Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Angka Kematian Bayi Tinggi, Ini Upaya Dinkes TTU
KESEHATAN

Angka Kematian Bayi Tinggi, Ini Upaya Dinkes TTU

By Redaksi21 Juni 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) TTU, Zakarias E Fernandez (Foto: Pos Kupang)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT-Angka kematian bayi yang berumur di atas 28 hari pada tahun 2016 di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tinggi. Tercatat, sebanyak 67 kasus.

Sedangkan bayi yang berumur di bawah 28 hari sebanyak 132 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) TTU Zakarias Fernandez kepada VoxNtt.com di ruang kerjanya, Rabu (21/6/2017)  menjelaskan, selain kematian bayi di tahun 2016 juga terdapat 7 kasus kematian ibu.

“Kalau semester 1 tahun 2017 ini untuk kasus kematian bayi yang umurnya di atas 28 hari baru 14 kasus, kita akan terus berupaya sehingga pada semester 2 ini hanya angkanya harus lebih kecil lagi,” kata Fernandez.

Mantan Dirut RSUD Kefamenanu tersebut mengungkapkan, faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian bayi pada tahun 2016 dipicu masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan selama masa kehamilan.

Selain itu lanjutnya, terkadang ibu hamil yang sudah terdata pun hilang jejak karena pindah tempat tinggal ataupun kembali ke daerah asalnya saat hendak melahirkan.

“Juga kadang kalau sudah mau rujuk, juga masih harus tunggu izin dari pihak keluarga meskipun kondisinya kritis. Sehingga ibu hamil yang hendak melahirkan terlambat ditangani, ini juga kadang menjadi salah satu sebabnya,” tuturnya.

Sebagai upaya pencegahan, kata Fernandes, pihaknya terus memberikan edukasi melalui penyuluhan hingga ke desa-desa.

Selain itu,di setiap puskesmas juga sudah tersedia tenaga medis yang lumayan banyak. Di setiap puskesmas juga tersedia 1 buah mobil ambulance untuk kepentingan rujuk.

“Kita akan terus berbenah agar angka kematian ibu dan bayi bisa terus kita tekan, kami juga mengharapkan dukungan dari semua pihak sehingga apa yang kita harapkan ini bisa terwujud,” pungkasnya. (Eman Tabean/VoN)

TTU
Previous ArticleGugatan PAW Agus Galut Tidak Diterima PN Labuan Bajo
Next Article Desa Bea Ngencung Belum Ada Pemimpin Baru

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.