Labuan Bajo, VoxNTT.com – Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, menggelar Festival Religi dan Budaya pada 28–30 Mei 2026. Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan keempat ini mengusung tema “Membangun Persekutuan Etnis, Budaya, dan Sosial” dan akan ditutup dengan misa puncak pada Minggu, 31 Mei 2026.
Festival yang berlangsung di kompleks Paroki Santa Familia Wae Nakeng itu dibuka secara meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari umat serta masyarakat. Penampilan drumband SMAS Santa Familia Wae Nakeng menjadi salah satu atraksi yang menyedot perhatian pengunjung yang memadati aula paroki sejak awal acara.
Kegiatan tersebut dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Direktur Puspas Keuskupan Labuan Bajo, serta Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Parekrafbud) Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Selmans.
Selain menjadi wadah penguatan nilai-nilai religius dan budaya, festival ini juga melibatkan 18 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mempromosikan berbagai produk lokal dari wilayah Lembor dan sekitarnya.
Beragam kuliner, kerajinan tangan, dan produk kreatif masyarakat dipamerkan selama festival berlangsung. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni yang melibatkan sekolah-sekolah serta kelompok pencinta seni di Kabupaten Manggarai Barat.
Ketua Panitia Festival Paroki 2026, Selvi Rance, mengatakan festival tersebut merupakan bentuk komitmen bersama untuk membuka ruang keterlibatan bagi seluruh elemen masyarakat.
Menurut dia, Festival Religi dan Budaya Paroki Santa Familia Wae Nakeng selama ini dikenal sebagai ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan, melestarikan budaya lokal, serta menghidupkan nilai-nilai religius di tengah masyarakat.
Ia berharap penyelenggaraan festival tahun ini dapat semakin memperkuat identitas budaya sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi lokal di Manggarai Barat.
Senada dengan itu, Pastor Paroki Santa Familia Wae Nakeng-Lembor, P. Yeremias G. Bero, SVD, menegaskan bahwa festival tersebut lahir dari semangat kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Gereja, pemerintah, masyarakat, kaum muda, hingga pelaku usaha lokal.
Sementara itu, Romo Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, RD. Rikar Mangu, menekankan pentingnya budaya sebagai sarana pemersatu di tengah keberagaman masyarakat.
“Budaya menjadi jembatan yang menyatukan etnis dan sosial. Keberagaman bukan alasan untuk terpisah, tetapi kekuatan untuk saling memperkaya,” ujarnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Parekrafbud Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Selmans, menilai festival tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata, khususnya wisata religi.
“Festival ini dapat menjadi peluang pengembangan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat, khususnya pariwisata religi,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan festival ini, Paroki Santa Familia Wae Nakeng berharap nilai-nilai persaudaraan, budaya, dan religiusitas dapat terus tumbuh di tengah masyarakat sekaligus memberikan dampak positif bagi pengembangan ekonomi dan pariwisata daerah.
Kontributor: Fr. Sasly Jemparut

