Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Gong Waning: Alat Musik Asli Maumere atau Bukan?
Seni dan Budaya

Gong Waning: Alat Musik Asli Maumere atau Bukan?

By Redaksi24 September 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sekelompok anak sedang memainkan gong (foto: Stifan da Gama)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere,VoxNtt.Com- ‘Gong waning’ selama ini telah mendunia sebagai alat musik tradisional asli Maumere.

Perpaduan bunyi beberapa gong, dengan ‘waning anak’ dan ‘waning ina’ serta ‘saur’ yang dibunyikan dengan berbagai irama senantiasa mengiringi tarian-tarian oleh etnik-etnik yang ada di Sikka.

Meskipun demikian, penelusuran VoxNtt.Com menemukan ‘gong waning’ bukanlah merupakan alat musik asli Maumere. 

Tokoh adat asal Doreng, Marselinus Mo’a (67) menyatakan di masa lampau warga tak mengenal gong waning. 

“Seingat saya dulu yang pertama sekali menggunakan gong waning itu orang-orang Hewokloang. Di kampung kami gong waning baru ada sekitar tahun 70-an,” terang Marselus saat ditemui di kediamannya di Kampung Bora, Desa Watumerak, Kecamatan Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka pada Sabtu (16/9/2017) lalu.

Menurut ‘tana pu’an’ Bora tersebut harga gong waning saat itu sulit dijangkau. Selain itu gong waning tidak diproduksi di Maumere. Khususnya gong biasanya didatangkan dari Sumba. 

Jauh sebelum hadirnya gong waning masyarakat di Sikka menggunakan letor. Letor terbuat dari bilahan kayu. 

“Orang tua kami dulu menggunakan letor dan gendang serta ‘teren’ dari bambu,” ungkap Marselinus.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator sanggar budaya ‘Bliran Sina’, Yoseph Gervasius ketika dikonfirmasi media ini pada Selasa (19/9/217) lalu. 

Menurut Gervasius jauh sebelum adanya gong waning masyarakat di Sikka memainkan alat musik yang terbuat dari bilah bambu dengan nada yang sama dengan nada ‘gong waning’ saat ini. 

Alat musik tersebut dinamai ‘wala’. Selanjutnya ‘wala’ dari bambu berganti dengan ‘letor’ yang terbuat dari kayu. Belakangan waraga mulai mengenal gong.

Gervasius menilai ‘gong waning’ saat ini hanya berubah bentuk atau bermetamorfosis dari ‘wala’ dan ‘letor’. Irama lah yang menjadi cirri khas musik tradisional Maumere. 

“Meskipun pakai gong dan waning tetapi iramanya yang dimainkan tetap sama yaitu bladu baba, sora dan leke,” terang Gervasius.

Meskipun demikian, baik Gervasius maupun Marselinus tak membantah bahwa pada masa sekarang gong waning telah dianggap sebagai alat musik asli Maumere. 

Keduanya berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal gong waning tetapi juga letor dan alat musik tradisional lainnya. (Are de Peskim/VoN).

Sikka
Previous ArticleSALT Atambua Bentuk Karakter Anak Melalui Musik
Next Article IKMR Kupang Gelar Rapat

Related Posts

Festival Religi dan Budaya Paroki Wae Nakeng Libatkan 18 UMKM, Dorong Persaudaraan dan Pariwisata Religi

30 Mei 2026

Festival FEAST di Labuan Bajo Tampilkan Olahan Songkol dan Tapa Kolo

5 Mei 2026

Ketua DPW NasDem NTT Lantik Pengurus DPC di 21 Kecamatan se-Kabupaten Sikka

13 Maret 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.