Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Kepada Malam yang Sunyi (Antologi Puisi Klemensia Angur)
Seni dan Budaya

Kepada Malam yang Sunyi (Antologi Puisi Klemensia Angur)

By Redaksi23 April 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
illustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Gaduh di Pulau Kecil

Alangkah rindu akan pulang
Melambai darii balik tangisan sang pejuang
Alangkah rindu akan pulang
Melihat ayah mengasah serpihan bambu menjadi bakul tuk para pelacur dikursi panas
Alangkah rindu akan pulang
Melantun syair meneriakan suara bagi pengemis papa
Alangkah rindu akan pulang
Mendengar kakek di negeri dahulu
Alangkah rindu akan pulang
Membawa si kecil pergi dari kegaduhan kota
Ini tentang pentas yang menjijikan
Aku…kamu…kita…
Ya kita…yang rindu akan pulang
Menutup semua mata yang sedang menyaksikan
Menghentikan langkah yang sebentar lagi masuk dalam perangkap para penyebab gaduh
Kau bersembunyi dibalik Jasmu yang biru yang kau pakai disaat menertawakan pentasmu dan yang kau tanggalkan disaat merayu kaumku..
Mungkin kau tak tahu…
Betapa merah darah leluhurku menyaksikan kota yang kini gaduh..

Ahh….
Sudahi semua ini
Mari merindu untuk pulang

Kepada Malam yang Sunyi

Sebungkus sajak..
Ku kemas dalam bingkisan kata
Kepada pemilik malam
Rindu ini hampir jatuh

Bukan mengeluh,hanya ingin mengaduh
Menyaksikan purnama dari balai desa
Malam yang sunyi..
Ahh…bukan maksudku rindu yang sunyi

Mengapa semua sunyi?
Mengapa hanya mendengar dibalik pintu?
Mengapa kaumku enggan berteriak?
Mengapa kau…Kau yang Dia sebut lekakiku hanya merayap dalam sunyi ini?

Tapi maaf…
Aku pun masuk dalam sunyi yang pekat ini…

Wajah Kaku

Di ujung jalan itu
Aku tertegun melihat wajah yang kini kaku…
Dihina dengan kaki para pemenang (palsu)
Diludahi dengan janji dari mulut si Manis
Dinodai dengan semangat kemunafikan…

Tahukah kau..
Dahulu wajah itu semangat
Dahulu wajah itu hidup kami
Dahulu wajah itu jiwa kami

Tak beranikah kau mengangkat wajah itu lagi…
Kini…kata Ibu wajah itu adalah debu

*Klemensia Angur adalah mahasiswi semester akhir program studi pendidikan matematika STKIP St.Paulus Ruteng dan merupakan anggota komunitas sastra hujan (KSH) Ruteng.
Previous ArticleNegeri Binatang (Antologi Puisi Mikhael Wora)
Next Article Semarak Pelantikan Pengurus OMK Paroki Colol

Related Posts

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026

Festival FEAST di Labuan Bajo Tampilkan Olahan Songkol dan Tapa Kolo

5 Mei 2026

Gubernur NTT: Tenun Ikat Bukan Sekadar Kain, Melainkan Identitas Daerah

14 Desember 2025
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.