Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Angka HIV-AIDS di Belu Terus Meningkat, Ini Penyebabnya
Regional NTT

Angka HIV-AIDS di Belu Terus Meningkat, Ini Penyebabnya

By Redaksi6 September 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua KPA Kab Belu. Rofinus Manek, S.Sos, M.Si (Foto: Marcel)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT– Angka penderita HIV-AIDS di Kabupaten Belu terus meningkat sejak tahun 2010 hingga Juni 2017.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Belu, Manek Rofinus ketika ditemui di ruang kerjanya pada Rabu,(6/9/2017).

Rofinus menjelaskan bahwa di semester pertama tahun 2017 angka kasus HIV-AIDS menurun. Tapi kurva secara keseluruhan menunjukan adanya peningkatan jumlah, dimana hingga Juni 2017 terdapat 1.019 kasus. Angka ini  menempatkan Belu menduduki peringkat kedua setelah Kota Kupang.

“Untuk angka kasus, hingga Juni 2017 ada 44 kasus. Ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun secara keseluruhan, kurvanya masih terus meningkat dimana jumlah penederita hingga Juni 2017 ada 1.019 kasus” jelas  Rofinus.

Diakuinya, penyebab utama semakin meningkatnya penederita HIV-AIDS di Belu adalah perilaku seks yang menyimpang dari pasangan yang sudah menikah dimana pereselingkuhan pasca pernikahan juga menjadi pemicu meningkatnya angka penderita.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini juga masih menjadi hambatan utama dalam menekan angka penderita HIV-AIDS.

Untuk melakukan pencegahan, Rofinus menjelaskan bahwa strategi yang digunakan KPA Kabupaten Belu adalah dengan membangun Kelompok Dampingan Sebaya (KDS), dimana orang dengan HIV-AIDS dilibatkan dalam proses membangun kedaran masyarakat.

Diakui Rofinus, tantangan paling berat dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS di Belu adalah sulitnya  membangun kesadaran masyarakat untuk berperilaku seks yang sehat dan masyarakat enggan untuk melakukan pemeriksaan secara dini.

“Paling berat itu kita sadarkan masyarakat dan ajak mereka untuk periksa. Masyarakat kita masih malu untuk melakukan pemeriksaan. Padahal fasilitas sudah tersedia di RUSD dan dapat diakses secara gratis” tuturnya.(Marcel/VoN)

Belu
Previous ArticleKualitas Proyek Bencana Alam Senilai 14 M di Welak Mabar, Dipersoalkan
Next Article Mama Aleta Ajak Warga Wanga dan Patawang Tolak PT.MSM

Related Posts

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026

Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Lahan Diklaim Aset Polri

14 Agustus 2026

DPRD Manggarai Tinjau TPA Ncolang, Minta Pemkab Siapkan Dana Taktis untuk Tangani Keluhan Sampah

13 Agustus 2026
Terkini

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

JPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

1 September 2026

SBD Peduli Flores: Merawat Persaudaraan di Tengah Duka

1 September 2026

Membangun Ekosistem Sepak Bola Indonesia: Dari Pembinaan Usia Dini menuju Prestasi Dunia

1 September 2026

Paulina Jau Meninggal Usai Gempa Susulan M 6,0 di Manggarai Timur

1 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.