Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Warga Desa Waekoka Terpaksa Konsumsi Air Payau‎
Regional NTT

Warga Desa Waekoka Terpaksa Konsumsi Air Payau‎

By Redaksi14 November 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala Desa Waekoka, Yohanes Samparaja Tonga
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT- Sebanyak 900 warga yang tinggal di Desa Waekoka, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo terpaksa mengonsumsi air payau.

Hal itu disebabkan BLUD SPAM Nagekeo tidak membangun jaringan pipa air bersih ke desa tersebut.

Air payau adalah campuran antara air tawar dan air laut (air asin). Jenis air ini sebenarnya tidak layak dikonsumsi manusia.

“Desa waekoka ada empat dusun. Jumlah penduduk sebanyak 1934 jiwa. Dari 1934 jiwa ada sebanyak 900 jiwa yang konsumsi air sumur yang rasanya payau,” jelas Kepala Desa Waekoka, Yohanes Samparaja Tonga saat ditemui VoxNtt.com di Danga, Selasa (14/11/2017).

Anis- sapaan akrab Yohanes Samparaja Tonga mengatakan, ke-900 jiwa ini tinggal di dusun I dan II Desa Waekoka.

Sedangkan di Dusun III dan IV sudah ada jaringan air bersih milik BLUD SPAM Nagekeo.

Anis mengaku, selain karena tidak ada jaringan pipa awarganya terpaksa mengonsumsi air payau lantaran tidak mampu membeli air yang dijual memakai tangki oleh pengusaha di Mbay.

Harga jual sampai ke Desa Waekoka seharga Rp 60 per fiber yang berukuran 2000 liter.

‎Dia menambahkan, Desa Waekoka dinyatakan definitif sejak tahun 1980-an. Ia terbentuk setelah terpisah dari Desa Mbay II.

Sejak awal didirikan hingga sekarang warga setempat mengalami kesuliatan air bersih.‎

”Kita rata-rata warga tergolong tidak mampu atau miskin. Sehingga mereka tidak mampu membeli air yang jual itu. Sehingga terpaksa warga konsumsi air sumur yang rasanya payau itu,” ujar Anis.

Dikatakan, selama ini memang Pemerintah Kabupaten Nagekeo telah memberikan bantuan berupa pemasangan jaringan air bersih. Namun tidak semua warga mendapat bantuan tersebut.

Karena itu, Anis berharap ada perhatian dari pemerintah untuk memperluas jaringan air minum bagi dua dusun tersebut.

‎
Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

Nagekeo
Previous ArticlePilkada NTT dan Gaung Bisu Kaum Tertinggal
Next Article Ada Botol Bir di Balik Tempat Sampah Kantor Bupati Matim

Related Posts

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026
Terkini

Karya untuk Makan dan Minum dalam Persekutuan Tubuh dan Darah Kristus

7 Juni 2026

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.