Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»IMAMM Gelar Diskusi Ilmiah di Pantai Krokowolon Sikka
Regional NTT

IMAMM Gelar Diskusi Ilmiah di Pantai Krokowolon Sikka

By Redaksi28 Maret 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Bapak Mikael Adur, perwakilan dari orang tua Manggarai di Maumere saat sedang memberikan materi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT-Ikatan Mahasiswa Asal Manggarai di Maumere atau biasa dikenal dengan sebutan IMAMM, mengadakan diskusi ilmiah di pantai Krokowolon-Maumere.

Diskusi ini merupakan suatu agenda khusus yang diselipkan oleh panitia untuk mewarnai rangkaian acara utama, yaitu latihan kepemimpinan kader (LKK) untuk anggota baru sekaligus pergantian kepengurusan lama, Sabtu, (25/03/2017).

Pematerinya adalah bapak Mikael Adur yang merupakan perwakilan dari orang tua Manggarai di Maumere. Dalam materi tersebut beliau menegaskan kembali akan pentingnya kebudayaan khususnya budaya “Wuat Wa’i dari sudut pandang Semangat Pendidikan Manggarai”.

Hal positif yang beliau tegaskan dari budaya Wuat wa’i ini adalah, pertama, nilai kebersamaan (ca nai).

Hal itu tidak muncul dengan sendirinya, tetapi melaui kesepakatan bersama (Nai ca anggit tuka ca leleng).  Filosofi ‘ca nai’ ini mengandung spirit yang menjamin kesuksesan cita-cita dari para pelajar.

“Kita (IMAMM) mudah memberikan trobosan baru hanya jika moraitas ca nai ini tetap diabadikan dalam benak” kata Mikael.

Kedua, Nilai Solidraitas, Ada kemauan untuk menolong sesama.  Apa yang kita berikan pada orang lain sangat berarti bagi mereka. Dalam arti, kesuksesan itu akan menjadi media untuk membenahkan masalah sosial yang ada di daerah Manggarai (kole ba roto rombeng atau ba tombo molor)

Sementara tanggung jawab adalah hal terakhir yang menjadi sapu tangan pembasuh letih orang tua.

“Pada dasarnya orang tua tidak menuntut materi yang lain kecuali kesuksesan berupa ijazah sebagai simbol keberhasilan dalam pendidikan”, pungkasnya. (Tedy Ndarung/VoN).

Sikka
Previous ArticleDirektur RS Kota Kupang Beri Penjelasan Soal Pembakaran Sampah Medis
Next Article Mahasiswa Boleng Desak Pemkab Mabar Bantu Petani

Related Posts

Andy Liwun Minta Warga Tanjung Bunga Bersabar, Pekerjaan Jalan Latonliwo–Patisirawalang Tunggu Rekomendasi Tipikor

14 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026
Terkini

Tewas dengan Enam Luka Tembak, Kasus Marselinus Ngala Mesti Jadi Pelajaran Bawaslu

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.