Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Ekbis»Sawah Kering, Petani di Sita Terancam Kehilangan Sumber Hidup
Ekbis

Sawah Kering, Petani di Sita Terancam Kehilangan Sumber Hidup

By Redaksi15 Mei 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Salah satu petani di Sita sedang mengecek kondisi padinya yang sudah mulai kering
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Hampir dua bulan, ratusan sawah milik petani di Wangkung, desa Sita, kecamatan Borong, tidak teraliri air. Akibatnya, sawah yang sudah ditanam padi menjadi kering.

Dominikus Tutu, salah satu petani di Wangkung kepada Voxntt.com, Senin (15/5) mengatakan sudah dua bulan sawah milik petani tidak teraliri air. Tanah sawah sudah kering dan ada retak.

“Sawah kami di sini sudah dua bulan tidak ada air. Padahal ini sumber hidup kami petani di sini. Kali ini kami bisa gagal panen”, kata Domi.

Dikatakannya, apabila ke depan air dari bendungan tetap tidak jalan, petani di sini akan alami kelaparan besar. Padahal petani sudah buang biaya yang banyak sejak tanam benih, bajak, beli pupuk, dan beli obat.

“Petani tahun ini gagal panen berarti, kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah. Itu pun variasi. Ada yang bisa sampai belasan juta rupiah. Tergantung ukuran lahannya” katanya

Lanjut dia, air di saluran irigasi Wae Dingin macet karena longsor menutupi  bendungan dan saluran irigasi.

“Ada longsor di bendungan. Material longsor menutupi saluran. Sehingga air tidak bisa jalan. Longsornya sekitar 30 meter dan tidak bisa dikerjakan pakai tenaga manusia. Karena ada banyak batu besar di sana”, ujar Domi.

Dikatakan Domi, bukan hanya untuk pengairan sawah, air di irigasi ini juga untuk kebutuhan rumah tangga.

“Air di saIuran ini, kami gunakan untuk air minum, mandi, dan cuci pakayan. Sekarang kami di sini, sulit mendapatkan air untuk kebutuhan di rumah”, kata Domi

Harapannya, pemerintah segera memperbaiki dan membersihkan longsor itu. Sehingga, padi yang sudah kami tanam bisa bertumbuh dengan baik dan bisa dipanen. (Taris Nansi/VoN).

Manggarai Timur
Previous ArticleGmnI Kupang Bicara Soal Bahaya Radikalisme dan Efek Kasus Ahok
Next Article Bahaya Radikalisme Bagi Peserta Didik

Related Posts

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

Kompak Indonesia Desak KPK Audit Dugaan Korupsi Proyek RSUD Borong Rp19,4 Miliar

19 Juli 2026

Dugaan Pungli Pengambilan SKL dan Ijazah di SMPN Satap Munde Matim, Warga Desak Dinas Tindak Tegas

18 Juli 2026
Terkini

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.