya pelatihan pembuatan pakan fermentasi, pria yang akrab disapa Adri ini mengaku mendapat pengetahuan baru.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selama ini kan kami mengolah pakan dengan cara yang kurang baik sehingga hasilnya kurang bermutu,” ucap Adri.

Menurutnya sebagai penyandang disabilitas memang diperlukan model-model pengolahan pakan yang lebih praktis tapi tetap menghasilkan pakan berkualitas tinggi.

Peserta lainnya Remigius Mon mengaku sebelum mengikuti pelatihan sempat ingin mencari tempat belajar pengolahan pakan fermentasi.

Sehingga, ketika ada program pelatihan dari Yayasan Indonesia, Remi sangat antusias. Harapannya akan lebih memudahkan Remi dalam beternak babi.

“Selama ini saya beternak dengan apa adanya saja. Semoga ilmu yang sama dapatkan bisa berguna bagi saya setelah pulang dari sini,” tambah Remi.

Dia menambahkan dengan pakan fermentasi diharapkan bisa menghemat biaya dan waktu dalam berternak. Sebab sebagaimana masyarakat pada umumnya penyandang disabilitas ingin berkembang dan mandiri dalam berusaha.

“Kami penyandang disabilitas cukup kesulitan biaya hidup. Semoga ke depan dengan pelatihan ini kami bisa memenuhi biaya hidup sendiri,” ucap Remi.

Sementara itu, project officer Yayasan Ayo Indonesia Jeri Santoso mengatakan penyandang disabilitas cukup kesulitan mengakses pekerjaan formal. Karena itu perlu terobosan melalui usaha-usaha informal termasuk beternak.

Karena itu dengan pelatihan pembuatan pakan diharapkan dapat meminimalisir tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas selama beternak.

“Tujuan pelatihan di antaranya meminimalisir tantangan yang mereka hadapi. Tentu dengan harapan ada peningkatan pendapatan sehingga terbentuknya jaring pengaman khususnya dalam hal mata pencaharian,” ucap Jeri.

Ditambahkan program pelatihan pembuatan pakan fermentasi sendiri merupakan bagian dari program Kelompok usaha dan bisnis inklusif (KUBIK), yang merupakan kerjasama program Yayasan Ayo Indonesia dan NLR Indonesia.

Peserta sendiri dipilih setelah melalui rangkaian proses yang cukup panjang. Dimulai pada tahun 2022 lalu. Melalui program KUBIK dilakukan proses seleksi terhadap 90 penyandang disabilitas. Kemudian mengerucut jadi 50 orang.

Setelah dilakukan studi baseline, salah satu tantangan kurangnya akses ke pelatihan keterampilan dan vokasi.

Pada tahap pengajuan proposal, terpilih 25 penyandang disabilitas untuk mengikuti pendampingan lebih lanjut berupa pengembangan kegiatan wirausaha termasuk beternak babi.

“Setelah proses inisiasi dilanjutkan dengan pendampingan usaha sesuai dengan proposal yang mereka ajukan, salah satunya dengan pembuatan pakan fermentasi,” pungkas Jeri. [*]

 

Manggarai
Previous ArticleKorupsi sebagai Tindakan Pemerasan Masyarakat
Next Article Jangan Banyak Gaya agar Tidak Korupsi

Related Posts

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

Advokat Publik Nilai Laporan Bupati Manggarai terhadap Edi Hardum Tidak Sesuai Mekanisme UU Pers

3 Juni 2026
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.