Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Saksikan Caci, Guru Asal Manggarai Timur Mengaku Rindu Kampung
Regional NTT

Saksikan Caci, Guru Asal Manggarai Timur Mengaku Rindu Kampung

By Redaksi30 Oktober 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pasukan meka landang (tamu) Caci dari IMAPELMA Ende (Foto: Are de Peskim/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Pertunjukkan caci oleh mahasiswa Manggarai di Lapangan Kota Baru, Maumere pada Sabtu 28 Oktober 2017 lalu membuat Yohanis Panggung rindu pada kampung halamannya.

Menurutnya, caci yang anak-anak muda tersebut mainkan sama dengan caci yang biasa dimainkan di Manggarai.

“Saya ingat kampung, ingat masa muda saat masih di Manggarai,” terang Yohanes kepada VoxNtt.com di sela-sela permainan caci, Sabtu siang.

Yohanis Panggung adalah guru pada salah satu sekolah di Maumere.

Ia sudah bermukim di Maumere selama 27 tahun.

Saat ini Langging dan keluarganya tinggal di Belakang BK3D, Maumere.

Meski sudah lama meninggalkan kampung halamannya, Wukir, Kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur, Langging masih menguasai betul budaya Manggarai.

Pengetahuannya tentang budaya inilah yang membuat IMAMM memintanya melatih para peserta caci.

“Saya dampingi mereka dari awal latihan. Ini sama seperti di Manggarai,” terang Langging.

Ditambahkannya pula caci berasal dari kata ‘ca’ (satu) dan ‘ci’ (uji) yang berarti uji ketangkasan satu lawan satu. Selain mengenakan busana khas caci, para peserta juga menggunakan agang (cambuk) dan nggiling (tameng).

Agang terbuat dari bambu berukuran kecil dengan ujungnya dipasangi kulit kerbau atau sapi sepanjang kurang lebih satu meter.

Sementara itu nggiling berbentuk bulat dan terbuat dari kulit kerbau.

Masing-masing peserta mendapat jatah untuk memukul dan dipukul. Peserta yang siap akan masuk ke gelanggang.

Meskipun demikian ada sejumlah larangan dalam caci.

Peserta dilarang memukul lawan apabila lawan belum siap.

Selain itu dilarang memukul lawan dari belakang dan memukul pada bagian wajah dan kepala.
Penulis: Are de Peskim
Editor: Adrianus Aba

Sikka
Previous ArticleDi Manggarai, Tim Relawan dan Kerja Eston-Christ Akan Dikukuhkan
Next Article Rusak Citra Pariwisata, Sampah Bertebaran Setiap Pintu Masuk Kota Ende

Related Posts

Pengda INI dan IPPAT Manggarai Barat Sosialisasikan Hukum Pertanahan di Desa Batu Cermin

9 Juli 2026

Pater Gabriel Meo Rayakan 40 Tahun Imamat, Umat dan Pemerintah Hadiri Misa Syukur di Kererobbo

9 Juli 2026

Musda IV Partai Golkar Nagekeo, Jalan Mulus untuk Robby Tulus

5 Juli 2026
Terkini

Bupati Matim Dorong Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Manggarai Raya

20 Juli 2026

Bupati Manggarai Harap Kongres PMKRI Hasilkan Rekomendasi untuk Daerah 3T

20 Juli 2026

Bantuan Rp100 Juta per Desa Mulai Diimplementasikan, Bapperida NTT Intervensi Manulai 2

20 Juli 2026

PMKRI Perkuat Komitmen Kawal Pembangunan dan Kebijakan Nasional

20 Juli 2026

Uskup Ruteng: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Krisis Hati Nurani

19 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.