Ruteng, VoxNTT.com – Warga Kampung Barang, Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menggelar upacara adat Roko Molas Poco pada Kamis, 11 Juni 2026. Tradisi tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pembangunan rumah adat (mbaru gendang) Gendang Kina Barang dengan mengarak tiang utama atau siri bongkok menuju lokasi pembangunan.
Ratusan warga terlibat dalam prosesi adat yang berlangsung meriah. Arak-arakan diiringi tarian ronda serta tabuhan gong dan gendang sepanjang perjalanan sekitar 100 meter dari ujung kampung menuju natas atau halaman utama Kampung Barang.
Tiang utama sepanjang 3,10 meter dengan berat sekitar 100 kilogram dipikul secara gotong royong oleh warga melewati jalan menanjak hingga tiba di lokasi pembangunan rumah adat.
Ketua Panitia Pembangunan Rumah Gendang Kina Barang, Lucius Ondor mengatakan pembangunan rumah adat tersebut telah melalui sejumlah tahapan adat yang sakral, mulai dari pembongkaran bangunan lama hingga peletakan batu pertama.
“Setelah pembongkaran itu kita buat acara peletakan batu pertama dan Roko Molas Poco ini,” kata Lucius.
Menurut dia, upacara Roko Molas Poco merupakan momen penting karena menjadi simbol penancapan “jantung” rumah adat yang disebut siri bongkok.
Lucius menjelaskan pembangunan rumah adat Gendang Kina Barang mendapat dukungan dana dari Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pariwisata sebesar Rp200 juta. Selain itu, sebanyak 184 kepala keluarga turut berpartisipasi dengan menyumbangkan dana masing-masing Rp300 ribu.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai atas dukungan tersebut.
“Karena kita bersatu, pembangunan Mbaru Gendang ini bisa dimulai,” ujarnya.
Ketua Seksi Adat Pembangunan Rumah Gendang Kina Barang, Maksimus Udin, menjelaskan secara etimologis istilah Roko Molas Poco berasal dari kata roko yang berarti membawa lari, molas yang berarti cantik atau gadis, dan poco yang berarti gunung.
Ia menerangkan bahwa tiang utama yang digunakan dalam rumah adat memiliki bentuk khusus yang disesuaikan dengan karakter rumah adat Manggarai yang berbentuk bulat atau niang.
“Artinya, kayu ini (kayu melintang) tidak terputus (tanpa sambungan, dari depan sampai belakang). Tetapi karena mayoritas gendang (yang baru direnovasi di Manggarai) ini bulat (niang), maka dibuatlah seperti ini,” kata Maksimus.
Dalam kesempatan itu, Maksimus juga mengutip ungkapan leluhur, “porong worok eta golo, pateng wa wae”, sebagai bentuk penghormatan terhadap kayu worok yang pada masa lalu digunakan sebagai tiang utama rumah adat.
Ia menjelaskan bahwa saat ini warga menggunakan kayu nangka sebagai bahan tiang utama rumah adat. Meski demikian, nilai-nilai sakral tetap dipertahankan melalui berbagai ritual adat.
Sebelum kayu ditebang, warga terlebih dahulu mempersembahkan ayam berbulu tiga sebagai simbol permohonan izin kepada roh kayu dan roh tanah atau naga tana. Ritual serupa juga dilakukan sebelum kayu diarak ke kampung melalui persembahan manuk lale dan manuk cepang sebagai penolak bala.
“Tujuannya untuk menolak roh yang mengikuti kayu itu, sehingga Roko Molas Poco berjalan lancar,” kata Maksimus.
Setibanya di kampung, prosesi dilanjutkan dengan upacara tuak curu, mandeng cepa atau sirih pinang, serta tempang pitak sebagai ritual pembersihan menggunakan persembahan ayam putih. Setelah seluruh tahapan selesai, tiang utama ditancapkan di lokasi pembangunan rumah adat.
Maksimus berharap generasi muda tetap menjaga dan melanjutkan warisan budaya Manggarai. Menurut dia, Roko Molas Poco bukan sekadar seremoni, melainkan wujud kearifan lokal dalam menghormati alam, rumah adat, dan kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelestarian budaya Manggarai.
Fabianus menyebut Roko Molas Poco merupakan salah satu tahapan penting dalam pembangunan rumah adat selain ritus peletakan batu pertama dan Congko Lokap.
“Siri Bongkok adalah simbol kekuatan, kesucian, dan pemersatu. Rumah adat ini adalah tempat damai yang menaungi kehidupan bersama,” ujarnya.
Penulis: Isno Baco

