Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Posisi Kaum Muda Itu Oposisi Kritis Bukan Emosional
Regional NTT

Posisi Kaum Muda Itu Oposisi Kritis Bukan Emosional

By Redaksi29 Oktober 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Wilibaldus Kuntam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Momentum Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober menjadi titik refleksi bagi perjalanan pemuda dalam mengisi dinamika negara dan bangsa ini.

Sejarah telah membuktikan bahwa setiap periode waktu maupun pergantian rezim kiprah kaum muda selalu melekat dengan gerakan perubahan.

Pemuda mesti memberikan solusi. Sumpah pemuda 28 oktober 1928 justru dikenang karena pemuda mampu memberikan solusi dalam setiap persoalan bangsa.

Demikian disampaikan Wilibaldus Kuntam, salah satu tokoh muda NTT kepada VoxNtt.com, Minggu (29/10/2017).

“Kaum muda akan mampu membawa perubahan jika rasional, kritis dan visioner” ungkap Kuntam yang sekarang menjadi Staf Ahli DPR RI ini.

Kemajuan pembangunan di berbagai daerah menurutnya hanya bisa tercapai jika ada keterlibatan pemuda.

“Untuk pemuda yang tergabung dalam organisasi cipayung saya berharap untuk menjadi oposisi. Oposisi yang dimaksud adalah sikap berbeda dengan rezim demi kebaikan seluruh masyarakat terutama NTT” tegas Kuntam.

Namun dia menegaskan posisi oposisi kaum muda itu harus rasional dan kritis, bukan oposisi emosional. Artinya menjadi oposisi karena atas dasar pertimbangan objektif.

Lebih jauh dia mengungkapkan pemuda sekarang sedang berhadapan dengan persoalan internal kaum muda sendiri.

“Apatisme sosial adalah contohnya. Pemuda mudah mengabaikan permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Padahal masyarakat membutuhkan kaum muda sebagai agen perubahan” pungkasnya.

Karena itu, dia berharap agar momentum Sumpah Pemuda tidak hanya dijadikan ajang seremonial belaka, tetapi harus menjadi titik refleksi dan evaluasi agar ke depan pemuda dapat menjadi agen perubahan yang sejati.

Kontributor: Andre

Editor: Andre

Kota Kupang
Previous ArticleWaspada, 90,30% Berita Bohong Tersebar di Media Sosial
Next Article Komisi A DPRD Matim Didesak Segera Tuntaskan Kasus Pemecatan Asty Dohu

Related Posts

Pengda INI dan IPPAT Manggarai Barat Sosialisasikan Hukum Pertanahan di Desa Batu Cermin

9 Juli 2026

Pater Gabriel Meo Rayakan 40 Tahun Imamat, Umat dan Pemerintah Hadiri Misa Syukur di Kererobbo

9 Juli 2026

Musda IV Partai Golkar Nagekeo, Jalan Mulus untuk Robby Tulus

5 Juli 2026
Terkini

Pemkab Manggarai Pastikan Kesehatan Peserta MPA PMKRI

18 Juli 2026

Dugaan Pungli Pengambilan SKL dan Ijazah di SMPN Satap Munde Matim, Warga Desak Dinas Tindak Tegas

18 Juli 2026

Rakerprov KONI NTT Matangkan Persiapan PON 2028

18 Juli 2026

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Kebakaran Hanguskan Kantor UPTD BKKBN Boleng, Polisi Selidiki Dugaan Korsleting Listrik

17 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.