Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Penari Reog Ponorogo di TTU Kerasukan
NTT NEWS

Penari Reog Ponorogo di TTU Kerasukan

By Redaksi22 September 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Belasan pria dari etnis Jawa sementara mementaskan tarian Reog Ponorogo pada festival budaya yang digelar untuk memeriahkan HUT Kota Kefamenanu
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kefamenanu,Vox NTT- Tarian Reog Ponorogo mewarnai festival budaya dalam rangka hari ulang tahun kota Kefamenanu ibu kota Kabupaten TTU ke-95, Jumat (22/9/2017).

Tampak sekitar belasan pria mengenakan pakaian serba hitam. Sebagian menunggang kuda lumping dan memegang cambuk.

Mereka dengan semangat membawakan tarian yang berasal dari kota Ponorogo Jawa Timur tersebut.

Saat memainkan tarian tersebut sempat membuat situasi menegangkan.  Penonton tegang lantaran beberapa penari mengalami kerasukan hingga memakan ayam yang masih dalam keadaan hidup.

Para penari yang kerasukan baru bisa ditenangkan setelah dilakukan ritual dan pembacaan doa.

Tokoh masyarakat etnis Jawa, Kiai Muhamad Ismail Marzuki saat diwawancarai VoxNtt.com usai festival menjelaskan tarian Reog t merupakan budaya asli bangsa Indonesia. Kata dia, tarian itu perlu dilestarikan.

Menurut Ketua Nahdatul Ulama Cabang Kefamenanu tersebut, para penari yang mengalami kerasukan menandakan keperibadian mereka lebih menyukai hal-hal bersifat duniawi semata.

“Kesurupan atau dalam istilah Jawa itu sanepan menandakan bahwa penari itu hanya menikmati kesenangan dunia sesaat dalam alunan musik dan tidak mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga dalam tarian tersebut harus ada orang yang mampu kendalikan keadaan,” jelasnya.

Dia berharap agar dengan bertambahnya usia kota Kefamenanu ini, toleransi antar suku budaya dan bangsa, serta agama yang sudah terpelihara sejak dahulu dapat terus terbina demi ketenteraman hidup bersama.

“Jangan pandang suku dan budaya, kita mungkin juga berbeda agama tetapi kita semua bersaudara ,mari kita tetap jaga keharmonisan yang sudah lama terbangun,” pesan Kiai Ismail.

Pantauan media ini, selain tarian Reog Ponorogo festival budaya ini juga diikuti oleh puluhan etnis dari berbagai suku bangsa senusantara yang kini bermukim di kota yang terkenal dengan julukan kota sari tersebut.

Selain etnis budaya, tampak siswa- siswi dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, serta organisasi masyarakat dan juga organisasi bela diri tampak berada di antara barisan peserta festival budaya.

Mereka dilepas mulai dari rumah jabatan bupati TTU hingga berakhir di lapangan Oemanu. (Eman Tabean/AA/ VoN)

TTU
Previous ArticleSerahkan Berkas Korupsi, LMND Ende Minta Kapolres Kirim ke Kapolri Tito
Next Article Distamben NTT Didesak Segera Lelang Batu Mangan PT ERI

Related Posts

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026
Terkini

Gubernur NTT Minta Aparat Penegak Hukum Profesional Usut Kematian Dokter Icha

29 Juni 2026

PT SJA Sosialisasikan Rencana Tambang Mangan di Reok, Warga Kampung Jengkalang Nyatakan Dukungan

29 Juni 2026

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.